TUMBUH KEMBANG DAN PROMOSI PADA ANAK USIA INFANT

 

 

Disusun oleh :

Kelas 4 C

CHAIRUNNISA

DESTY CITRA. R

DEWI ARYANI

LUTVIYAH

 

 

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2019

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Keperawatan Anak I yang berjudul “Tumbuh Kembang Dan Promosi Pada Anak Usia Infant” dengan tepat waktu tanpa halangan apapun. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Keperawatan Anak I.

Kami menyadari sepenuhnya akan kemampuan yang masih terbatas, sehingga banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, masukan, kritik, serta saran yang sifatnya membangun, kami nantikan untuk kesempurnaan makalah ini. Dan dengan ini kami berharap makalah ini dapat memberikan dampak baik bagi kami maupun pembaca.

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………. ii

BAB I       PENDUAHULUAN…………………………………………………………… 1

1.1 LATAR BELAKANG……………………………………………………. 1

1.2 RUMUSAN MASALAH………………………………………………… 1

1.3 TUJUAN………………………………………………………………………. 2

BAB II    TINJAUAN TEORI…………………………………………………………… 3

2.1 DEFENISI…………………………………………………………………….. 3

2.2 PERKEMBANGAN BIOLOGIS…………………………………….. 3

2.3 PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR………………………… 5

2.4 PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS………………………… 5

2.5 PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL………………………………. 6

2.6 PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL…………………………… 3

2.7 PERKEMBANGAN BODY IMAGE……………………………….. 3

2.8 PERKEMBANGAN GENDER DAN IDENTITAS…………… 5

2.9 PERKEMBANGAN SOSIAL…………………………………………. 5

2.10 PERKEMBANGAN BAHASA2……………………………………. 6

2.11 DUKUNGAN ANAK USIA 0-1 TAHUN (INFANT)………. 5

2.12 MASALAH KESEHATAN ANAK USIA 0-1 TAHUN…… 6

BAB III  ASUHAN KEPERAWATAN……………………………………………… 8

3.1 TINJAUAN EVIDANCE BASE PRACTICE DAN

PENDIDIKAN KESEHATAN……………………………………………… 8

BAB IV   PENUTUP………………………………………………………………………. 10

4.1 KESIMPULAN……………………………………………………………. 10

4.1 SARAN………………………………………………………………………. 10

DAFTAR PUSTAKA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • LATAR BELAKANG

Anak merupakan dambaan setiap keluarga. Selain itu setiap keluarga juga mengharapkan anaknya kelak bertumbuh kembang optimal (sehat fisik, mental/kognitif dan sosial), dapat dibanggakan, serta berguna bagi nusa dan bangsa. Sebagai aset bangsa, anak harus mendapat perhatian sejak mereka masih di dalam kandungan sampai mereka menjadi manusia dewasa.

Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang terjadi sejak konsepsi dan terus berlangsung sampai dewasa. Dalam proses mencapai dewasa inilah, anak harus melalui tahap tumbuh kembang. Tercapainya tumbuh kembang optimal tergantung pada potensi biologis. Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan bio, fisikososial, psikososial. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda memberikan ciri yang tersendiri pada setiap anak.

Pengetahuan mengenai dasar-dasar tumbuh kembang anak sangat penting dan harus dikuasi oleh semua tenaga medis. Bila dasar ilmu ini kuat, kita akan sangat mudah mengetahui adanya penyimpangan dan segera dapat menindak lanjuti.

 

  • RUMUSAN MASALAH
  1. Apa Pengertian Pertumbuhan?
  2. Apa Penegertian Perkembangan?
  3. Apa Itu Perkembangan Biologis ?
  4. Apa Perkembangan Motorik Kasar?
  5. Apa Itu Perkembangan Motorik Halus ?
  6. Apa Itu Perkembangan Psikososial ?
  7. Apa Itu Perkembangan Psikoseksual ?
  8. Apa Itu Perkembangan Body Image ?
  9. Apa Itu Perkembangan Gender Identitas ?
  10. Apa Itu Perkembangan Sosial Dan Emosional ?
  11. Apa Itu Perkembangan Bahasa ?
  12. Apa Saja Dukungan Kesehatan Bagi Anak Usia Infart ?
  13. Apa Saja Masalah-Masalah Bagi Anak Usia Infart ?

 

  • TUJUAN

Adapun Tujuan Pembuatan Makalah Ini Adalah Sebagai Berikut:

  1. Untuk Mengetahui Pengertian Pertumbuhan.
  2. Untuk Mengetahui Pengertian Perkembangan.
  3. Untuk Mengetahui Pengertian Perkembangan Biologis.
  4. Untuk Mengetahui Perkembangan Motorik Kasar.
  5. Untuk Mengetahui Perkembangan Motorik Halus.
  6. Untuk Mengetahui Perkembangan Psikososial .
  7. Untuk Mengetahui Perkembangan Psikoseksual.
  8. Untuk Mengetahui Perkembangan Body Image.
  9. Untuk Mengetahui Perkembangan Gender Identitas.
  10. Untuk Mengetahui Perkembangan Sosial Dan Emosional.
  11. Untuk Mengetahui Perkembangan Bahasa.
  12. Untuk Mengetahui Dukungan Kesehatan Bagi Anak Usia Infart.
  13. Untuk Mengetahui Masalah-Masalah Bagi Anak Usia Infart.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

  • DEFINISI

Tumbuh kembang merupakan manifestasi yang kompleks dari perubahan morfologi, biokimia, dan fisiologi yang terjadi sejak konsepsi sampai maturitas/dewasa. Istilah tumbuh kembang mencangkup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Sementara itu, pengertian mengenai pertumbuhan dan perkembangan berdefisi adalah sebagai berikut:

 

  1. Pertumbuhan (growth)

Adalah perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu bertambahnya jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ, maupun individu. Anak tidak hanya bertambah besar secara fisik, melainkan juga ukuran dan struktur organ-organ tubuh dan otak. Sebagai contoh, hasil dari pertumbuhan otak adalah anak mempunyai kapasitas lebih besar untuk belajar, mengingat, dan mempergunakan akalnya. Jadi anak tumbuh baik secara fisik maupun mental. Pertumbuhan fisik dapat dinilai dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang, dan tanda-tanda seks sekunder.

 

  1. Perkembangan (development)

Adalah perubahan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, dalam pola yang teratur dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan/maturitas. Perkembangan menyangkut proses diferensiasi sel tubuh, jaringan, organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan kognitif, bahasa, motorik, emosi, dan perkembangan prilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Perkembangan merupakan perubahan yang bersifat progresif, terarah dan terpadu/koheren. Progresif mengandung arti bahwa perubahan yang terjadi mempunyai arah tertentu dan cenderung maju kedepan, tidak mundur kebelakang. Terarah dan terpadu menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang pasti antara peubahan yang terjadi pada saat ini, sebelumnya, dan berikutnya.

Pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur, sedangkan perkembangan merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar (Whalley dan Wong, 2000).

 

  • PERKEMBANGAN BIOLOGIS

Perubahan fisikdan pencapaian  perkembangannya begitu dramatis  seperti yang terjadi selama masa bayi. Semua sistem tubuh utama mengalami maturasi (kematangangan) progresif dan pada saat yang sama terjadi perkembangan keterempilan sehingga dengan cepat memumgkinkan bayi berespon dan menghadapi lingkungan.Penguasaan keterampilan motorik halus dan kasar  ini terjadi dengan urutan teratur dari kepala ke kaki dan dari pusat ke perifer (sefalokaudal-proksimodistal).

 

  • Perubahan profosional

Pertumbuhan terjadi sangat cepat terutama selama 6 bulan pertama. Bayi memperoleh bertamabah berat badan 150-210 gr (5-7 ons) setiap minggu sampai sekitar usia 5-6 bulan, ketika berat badan lahir paling tidak sudah 2 kali berat badan lahirnya.

Tinggi badan bertamabah 2,5 cm (1 inci) setiap bulan selama 6 bulan pertama dan kemudian melambat sampai 6 bulan ke dua. Tinggi rata-rata badan adalah 65 cm pada 6 bulan dan 74 cm pada 12 bulan. Pada usia 1 tahun Panjang badan bertambah paling tidak 50% dari Panjang lahir.

Pertumbuhan kepala juga cepat. Selama 6 bulan pertama lingkar kepala bertambah sekitar 1,5 cm setiap bulan namun kemudian pertambahannya menurun menjadi hanya 0,5 cm setiap bulan selama 6 bulan ke dua.

Ukuran rata-rata adalah 43 cm pada 6 bulan dan 46 cm pada 12 bulan. Pada usian 1 tahun, ukuran kepala telah meningkat sampai hampir 33%.

Pertambahan ukuran kepala mencerminkan pertumbuhan dan diferensasi sistem saraf. Pada akhir tahun pertama, berat otak telah berkembang sekitar dua setengah kalinya. Maturasi otak diperlihatkan dalam pencapaian perkembangan yang dramaitis selama masa bayi. Reflek primitive diganti dnegan gerakan volunter yang bertujuan, dan muncul reflek baru yang memmengaruhi perkembangan motorik.

Dada memperlihatkan kontur yang lebih dewasa dengan diameter lateral menjadi lebih besar dibandingkan diameter anteroposterior. Lingkar dada kurang lebih sama dengan lingkar kepala pada akhir tahun pertama. Jantung tumbuh kurang cepat dibandingkan sisa bagian tubuh lainnya. Berat jantung biasanya 2 kali berat jantung kahir pada usia 1 tahun dibandingkan berat badan tubuh yang bertambah 3 kali selama periode yang sama. Ukuran jantung masih tetap besar dibandingkan dengan rongga dada, lembar jantung sekitar 55% lebar dada.

 

  • Maturasi system

Sistem organ berubah dan tumbuh selama masa bayi. Kecepatan respirasi melambat dengan alasan yang tidak diketahui dan relative stabil. Beberapa faktor mempredisposisi bayi kemasalah respirasi yang lebih berat dari dan akut. Dekatnya terakhea ke beroncus dan struktur percabangannya dengan cepat menghantarkan agens infeksi dari satu lokasi anatomis ke lokasi lain. Tubaeustachius yang pendek dan lurus berhubungan rapat dengan telinga, sehingga memungkinkan infeksi naik dari faring ke telinga tengah. Atau ketidakmampuan sistem imun untuk menghasilkan imonoglobulin A (IgA) pada lapisan mukosa membiri perlindungan melawan infeksi yang lebih sedikit selama masa bayi dibanding masa kanak-kanak.

Kecepatan jantung melambat dan iramanya sering aritmia sinus (kecepatan bertambah saat inspirasi dan berkurang saat ekspirasi). Tekanan darah juga berubah selama masa bayi, tekanan sistolik meningkat selama 2 bulan pertama akibat peningkatan kemampuan ventrikel kri memompa darah ke sirkulasi sistemik. Tekanan diastolik menurun selama 3 bulan pertama, kemudian bertahap meningkat sampai mendekati nilai tekanan diastolic saat lahir. Fluktuasi tekanan darah terjadi dalam keadaan aktivitas dan emosi.

Perubahan hemopoietik terjadi selama tahun pertama. Hemoglobin fetal ( HgbF) selama 5 bulan pertama, hemoglobin dewasa meningkat secara mantap selama pertengahan pertama masa bayi. HgbF mengakibatkan pendeknya ketahanan hidup sel darah merah (SDM) sehingga menurunkan jumlah SDM akibat umum yang terjadi pada usia 2-3bulan adalah anemia fisiologis. Tingginya kadar HgbF diperkirakan menekan produksi eritropoetin, suatu hormone yang dilepaskan oleh ginjal dan menstimulasi produksi SDM. Anemia fisiologis tidak dipengaruhi oleh pasukan besi yang adekuat. Akan tetapi, bila eritropoiesis terstimulasi, pasokan zat besi diperlukan untuk membentuk hemoglobin.

Proses pencernaan masih imatur saat kelahiran. Saliva hanya disekresi sedikit, sebagian besar proses pencernaan belum berfungsi sampai usia 3 bulan, ketika mengeces umum terjadi akibat jeleknya koordinasi reflek menelan. Enzim ptialin (juga di kenal amilase) sudah ada dalam jumlah kecil namun biasanya hanya mempunyai efek kecil terhadap bahan makanan karena makanan yang tinggal di mulut hanya sebentar. Sekresi enzim pankreas amilase , yang di perlukan untuk pencernaan karbohidrat kompleks, masih kurang sampai sekitar bulan keempat sampai keenam kehidupan. Lipase  juga terbatas, dan bayi belum mencapai kadar absorbs lemak orag dewasa sampai ia berusia 4 sampai 5 bulan. Tripsin di sekresi dalam jumlah yang cukup untuk mengatabolisme protein menjadi polipeptida dan beberapa asam amino.Selama masa bayi lambung membesar untuk mengakomodasi volume makanan yang lebih banyak. Pada akhirnya taun pertama bayi mampu menoleransi 3 kali makan per hari dan sebotol susu di sore hari serta mungkin mengalami satu atau dua kali buang air besar setiap hari. Akan tetapi berbagai jenis iritis lambung menyebabkan bayi sangat rentan terhadap diare, muntah, dan dehidrasi.

Hati merupakan organ gastrointestinal paling imatur spanjang masa bayi. Kemampuan mengonjugasi bilirubin dan menskresi cairan empedu baru tercapai setelah beberapa minggu pertama kehidupan. Akan tetapi, kapasitas untuk gluconeogenesis. Pembentukan protei plasma dan keton, penyimpanan vitamin, dan deadinisasi. Asam amino masih relative imatur selama tahun pertama kehidupan. Maturasi refleks mengulum, mengisap, dan menelan serta erupsi gigi. paralel dengan perubahan dalam saluran gastrointestinal dan mempersiapkan bayi untuk dikenalkan dengan makanan padat.

Sistem imunologis mengalami berbagai perubahan selama tahun pertama. Bayi cukup bulan menerima sejumlah IgG maternal secara bermakna, yang sekitar 3 bulan memberikan imunitas melawan antigen yang pernah dihadapi ibunya. Selama waktu tersebut, bayi mulai mensintesis IgG; sekitar 40% kadar IgG orang dewasa tercapai pada usia 1 tahun. Sejumlah IgM yang signifikan telah diproduksi pada saat lahir, dan kadar IgM orang dewasa tercapai pada usia 9 bulan produksi IgA, IgD dan IgE. Jauh lebih bertahap dan kadar maksimalnya tidak tercapai pada masa kanak-kanak awal.

Selama masa bayi, termoregulasi menjadi lebih efisien; kemampuan kulit untuk berkontraksi dan otot untuk menggigil sebagai respon terhadap dingin mengalami peningkatan. Menggigil (termogenesis) menyebabkan otot dan serabut otot berkontraksi, menghasilkan panas metabolik, yang disebarkan keseluruh tubuh. Peningkatan jaringan adiposa selama 6 bulan pertama melindungi tubuh terhapat kehilangan panas.Terjadi pergeseran cairan tubuh total. Pada saat kelahiran 75% berat badan bayi adalah air, dan terdapat kelebihan cairan ekstra selular (CES). Karena presentasi cairan tubuh berkurang, jumlah CES juga berkurang dari 40% pada saat cukup bulan menjadi 20% pada saat dewasa. Proposi CES yang tinggi, yang tersusun atas plasma darah, kehilangan cairan tubuh total secara lebih cepat dan, pada akhirnya, dehidrasi.

Imaturitas struktur ginjal juga mempredisposisi bayi untuk mengalami dehidrasi. Maturitas ginjal yang sempurna terjadi selama paruh terakhir tahun kedua, ketika epitel kuboid glumerulus menjadi datar. Sebelum waktu tersebut; kemampuan filtrasi glumerulus sangat kecil. Urine sering dikeluarkan dan memiliki berat jenis spesifik yang rendah (1,000 sampai 1,010).

Ketajaman pendengaran sudah berada dalam tingkat dewasa selama masa bayi. Ketajaman penglihatan mulai meningkat, dan fiksasi binokular sudah ditetapkan. Binokularitas, atau fiksasi dua bayangan okular menjadi sebuah gambar serebral (fusi), mulai terbentuk pada usia 6 minggu dan seharusnya sudah terbentuk dengan baik pada usia 4 bulan. Presepsi dalam (stereopsis) mulai berkembang pada usia 7-9 bulan, namun dapat terjadi lebih awal sebagai mekanisme keamanan sejak lahir terhadap jatuh.

 

  • PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
  1. Usia 1 – 4 bulan:

perkembangan motorik kasar memiliki kemampuan mengangkat kepala saat tengkurap, mencoba duduk sebentar dengan di topang, dapat duduk dengan kepala tegak, jatuh terduduk di pangkuan ketika di sokong pada posisi berdiri, kontrol kepala sempurna, mengangkat kepala sambil berbaring terlentang, berguling dari terlentang ke miring, posisi lengan dan tungkai kurang fleksi, dan berusaha untuk merangkak.

  • Mengangkat dan memiringkan kepala kesamping dalam posisi tengkurap
  • Kepala terjatuh kebelakang saat bayi diangkat untuk duduk
  • Punggung melengkung sewaktu didudukkan
  • Naikan kepala dan dada, menahan posisi
  • Meningkatakan kontrol kepala
  • Menaikkan kepala kesudut 45 derajat dalam posisi tengkurap
  • Kepala sedikit terjauh sewaktu ditarik untuk duduk
  • Mengangkat kepala dan melihat sekitarnya
  • Berguling dari tengkurap keterlentang
  • Kepala mengarahkan tubuh saat ditarik untuk duduk

 

  1. Usia 4 – 8 bulan:

Awal bulan ini terjadi perubahan dalam aktivitas seperti posisi telungkup pada alas dan sudah mulai mengangkat kepala dengan melakukan gerakan menekan kedua tangannya dan pada bulan ke empat sudah mampu memaling kan ke kanan dan ke kiri dan sudah mulai terjadi kemampuan dalam duduk dengan kepala tegak, sudah menumpu beban pada kaki dan dada terangkat dan menumpu pada lengan, berayun kedepan dan kebelakang, berguling dari terlentang dan tengkurap dan dapat duduk dengan bantuan selama waktu singkat.

  • Berguling dari terlemtang ketengkurap dan kembali telentang
  • Duduk dengan kepala tegak ketika ditopang
  • Duduk dengan bertumpu pada 3 eksremitas
  • Duduk sendiri dengan sedikit emnggunakan tangan untuk menopang
  • Duduk tanpa di topang

 

  1. Usia 8 – 12 bulan:

Dapat terjadi kemampuan di awali dengan duduk tanpa pegangan, berdiri dengan pegangan, bangkit terus berdiri, berdiri selama 2 detik dan berdiri sendiri.

  • Merangkak, abdomen diangkat dari lantai
  • Menarik diri untuk berdiri, dan menjelajah
  • Duduk dari posisi berdiri dan berjalan secara mandiri

 

  • PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS
  • Usia 1 – 4 bulan:

Dapat melakukan usaha yang bertujuan untuk memegang suatu objek, mengikuti objek dari sisi ke sisi, mencoba memegang benda kedalam mulut, memegang benda tapi terlepas, memperhatikan tangan dan kaki, memegang benda dengan kedua tangan, menahan benda di tangan walaupun hanya sebentar.

  • Tangan seringkali dalam keadaan mengepal
  • Pergerakkan tangan involunter
  • Memgang tangan didepan wajah, tangan membuka
  • Memukul-mukul benda

 

  • Usia 4 – 8 bulan:

Sudah mulai mengamati benda, mulai menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang, mengeksplorasi benda yang sedang di pegang, mengambil objek dengan tangan tertangkup, mampu menahan kedua benda di kedua tangan secara simultan, menggunakan bahu dan tangan sebagai satu kesatuan, memudahkan objek dari satu tangan ke tangan yang lain.

  • Memegang kerincingan
  • Melepaskan benda dari tangan untuk mengambil benda lain
  • Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lain
  • Menjepit secara kasar ( seperti garpu/rakes).

 

  • Usia 8 – 12 bulan:

Mencari atau meraih benda kecil, bila memegang dengan jari dan ibu jari, membenturkannya dan mampu menaruh benda atau kubus ke tempatnya.

  • Membenturkan benda secara bersamaan
  • Menjepit secara halus
  • Menempatkan objek kedalam wadah dan mengeluarkannya
  • Menawarkan benda ke orang lain dan melepaskannya
  • Menyuapi diri sendiri dengan cangkir dan sendok
  • Membuat tanda sederhana dengan kertas
  • Menujuk denga jari telunjuk

 

  • PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL

Pengembangan rasa percaya (Erikson)

Fase 1 Erikson (dari lahir sampai 1 tahun) terfokus pada membentuk rasa percaya ketika mengatasi rasa tidak percaya. Rasa percaya yang berkembang adalah rasa percaya diri, percaya orang lain, dan dunia. Bayi “percaya” bahwa kebutuhan makanan, kenyamanan, rangsangan dan asuhan mereka akan dipenuhi. Elemen krusial untuk pencapaian tugas ini adalah kualitas hubungan orang tua (pemberi asuhan) dan asuhan yang diterima anak bayi dan orang tua harus bekerja sama dalam belajar memnuhi kebutuhan mereka dengan puas sehingga masing-masing memiliki pengaturan mengenai frustasi.

Kegagalan mempelajari “pemuasan lambat” mengakibatkan rasa tidak percaya. Rasa tidak percaya dapat disebabkan oleh frustasi yang terlalu kecil atau terlalu besar. Bila orang tua selalu memnuhi kebutuhan anaknya sebelum anaknya memberi tanda, bayi tidak akan pernah belajar untuk menguji kemampuannya mengontrol lingkungan.

Rasa percaya yang diperoleh selama masa bayi memberi dasar untuk keberhasilan semua fase. Erikson telah membagi tahun pertama kehidupan menjadi 2 tahap oral/sosial. Selama 3-4 bulan pertama asupan makanan adalah aktivitas sosial terpenting yang melibatkan bayi. Bayi baru laahir dapat mentoleransi sedikit rasa atau keterlambatan pemuasan. Narsisme primer (perhatian total hanya pada diri sendiri) sedang pada puncaknya.

Akan tetapi, karena proses tubuh seperti penglihatan, gerakan motorik, dan vokalisasi menjadi lebih terkontrol, bayi menggunakkan prilaku lebih maju untuk berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, selain menangis bayi dapat mengangkat kedua lengannya keatas untuk menunjukkan keinginanya digendong.

Modalitas sosial selanjutnya melibatkan cara meraih orang lain melalui penggenggaman. Menggenggam pada awalnya bersifat refleks, namun meski hanya sebuah refleks, mengenggam memiliki makna sosial yang kuat bagi orang tua. Respons timbal balik dari genggaman anak adalah pelukan dan sentuhan orang tua.

Selama tahap kedua, terjadi modalitas menggigit yang lebih aktif dan agresif. Bayi belajar bahwa merekaa dapat memeluk apapun yang menjadi milik mereka dan lebih dapat mengontrol lingkungan mereka sepenuhnya. Bila bayi mendapat ASI, mereka segera belajar bahwa menggigit menyebaabkan ibu menjadi kecewa dan menarik payudaranya.

Konflik ini dapat diselesaikan melalui berbagai macam cara. Ibu dapat menyapih bayi dari ASI dan memulai memberi susu botol atau bayi dapat belajar menggigit pengganti “puting”, seperti dot, kembali mendapat kepuasan ASI. Penyelesaian komflik yang berhasil ini akan memperkuat hubungan ibu-anak karena terjadi pada saat bayi mengenali ibu sebagai orang yang paling berarti dalam hidupnya.

 

  • PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL

Bayi baru lahir sampai usia 1-1,5 tahun terutama merupakan makhluk biologis pengalamannya hanyalah kenikmatan, kesakitan dan perubahan-perubahan keteganga. Jiwanya hanya dikendalikan oleh identitas karenaa ego dan suprego belum ada.Dalam yang pertama ini pusat kenikmatan bayi adalah mulut. Sumber kenikmatannya adalah menghisap makanan dan benda-benda lain. Pada tahap ini masih tergantung sekali pada lingkungannya. Demikian tergantungnya sehingga ia belum bisa membedakan diirinya sendiri dari realitas diluar dirinya. Baru setelah sering terbentur pada realitas bayi itu membentuk egonya.

Bagian pertama dari tingkat oral ini disebut sepenuhnya peresapan oral (complete oral incoporation), periode ini berlangsung sampai bayi berumur 4 sampai 8 bulan, dimana mulai tumbuh benih-benih kepercayaan dan cinta pada objek yang dikenal pertama kali, yaitu ibunya atau tokoh ibu. Bagian kedua disebut “sadisme oral” dimana bayi mulai bisa memamah dan menggigit. Pada bayi timbul ambivalensi antara menghisap dan menggigit, antara cinta dan agresif. Pada bagian kedua dari tingkat oral inilah mulai tumbuh agresifitas untuk selanjutnya perkembangan emosi cinta dan benci.

Selanjutnya dalam awal pertumbuhan ego yang terjadi pada tingkat sadisme oral ini terbentuk 6 mekanisme dasar, yaitu :

  1. Introjeksi
  2. Identifikasi primer
  3. Proyeksi
  4. Fiksasi
  5. Regresi
  6. Penolakan

 

  • PERKEMBANGAN BODY IMAGE

Perkembangan citra tubuh sejajar dengan perkembangan sensorimotor. Pengalaman kinestetik dan taktil bayi adalah persepsi tubuh mereka yang pertama, dan mulut merupakan daerah utama sensasi yang menyenangkan. Bagaian lain dari tubuh merupakan objek kesenangan utama adalah tangan dan jari untuk di hisap dan kaki untuk di mainkan. Karena kebutuhan fisik telah terpenuhi, bayi merasa nyaman dan puas dengan tubuh mereka. Pesn yang di sampaikan oleh pemberi asuhan memperkuat perasaan ini. Misalnya, ketika bayi tersenyum, mereka menerima kepuasan emosional dari orang lain yang membalas senyumannnya.

Menerima konsep keberadaan objek adalah dasar pembentukkan citra diri. Pada akhir tahun pertama bayi mulai menyadari bahwa mereka berbeda dengan orangtuanya. Pada saaat yang sam, terdapat peningkatan ketertarikan terhadap bayangan mereka sendiri, terutama di cermin. Pada saat keterampilan motoric terbentuk, bayi mempelajari bahwa bagian badan mereka berguna; misalnya, tangan dapat membawa benda ke mulut, dan tungkai membantu mereka bergerak ke lokasi yang berbeda. Semua pencapaian ini menyampaikan pesan kepada mereka mengenai dirinya sendiri. Oleh karena itu, penting untuk menyampaikan pesan positif kepada bayi mengenai tubuh mereka.

 

  • PERKEMBANGAN GENDER DAN IDENTITAS

Identitas gender merupakan suatu konsep diri individu tentang keadaan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan atau bukan keduanya yang dirasakan dan diyakini secara pribadi oleh individu. Identitas gender ini ditampilkan individu dalam bentuk kepribadian dan prilakunya, yang mengarahkan individu tersebut bagaimana perilaku yang seharusnya ia tampilkan sebagai laki-laki atau perempuan.

Pembentukan identitas gender ini dipengaruhi oleh lingkungan oleh lingkungan sekitarnya, begitu bayi lahir langsung memiliki identitas gender. Diberikan baju dan mainan tertentu. Selaijn itu respon orang dewasa terhadap anak laki-laki dan perempuan berebda tergantung pada cara dia dibesarkan dan gaya mengasuh anak. Ketika anak tumbuh, ia menyatukan informasi dari masyarakat dan dari persepsi tentang dirinya untuk membangun identitas gender.

Penanaman identitas gender pada bayi dimulai dengan adanya perlakuan ibu atau ayah yang berbeda, misalnya bayi perempuan cenderung diajak berbicara lebih banyak daripada bayi laki-lai, semestara ayah lebih banyak melakukan aktivitas motori pada bayi laki-laki daripada pada bayi perempuan, misalnya dengan mengangkat dan menjunjung bayi keatas.

 

  • PERKEMBANGAN SOSIAL

Pekembangan sosial bayi pada awalnya dipengaruhi oleh prilaku refleksinya, seperti mengenggam, dan pada akhirnya tergantung terutama pada interaksi antara mereka dengan pemberian asuhan utama. Klekatan pada orangtua semakin nyata selama paru ke dua tahun pertama. Selain itu, kemajuan berarti terjadi dalam komunikasi dan prilaku sosial. Menangis dan prilaku refleksif adalah metode untuk memenuhi kebutuhan bayi dalam periode neonatal dan senyum sosial merupakan langakah awal dalam komunikasi social. Ini memiliki efek mendalam pada anggota keluarga dan merupakan stimulus yangdahsyat untuk membangkitkan respon berkelanjutan dari orang lain. Pada usia 4 bulan bayi dapat tertawa keras.

Bermain adalah agen sosialisasi utama dan memberikan stimulasi yang diperlukan untuk belajar dan berinteraksi dengan lingkungan. Pada usia 6 bulan bayi sangat menarik. Meruak mempermainkan mainan seperti “ciluk-ba” ketika kepalanya disembunyikan dengan handuk, mereka memberitahukan keinginan mereka dengan mengangkat kedua lengan untuk digendong, dan mereka memperlihatkan rasa tidak senang ketika maiannya diambil atau wajah mereka dibasuh.

  • Kelekatan

Pentingnya kontak fisik manusia kepada bayi tidak bisa terlalu ditekankan. Menjadi orang tua bukanlah kemampuan instingtif, namun suatu proses yang dipelajari. Kelekatan orang tua dan anak, yang dimulai sebelum kelahiran dan menjadi lebih penting pada saat kelahiran, terus berlanjut pada tahun pertama.

Kelekatan mengalami kemajuan selama masa bayi, dengan anak semkain memiliki peran bermakna. 2 komponen perkembangan kognitif yang di perlukan untuk kelekatan: (1) kemampuan membedakan ibu dengan orang lain dan (2) pencapaian memahami keberadaan objek.

Kedua prorses ini mempersiapkan bayi untuk aspek kelekatan yang sama-sama penting perpisahan dari orang tua. Perpisahan antar individu harus terjadi sebagai proses harmonis yang sejajar dengan kelekatan emosi.

Selama beberapa minggu pertama, bayi berespon tanpa membedakan orang. Dimulai dengan usian 8-12 minggu, mereka menangis, tersenyum, dan berusaha lebih kepada ibu diabadingkan dengan orang lain namun tetep berespons terhadap orang lain, baik sudah dikenal ataupun belum. Pada sekitar usia 6 bulan, bayi memperlihatkan kesukaan yang lebih pada ibunya. Mereka lebih banyak mengikuti ibunya, menangis jika ditinggal ibu, menikmati bermain bersama ibu, dan merasa paling aman dalam dekapan ibu. Pada usia sekitar 1 bulan setelah menunjukkan kelekatan dengan ibunya, banyak bayi mulai terikat dengan anggota keluarga lain, paling sering dengan ayahnya.

Bayi memperoleh perilaku perkembangan lainnya yang memengaruhi proses kelekatan. Ini meliputi: (1) menagis, tersenyum, dan bersuara berbeda.(lebih kepada ibu dibandingkan orang lain), (2) orientasi motoric-visual (lebih memandang ke ibu, meskipun ia tidak dekat), (3) menangis ketika ibu meninggalkan ruangan, (4) mendekat melalui lokomosi (merangkak, mengendap atau berjalan), (5) memeluk (terutama jika ada orang asing), dan (6) mengeksplorasi hal lain selain dari ibu dan menggunakan ibunya sebagai dasar keamanan.

  • Ansietas Perpisahan

Antara usia 4-8 bulan, bayi berkembang melalui tahap pertama perpisahan individu dan mulai memiliki kewaspadaan terhadap diri dan ibu sebagai orang lain. Pada saat yang sama, keberadaan objek berkembang, dan bayi menyadari bahwa orang tuanya bias tidak ada. Oleh karena itu, ansietas perpisahan berkembang dan dimanifestasikan melalui urutan perilaku yang telah dapat diperkirakan. Selama awal paruh kedua dari tahun pertama, bayi memberikan protes ketika diletakan ditempat tidur, dan sebentar kemudian mereka menolak ibunya meninggalkan ruangan. Bayi tidak menyadari ketidakhadiran ibu jika ia disibukkan dengan aktivitas. Akan tetapi, jika mereka menyadari ketidakhadiran ibunya, mereka akan memprotes. Mulai dari titik ini, mereka jadi sangat waspada terhadap aktivitas ibunya dan selalu mengikutinya kemanapun. Pada usia 11-12 bulan, mereka mampu mengantisipasi kemungkinan kepergian ibunya dengan mengawasi perilakunya dan mulai memprotes sebelum ibu meninggalkannya. Pada titik ini kebanyakan orang tua belajar untuk menunda kewaspadaan anak mengenai kepergiannya sesaat sebelum meninggalkan.

  • Ketakutan terhadap orang asing

Karena bayi memperlihatkan kelekatan pada satu orang, mereka tentu saja tampak kurang bersahabat pada orang lain. Antara usia 6-8 bulan, ketakutan trerhadap orang asing dan ansietas terhadap orang asing menjadi semakin jelas dan berhubungan dengan kemampuan bayi untuk emebedakan antara orang dikenal atau tidak dikenal. Perilaku seperti memeluk orang tua, menangis, dan memalingkan muka dari orang asing sangat umun terjadi.

 

  • PERKEMBANGAN BAHASA

Tahapan perkembangan bahasa pada bayi usia 0-12 bulan:

  • Bayi 0-1 bulan:
  1. Pada usia ini bayi anda akan mengkomunikasikan segala sesuatunya lewat tangisan mereka, tetapi terkadang mereka juga mengeluarkan suara lain selain tangisan.
  2. Bayi mulai berkembang untuk mengenali suara tertentu saja, seperti suara musik yang sering mereka dengar ataupun suara lain yang familiar buat mereka.
  3. Bayi akan memalingkan pandangannya pada suara yang mereka kenali, dan memberikan respon yang positif saat diajak berbicara.
  • Usia 1-4 bulan
  1. Bayi akan menggunakan beberapa jenis suara yang bisa dibedakan dan memerhatikan bahasa tubuh orang di sekitarnya. (mulai usia 2 bulan)
  2. Kemampuan mendengar bayi semakin meningkat, mulai mengeluarkan suara tertentu (berceloteh, misalnya gading.. uuh..) dalam komunikasinya dengan orang yang sudah mereka kenal, contohnya pada saat pengasuhnya bicara atau tersenyum kepada mereka.(mulai usia 3 bulan)
  3. Bayi akan membuat suara-suara untuk menarik perhatian (mulai usia 4 bulan)
  4. Bayi akan menangis ketika mereka membutuhkan sesuatu.
  5. Bayi mulai tertawa dan tersenyum, terlebih bila dihibur.
  6. Bayi dapat menghubungkan suara dengan objek tertentu dan juga dengan gerak badan. Maksudnya mereka sudah mulai dapat mengasosiasikan pola suara dengan suatu benda serta pola suara dengan gerak tubuh
  • Usia 4-8 bulan
  1. Bayi mulai memakai tiga atau empat ocehan dan mengombinasikan beberapa huruf hidup dan huruf mati misalnya nanana (mulai usia 5 bulan)
  2. Bayi mengeluarkan lebih banyak huruf hidup dan mati seperti k, f, v, ka, da, ma (mulai usia 6 bulan).
  3. Bayi mulai merespon saat diajak berbicara langsung. Bayi juga semakin paham dengan berbagai nada suara seperti suara terkejut, senang, serius, dan lainnya (mulai usia 7 bulan).
  4. Bayi semakin sering mengulangi suara yang sama berulang-ulang, contohnya suku kata yang sering didengar (mulai usia 8 bulan).
  5. Bayi mulai menggumam dengan irama tertentu.
  6. Mulai mengenali nama mereka (panggilan mereka).
  7. Bayi sudah mulai dapat mengucapkan satu kata tertentu, meskipun masih belum terlalu jelas.
  8. Bayi mulai meniru suara tertentu (bukan meniru pembicaraan), seperti mengecap-ecap bibir atau mencoba membunyikan lidah (tongue clicking).
  • Usia 8-12 bulan
  1. Bayi mulai meniru apa yang diucapkan ibu atau pengasuhnya
  2. Bayi mengucapkan kata pertamanya (biasanya sekitar usia 9 bulan).
  3. Bayi mendengarkan dengan s*ksama ketika Anda berbicara, dan sudah mulai mengerti arti perintah sederhana seperti “ayo kesini”.
  4. Bayi dapat mengucapkan satu atau dua kata secara konsisten (meskipun belum terlalu jelas).
  5. Bayi dapat menunjuk satu gambar dalam buku.
  6. Bayi dapat mengungkapkan setuju atau tidak dengan menganggukkan atau menggelengkan kepala mereka.
  7. Bayi mulai menyadari nama pengasuhnya dan akan bereaksi ketika nama pengasuhnya disebut atau dipanggil.
  8. Bayi mulai dapat berinteraksi secara verbal dengan pengasuhnya.
  9. Bayi dapat menggunakan tiga atau empat kata untuk menamai benda yang sudah dikenalnya, misalnya guguk untuk anjing.

Tahapan perkembangan di atas hanyalah tahapan tumbuh kembang bahasa bayi pada umumnya. Bagaimanapun, karena setiap manusia termasuk bayi adalah unik, maka tahapan perkembangan bahasanya bisa lebih cepat atau lebih lambat dari tahapan yang disebutkan di atas.

 

  • DUKUNGAN ANAK USIA 0-1 TAHUN (INFANT)
  1. Nutrisi

Nutrisi yang adekuat sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Memberikan ASI dan memberikan formula melalui botol kepada bayi merupakan cara pemberian nutrisi yang dapat diterima pada bayi baru lahir dan bayi. ASI atau formula menyuplai semua kebutuhan nutrisi harian bayi sampai bayi berusia 4-6 bulan, yang pada saat ini makanan padat dapat diperkenalkan (Shaelov & Altmann, 2009).

Bayi baru lahir dan bayi mengalami pertumbuhan yang sangat cepat dan memerlukan diet yang mendukung perubahan yang cepat ini. Tabel 3.7 membandingkan kebutuhan cairan dan kalori pada bayi baru lahir dan bayi.

 

Tabel 3.7 Kebutuhan Nutrisi
Kebutuhan Nutrisi Bayi baru lahir Bayi
Cairan 140-160 mL/Kg/hari 100 mL/Kg/ hari untuk 10 Kg pertama

50 mL/Kg/hari untuk 10 Kg selanjutnya

Kalori 105-108 Ml/Kg/hari 1-6 bulan : 108 kkal/Kg

6-12 bulan : 98 kkal/Kg

 

  1. Aktivitas dan tidur

Bayi baru lahir tidur sekitar 20 jam sehari, bangun dengan sering untuk menyusu dan dengan cepat kembali tidur. Pada usia 3 bulan, sebagian besar bayi tidur dalam waktu 7 sampai 8 jam setiap malam tanpa terbangun. Mereka akan terus melakukan sekitar tiga kali tidur siang selama siang hari. Pada usia 4 bulan, bayi lebih aktif dan sapada dan mungkin menjadi lebih sulit untuk tidur disenja hari. Terbangun dimalam hari dapat terjadi, tretapi bayi harus dapat tidur sepanjang malam dan tidak memerlukan pe,berian makan di malam hari. Pada usia 12 bulan, bayi tidur dalam 8 sampai 12 jam per malam dan tidur siang dua kali sehari (Feigelmen, 2007).

Diskusikan praktik tidur yang aman dengan orang tua bayi baru lahir dan bayi; bayi harus tidur pada kasur yang keras tanpa bantal atau penyaman. Tempat tidur bayi harus dilettakn jauh dari lubang pendingin ruangan, jendela terbuka, dan pemanas terbuka. Sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) telah dihubungkan dengan posisi tengkurap pada bayi baru lahir dan bayi sehingga bayi harus diposisikan untuk tidur telentang. (Shelov dan Altmann, 2009).

Dalam periode bayi baru lahir, pengasuh primer harus mencoba untuk tidur ketika bayi tidur. Karena bayi barulahir perlu diberi susu setiap 1,5 sampai 3jam selama 24 jam, orang tua dapat merasa cepat kelelahan dan sering kali menginginkan bayi untuk tidur sepanjang malam. Menambahkan sereal nasi ke botol di sore hari tidak terbukti mencegah bangun dimalam hari dan tidak direkomendasikan (Hagan et., 2008). Berikan dukungan kepada orang tua bayi baru lahirdan edukasi mereka mengenai pola tidur bayi.

Rutinitas waktu tidur perlu ditetapkan pada usia sekitar 4 bulan karena peningkatan kesadaran bayi dan tingkat aktivitasnya. Bayi berusia 4 bulan atau lebih memerlukan penangan dan relaksasi sebelum pergi tidur. Rutinitas waktu tidur yang konsisten harus dibentuk, mungkin mandi diikuiti dengan menepuk-nepuk, bernyanyi, atau membaca. Bayi harus tertidur dalam tempat tidurnya sendiri dan bukan ditepuk-tepuk untuk tidur atau digendong sampai tidur dan kemudian diletakkan ke atas tempat tidru. Setelah usia 4 bulan, bayi harus belajar menenangkan diri mereka sendiri untuk kembali tidur setelah bangun dimalam hari. Makan di malam hari tidak diperlukan pada usia ini dan akan menciptakan rutinitas bangun terjaga di malam hari yang akan sulit dihentikan (Hagan et al., 2008). Orang tua harus meminimalkan perhatian dan stimulasi yang diberikan selama bangun di malam hari. Memeriksa secara singkat bayi untuk memastikan keamanannya, diikuti dengan menempatkan bayi kembali dalam posisi berbaring dan memberi ucapan selamat malam kepadanya adalah yang diperlukan. Ini mungkin harus dilakukan beberapa kali sebelum bayi jatuh tertidur kembali. Interaksi secara singkat harus dipertahankan selama bangun di malam hari sehingga bayi belajar untuk kembali tidur dengan sendririny. Kelanjutan masalah terkait bangun di malam hari harus didiskusikan dengan pengasuh primer bayi.

  1. Kesehatan gigi

Gigi dan gusi yang sehat memerlukan hygiene oral yang tepat dan suplement fuorida yang sesuai. Anak-anak yang berusia lebih dari 6 bulan yang beresiko mengalami karies gigi dan yang meminum sumber air kurang dari 0,3 bagian per juta mungkin memerlukan suplementasi fluorida (Rozier, 2010). Kelebihan menelan fluorida dapat menyebabkan perubahan warna gigi (Fluorosis). Karies gigi di awal masa kanak-kanak dapat terjadi akibat terkumpulnya susu atau jus disekitar gigi dan gusi.

Sebelum gigi muncul, orang tua harus membersihkan gusi anak setelah makan dengan waslap lembab. Setelah gigi muncul, orang tua dapat terus menggunakan waslap lembut untuk membersihkan gigi dan pada akhirnya menggunakan sikat gigi berbulu lembut. Pasta gigi tidak dibutuhkan dimasa bayi. Bayi tidak boleh dibiarkan meminum susu atau jus melalui botol di tempat tidur, karena tingginya kandungan gula dalam cairan yang bersentuhan dengan gigi disepanjang malam memicu karies gigi. Menyapih dari botol pada usia 12-15 bulan dapat membantu mencegah karies gigi. Cangkir sisip antitumpah juga dapat berdampak pada pembentukan karies gigi dan harus dihindari, American Academy of Pedriatic Dentistry merekomendasikan agar bayi menerima kunjungan gigi pertama mereka pada usia 1 tahun.

 

  • MASALAH KESEHATAN ANAK USIA 0-1 TAHUN
  1. Kolik

Bayi sehat berusia 6 minggu menangis total sekitar 3 jam setiap hari. Menangis dan rewel lebih sering terjadi di senja hari. Pada usia 12 minggu jumlah menangis adalah sekitar 1 jam per hari, dan bayi lebih mampu menenangkan diri mereka sendiri pada usia ini. Kolik di definisikan sebagai menagis yang tidak dapat ditenagkan minimal 3 jam atau lebih per hari dan tanpa ada penyebab fisiknnya. Kolik biasanya selesai pada usia 3 bulan bertepatan dengan usia bayi yang mampu menengankan dirinya sendiri (misal, menghisap jari). Penyebab kolik diduga masalah dalam sistem gastrointestinal atau neurologi (kemungkinan imanuritas sistem), temperamen, atau gaya menjadi orang tua sebagai ibu atau ayah.

Menangis dalam waktu berkepanjangan memicu stress diantara pengasuh. Kegagalan untuk menghentikan tangisan memicu frustasi, dan menangis yang mencegah orang tua dari tidur berkontribusi pada keletihan yag memang sudah mereka alami.

  1. Gumoh

Gumoh (mengurangi sejumlah kecil isi lambung) terjadi pada semua bayi. Dan sejumlah besar bayi normal gumoh secara berlebihan . meskipun gumoh setelah makan normal, hal ini dapat menyebabkan kekhawatiran besar pada orang tua, bayi yang diberi makan secara berlebihan yang makanannya diberikan berdasarkan jadwal yang dirancang orang tua dan yang kurang  bersendawa lebih cenderung untuk gumoh. Bagi beberapa bayi, jumlah dan frekuensi gumoh cukup bermakna, dan dapat mengidentifikasi refluks gastroesofagus.

Memberikan makan dalam jumlah sedikit secara lebih sering dapat membantu menurunkan episode gumoh. Selalu sendawakan bayi min 2-3 kali per pemberian makan. Pertahankan bayi tetap tegak selama 30 menit setelah makan dan jangan baringkan bayi dalam posisi tengkurap setelah makan. Hindari mengangkat-angkat bayi atau melakukan aktivitas berlebihan sesaat setelah pemberian makan. Memosisikan bayi didalam kursi menekan lambung dan tidak direkomendasikan, ketika menempatkan bayi ditempat tidur, posisikan ia dalam posisi miring dengan kepala  tempat tidur ditinggikan (Selov & Altmann, 2009).

  1. Menghisap ibu jari, empeng, dan benda keamanan

Bayi menunjukkan kebutuhan jelas untuk menghisap nonnutritif: bahkan janin dapat diobservasi menghisap ibu jari atau jari-jari tangannya didalam Rahim. Menghisap ibu jari merupakan aktivitas menyamankan diri sendiri yang sehat. Bayi yang menghisap ibu jari atau empeng sering sekali lebih mampu menenangkan diri mereka sendiri dibandingkan dengan bayi yang tidak menghisap. Akan tetapi, penggunaan empeng sering dikaitkan dengan peningkatan insiden otitis media, dan higien selalu menjadi masalah karena empeng sering jatuh ke lantai.

Bayi juga dapat terikat dengan boneka, semacam boneka binatang, atau selimut. Seperti halnya menghisap jempol, kedekatan dengan benda-benda tertentu memberikan keamana kepada bayi untuk menenangkan dirinya sendiri ketika ia merasa tidak nyaman.

  1. Gigi tumbuh

lazim terjdi saat gigi tumbuh menembus membran periodontal. Bayi dapat mengeces, menggigit benda keras, atau semakin sering menghisap jari. Beberapa bayi dapat menjadi sangat mudah marah (irritable), menolak makan, dan tidak tidur dengan baik. Demam, muntah dan diare pada umumnya tidak dianggap sebagai tanda gigi tumbuh (teething) melainkan penyakit.

Nyeri tumbuhnya gigi (teething) terjadi akibat inflamasi. Ajarkan orang tua bahwa kompres dingin dapat menyejukkan gusi. Bayi dapat mengunyah cincin teething (mainan gigitan bayi) yang dingin, atau orang tua dapat mengosokkan potongan es yang dibungkus didalam washlap pada gusi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

TINJAUAN EVIDANCE BASE PRACTICE DAN PENDIDIKAN KESEHATAN

 

 

  • TINJAUAN EVIDACE BASE PRACTICE

 

KETERAMPILAN IBU DALAM DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG TERHADAP TUMBUH KEMBANG BAYI

 

Wina Palasari

Dewi Ika Sari Hari Purnomo

STIKES RS. Baptis Kediri

(stikesbaptisjurnal@ymail.com)

 

ABSTRAK

Tumbuh kembang pada bayi merupakan tumbuh kembang dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan tumbuh kembang selanjutnya, sehingga diperlukan ketrampilan dan peranan ibu dalam proses perkembangan dan pertumbuhan anak secara keseluruhan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Populasinya adalah 81 responden dengan menggunakan teknik. simple random sampling. Variabel independen adalah keterampilan dan variabel dependent adalah tumbuh kembang. Data dikumpulkan dengan kuesioner kemudian data dianalisa menggunakan uji Spearman’s Rho dengan tingkat kemaknaan α≤ 0,05. Menunjukkan bahwa sebagian besar keterampilan yang baik dalam deteksi dini tumbuh kembang dan tumbuh kembang balita yang tercapai sebanyak 58 responden (72%). Setelah dilakukan uji statistik Spearman’s Rho didapatkan hasil p = 0,001, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Ada hubungan antara keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri.

 

Kata kunci :Keterampilan, pertumbuhan, perkembangan, tumbuh kembang

 

Pendahuluan

 

Pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukursedangkan perkembangan merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar (Alimul, 2005). Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang berbeda, keduanya tidak dapat berdiri sendiri tetapi saling berkaitan satu sama lain sehingga hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Diantara waktu yang paling cepat dalam fase pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi dalam tahun pertama kehidupan sehingga seyogyanya anak mulai diarahkan. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa bayi karena itu pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa bayi ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreatifitas, kesadaran sosial, emosional, intelegensi berjalan sangat cepat dan merupakan landasan pekembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar kepribadian juga dibentuk pada masa itu, sehingga setiap kelainan penyimpangan sekecil apapun apabila tidak terdeteksi apalagi tidak ditangani dengan baik akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari (Soetjiningsih, 1995). Masa bayi merupakan masa pertumbuhan tubuh dan otak yang sangat pesat dalam pencapaian keoptimalan fungsinya. Periode tumbuh kembang anak pada masa balita merupakan pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan kemampuan berbahasa, kreatifitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya (Supartini, 2004). Keterampilan dan peranan ibu sangat bermanfaat bagi proses perkembangan dan pertumbuhan anak secara keseluruhan karena orang tua dapat segera mengenali kelebihan proses perkembangan anaknya dan sedini mungkin memberikan stimulasi pada tumbuh kembang anak yang menyeluruh dalam aspek fisik, mental, dan sosial. Stimulasi adalah perangsangan yang datangnya dari lingkungan di luar individu anak. Perkembangan dan pertumbuhan bayi penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua, khususnya ibu. Jika tumbuh kembang anak tanpa arahan dan pendampingan serta perhatian orangtua, maka tumbuh kembang anak tidak dapat maksimal.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menyebutkan sampai dengan Juni 2010 terdapat 129.807 balita. Dari jumlah tersebut, 3.245 (2,5%) termasuk kategori berat badan sangat kurang. Berat badan yang sangat kurang dapat dijadikan indikator terjadinya gangguan tumbuh kembang pada anak. Data yang diperoleh peneliti di Poli Anak Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri pada tanggal 7 April 2011 dari 20 ibu, didapatkan 14 ibu (70 %) tidak mengetahui mengenai tumbuh kembang balita. Sedangkan 6 ibu (30 %) diantaranya mengetahui tentang tumbuh kembang bayi. Dua faktor utama yang berpengaruh terhadap

tumbuh kembang anak yaitu genetik dan lingkungan. Faktor genetik menentukan potensial anak, sedangkan faktor lingkungan menentukan tercapai tidaknya potensial tersebut. Faktor lingkungan besar sekali pengaruhnya pada fase-fase kehidupan anak yaitu pranatal, kelahiran, dan pascanatal.

Masa bayi adalah masa yang paling baik untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi karena berpengaruh pada periode selanjutnya. Sehingga perlu dilakukan pemantauaan pertumbuhan rutin pada pertumbuhan bayi sehingga dapat terdeteksi apabila ada penyimpangan pertumbuhan dan dapat dilakukan penanggulangan sedini mungkin. Deteksi dini tumbuh kembang merupakan kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang agar lebih mudah dilakukan penanganan selanjutnya atau diintervensi (Arief, 2010). Keterampilan ibu tentang deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan berperan penting, karena dengan ketrampilan ibu yang baik maka diharapkan pemantauan bayi dapat dilakukan dengan baik pula. Masa bayi termasuk masa yang rawan terhadap penyakit, sehingga peran keluarga, terutama ibu sangat dominan. Semakin meningkatnya taraf pendidikan dan ketrampilan wanita serta berkembangnya perekonomian menjadikan lapangan kerja untuk wanita diberbagai bidang, dan semakin banyak wanita yang bekerja di luar rumah termasuk para ibu. Hal tersebut mengakibatkan semakin banyak ibu yang kurang memperhatikan tumbuh kembang. Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan orang tua tentang deteksi dini tumbuh kembang khususnya pada ibu dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang yang berupa penyimpangan pertumbuhan, penyimpangan perkembangan serta penyimpangan mental emosional, misalnya sindrom down, perawakan pendek, dan gangguan autism.

Mendeteksi pertumbuhan bayi ataupun balita secara cermat dapat menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Kartu Menuju Sehat berfungsi sebagai alat bantu pemantauan gerak pertumbuhan dan perkembangan, karena isi KMS selain grafik untuk pemantauan pertumbuhan juga di dalamnya terdapat tahap – tahap perkembangan anak dari lahir sampai umur 72 bulan. Dalam upaya meningkatkan ketrampilan orang tua khususnya ibu diberikan asuhan keperawatan professional yaitu dengan cara memberikan health education dan memotivasi ibu untuk mencari informasi dari berbagai media (baik media cetak ataupun media elektrolik). Berdasarkan fenomena di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang: “Hubungan Keterampilan Ibu tentang Deteksi Dini Tumbuh Kembang dengan Tumbuh Kembang Bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri”

 

Metodologi Penelitian

 

Desain penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian, yang memungkinkan pemaksimalan kontrol beberapa faktor, yang bisa mempengaruhi akurasi suatu hasil (Nursalam, 2001). Desain yang digunakan adalah Cross Sectional, dimana peneliti melakukan pengukuran sesaat, artinya subyek diobservasi satu kali saja dan pengukuran variable dependen dilakukan pada saat pemeriksaan atau pengkajian data (Nursalam, 2001). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu dengan bayinya di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu dengan bayinya di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri. Tehnik sampling yang digunakan adalah Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Simple random sampling adalah pengambilan sampel dengan cara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi (Alimul, 2009). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 yaitu untuk Variabel independent adalah keterampilan dan untuk Variabel dependent adalah tumbuh kembang. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kuesioner yaitu peneliti mengumpulkan data secara formal kepada subyek untuk menjawab semua pertanyaan secara tertulis (Nursalam, 2001). Pada penelitian ini peneliti mengumpulkan data secara formal kepada subyek untuk menjawab pertanyaan yang tertulis. Kuesioner akan diberikan kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi. Untuk mengetahui keterampilan ibu tentang tumbuh kembang bayi dengan menggunakan kuesioner. Sedangkan untuk mengetahui tumbuh kembang bayi dengan menggunakan kuesioner (untuk perkembangannya) dengan jenis pertanyaan tertutup yaitu menjawab pertanyaan dengan cara memilih jawaban yang sudah disediakan oleh peneliti dengan jumlah pertanyaan 10 (untuk gerak kasar, gerak halus, sosialisasi dan kemandirian). Sedangkan untuk pertumbuhannya menggunakan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Setelah mendapatkan ijin dari Direktur Rumah Sakit Baptis Kediri, peneliti mengadakan pendekatan pada ibu bayi di Instalasi Rawat Jalan. Data dikumpulkan dengan menggunakan pengisian kuesioner, pengamatan dan pengukuran.

Keterampilan ibu menggunakan pengisian kuesioner, untuk perkembangannya menggunakan pengamatan lalu mengisi kuesioner, untuk pertumbuhannya menggunakan metline dengan mengukur tinggi badan, untuk mengukur berat badan menggunakan timbangan, yang selanjutnya mencocokan dengan skala NCHS. Setelah data diperoleh kemudian dilakukan pengolahan menggunakan SPSS dengan menggunakan uji statistik “Mann-Whitney”. Tingkat kemaknaan yang ditetapkan yaitu α=0,05. Jika p ≤ 0, 05 maka Ho ditolak, jadi ada hubungan keterampilan ibu tentang deteksi dini terhadap tumbuh kembang balita di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri.

 

Hasil Penelitian

Data Umum

Pada data umum ini akan di tampilkan tentang karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin bayi, karakteristik responden berdasarkan umur bayi.

 

Tabel 1.  Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin bayi, karakteristik responden berdasarkan umur bayi.

 

Jenis Kelamin   Σ     %
           
Laki – laki   43     53
Perempuan   38     47
Jumlah   81     100
           
           

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa lebih dari 50% responden dengan jenis kelamin laki – laki yaitu 43 responden (53%).

 

Tabel 2.          Karakteristik responden berdasarkan umur bayi diinstalasi rawat jalan rumah sakit baptis kediri pada tanggal 20 juni-16 juli 2011.

Umur Σ %
3-4    bulan 18 22
5-7    bulan 24 30
8-10  bulan 24 30
11-12 bulan 15 18
Jumlah 81 100

Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa responden paling banyak dengan umur bayi 5 – 7 bulan dan 8 – 10 bulan yaitu masing – masing 24 responden (30%).

 

Data Khusus

 

Data Khusus pada penelitian ini membahas tentang keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang bayi, hasil pertumbuhan pada bayi, perkembangan pada bayi, tumbuh kembang bayi, tabulasi silang keterampilan ibu tetang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi.

 

Tabel 3.          Keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Kediri pada tanggal 20 Juni – 16 Juli 2011.

 

Tingkat Keterampilan Ibu Σ %
Baik 77 95
Cukup 2 2.5
Kurang 2 2.5
Jumlah 81 100

Berdasarkan tabel diatas, didapatkan bahwa mayoritas ibu memiliki keterampilan yang baik yaitu sebanyak 77 responden (95%).

 

Tabel 4.          Hasil pertumbuhan pada bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri pada tanggal 20 Juni – 16 Juli 2011.

 

Pertumbuhan Σ %
Baik 67 83
Kurang 10 12
Buruk 0 0
Lebih 4 5
Jumlah 81 100

Berdasarkan tabel di atas, didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki pertumbuhaan yang baik sesuai usia bayi yaitu sebanyak 67 responden (83%).

Tabel 5.          Perkembangan pada Bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri pada tanggal 20 Juni – 16 Juli 2011.

 

Perkembangan Σ %
Baik 61 75
Kurang 15 19
Buruk 5 6
Jumlah 81 100

Berdasarkan tabel 5, didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki perkembangan yang baik sebanyak 61 responden (75%).

 

Tabel 6 . Tumbuh kembang bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri pada tanggal 20 Juni – 16 Juli 2011.

 

Tumbuh Kembang Σ %
Tercapai 58 72
Tidak Tercapai 23 28
Jumlah 81 100

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa sebagian besar responden bayi memiliki tumbuh kembang yang tercapai sebanyak 58 responden (72%).

 

Tabel 7.          Tabulasi silang keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri pada tanggal 20 Juni – 16 Juli 2011.

 

K. Ibu Tumbuh Kembang Σ
Tercapai Tidak Tercapai
Σ % Σ % Σ %
Baik 58 72 19 23 77 95
Cukup 0 0 2 2.5 2 2.5
Kurang 0 0 2 2.5 2 2.5
Jumlah 58 72 23 28 81 100

 

Berdasarkan hasil tabulasi silang di atas, menunjukkan responden dengan keterampilan ibu (baik) dan tumbuh kembang bayi (tercapai) sebanyak 58 responden bayi (72%), keterampilan ibu (baik) dengan pertumbuhan dan perkembangan (tidak tercapai) sebanyak 19 responden bayi (23%), keterampilan ibu (cukup) pertumbuhan perkembangan (tidak tercapai) sebanyak 2 responden bayi (2,5%) dan keterampilan ibu (kurang) dengan pertumbuhan perkembangan (tidak tercapai) sebanyak 2 responden bayi (2,5%).

 

Tabel 8. Tabel hasil uji Mann whiteney keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri pada tanggal 20 Juni – 16 Juli 2011.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Keterampilan
Mann-Whitney U 605. 000
Wilcoxson W 956. 000
Z -2. 964
Asymp. Sig. (2-tailed) .003

 

Berdasarkan hasil uji statistic Mann-Whitney dengan tingkat kemaknaan α ≤ 0,05 didapatkan p = 0,003 dimana p < α maka H0 ditolak dan Ha diterima, jadi ada hubungan antara keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri.

 

Pembahasan

 

Keterampilan Ibu terhadap Tumbuh Kembang di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa keterampilan ibu di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri mayoritas memiliki keterampilan yang baik. Hal ini dapat dilihat dari 81 responden ibu didapatkan responden dengan keterampilan baik sebanyak 77 responden (95%), keterampilan cukup sebanyak 2 responden (2,5%), dan keterampilan kurang sebanyak 2 responden (2,5%). Secara teori, keterampilan (pratice) adalah suatu tindakan (overt behavior) dimana tindakan itu merupakan perwujudan dari sikap yang perlu faktor pendukung antara lain adanya fasilitas dan dukungan dari pihak lain (Notoatmodjo, 1993). Keterampilan dalam hal ini adalah keterampilan intelektual yaitu kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dam lambing (Dimyati dan Mudjiono, 2009). Keterampilan ibu yang diteliti adalah keterampilan ibu dalam mengamati pertumbuhan dan perkembangan anak. Memiliki anak dengan tumbuh kembang yang optimal adalah dambaan setiap orang tua. Tumbuh kembang yang optimal dapat diwujudkannya dengan orang tua khususnya ibu yang selalu memperhatikan, mengawasi, dan merawat anak secara seksama. Proses tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara alamiah, tetapi proses tersebut sangat tergantung kepada orang tua (Nia, 2006).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas ibu memiliki keterampilan yang baik yaitu sebanyak 77 responden ibu (95%), hal ini karena banyaknya informasi baik dari media cetak maupun media elektrolit sehingga orang tua khususnya ibu sangat memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Selain itu juga karena ibu sudah pernah memiliki anak sebelumnya sehingga lebih terampil dalam melakukan deteksi tumbuh kembang pada anaknya. Keterampilan ibu dipengaruhi oleh peran ibu dalam menerima kondisi anak, mengelola kondisi anak serta memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan harus lebih ditingkatkan karena dapat digunakan untuk perkembangan potensi anak. Tumbuh kembang anak akan optimal bila interaksi dilakukan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap tumbuh kembang. Untuk bisa merawat dan membesarkan anak secara maksimal dan mencapai tumbuh kembang yang optimal, para orang tua khususnya ibu harus mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan tumbuh kembang. Keterampilan orang tua dalam deteksi dini tumbuh kembang akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi orang tua khususnya ibu dalam merawat dan membesarkan anaknya. Hasil penelitian keterampilan ibu yang baik adalah dalam mengamati perkembangan gerak kasar bayi.

 

Tumbuh Kembang di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa Tumbuh Kembang Bayi di di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri sebagian besar responden bayi memiliki tumbuh kembang yang tercapai sesuai usia bayi yaitu sebanyak 58 responden (72%), 23 responden (28%) memiliki tumbuh kembang yang tidak tercapai.

Secara teori, istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, atau ukuran, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram) dan ukuran panjang (cm, meter), sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dari seluruh bagian tubuh sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungannya. Secara umum terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik adalah faktor yang menentukan sifat bawaan anak tersebut, sedangkan kemampuan anak merupakan ciri-ciri yang khas yang diturunkan dari orang tuanya. Sedangkan lingkungan yaitu suasana di mana anak itu berada. Lingkungan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang sejak dalam kandungan sampai dewasa. Lingkungan yang baik akan menunjang tumbuh kembang anak, sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan menghambat tumbuh kembangnya (Nia, 2006).

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan yaitu besar responden bayi memiliki tumbuh kembang yang tercapai sesuai usia bayi yaitu sebanyak 58 responden (72%). Hal ini dikarenakan kebutuhan bayi dalam pencapaian tumbuh kembang yang optimal terpenuhi. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, atau ukuran, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram) dan ukuran panjang (cm, meter), sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dari seluruh bagian tubuh sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Hasil penelitian didapatkan tumbuh kembang yang banyak tercapai adalah dalam perkembangan bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Sedangkan tumbuh kembang yang tidak tercapai yaitu dalam perkembangannya adalah gerak kasar dan gerak halus, dalam pertumbuhannya tinggi badan dibandingkan berat didapatkan berat badan yang tidak sesuai dengan tinggi badan. Hal ini kemungkinan terjadi karena rendahnya tinggkat pendidikan dan kurangnya informasi yang diperoleh orang tua khususnya ibu tentang tumbuh kembang dan bagaimana deteksi secara dini tumbuh kembang pada bayi. Selain itu kemungkinan juga disebabkan bagaimana pola asuh dari ibu. Tumbuh kembang pada bayi juga dipengaruhi oleh gizi pada waktu ibu hamil, zat kimia, hormonal, budaya lingkungan, status sosial ekonomi, nutrisi, iklim dan cuaca, olahraga, keluarga, dan status kesehatan.

 

Hubungan Keterampilan Ibu tentang Deteksi Dini Tumbuh Kembang dengan Tumbuh Kembang Bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri

Berdasarkan hasil uji statistik Mann-Whitney yang didasarkan pada tingkat kemaknaan α ≤ 0,05 didapatkan p = 0,003 dimana p < α maka Ho ditolak dan Ha diterima, jadi ada hubungan keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri.

Secara teori, proses tumbuh kembang dapat berlangsung normal atau tidak, artinya perubahan fisik dan mental yang dapat membentuk anak menjadi individu yang sempurna atau sebaliknya. Sempurna tidaknya tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh peranan orang tua dalam hal ini perhatian dan kasih sayang merupakan kondisi yang mendukung dan diperlukan anak. Pengetahuan, keterampilan, dan peranan ibu sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang tua dapat segera mengenali kelebihan proses perkembangan anaknya dan sedini mungkin memberikan stimulasi pada tumbuh kembang anak yang menyeluruh dalam aspek fisik, mental, dan sosial. Orang tua harus memahami tahap-tahap perkembangan anak agar anak bisa tumbuh kembang secara optimal yaitu dengan memberi anak stimulasi. Orang tua juga jangan terlalu overprotektif terhadap anak tetapi selalu memberi anak penghargaan berupa pujian, belaian, pelukan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil adanya hubungan keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri. Hal ini dipengaruhi dari keterampilan ibu yang berhubungan dengan peran ibu dalam memenuhi tumbuh kembang anak (bayi). Tumbuh kembang anak perlu dirangsang oleh orang tua khususnya ibu agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan sesuai umurnya. Keterampilan ibu dalam deteksi dini tumbuh kembang sangat diperlukan karena dapat digunakan sebagai acuan dalam pemenuhan tumbuh kembang yang optimal. Kemampuan ibu yang terampil dalam deteksi dini tumbuh kembang dapat mengetahui secara dini kelainan tumbuh kembang yang terjadi pada anaknya. Tumbuh kembang bayi dan keterampilan ibu adalah saling berhubungan. Tumbuh kembang bayi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu termasuk faktor keturunan, maupun faktor lingkungan postnatal. Sedangkan keterampilan ibu dalam deteksi dini tumbuh kembang dipengaruhi oleh peran ibu dalam keluarga yaitu menerima kondisi anak, mengelola kondisi anak, memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak, memenuhi kebutuhan perkembangan keluarga, menghadapi stressor dengan positif, membantu anggota keluarga untuk mengelola perasaan yang ada dan mengembangkan system dukungan sosial. Seluruh peran ibu tersebut berhubungan dengan ranah pengetahuan. Demikian pula keterampilan ibu dalam deteksi dini tumbuh kembang bayi, diperlukan peran ibu dan pengetahuan tentang tumbuh kembang. Pengetahuan tumbuh kembang tersebut dapat diperoleh dari petugas kesehatan baik di posyandu maupun di Rumah Sakit, media cetak ataupun media elektronik.

 

Kesimpulan

Keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang bayi di Poli Anak Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri adalah keterampilan yang baik yaitu sebanyak 77 responden (95%). Tumbuh kembang bayi di Poli Anak Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri sebagian besar memiliki tumbuh kembang tercapai. Ada hubungan antara keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi di Poli Anak Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri.

 

Saran

Setelah dilakukan penelitian hubungan keterampilan ibu tentang deteksi dini tumbuh kembang dengan tumbuh kembang bayi di Poli Anak Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri dan hasil serta keterbatasan yang dimiliki peneliti, maka peneliti mengajukan saran yaitu pertama bagi responden atau Ibu Hasil penelitian ini diharapkan agar ibu mendapatkan tambahan pengetahuan tentang tumbuh kembang bayi dengan mencari informasi baik dari media cetak ataupun media elektronik dan ibu lebih termotivasi untuk meningkatkan keterampilan dalam deteksi dini tumbuh kembang pada bayi sehingga dapat mengurangi angka terjadinya kegagalan tumbuh kembang pada bayi sehingga didapatkan tumbuh kembang yang optimal. Kedua bagi Profesi Keperawatan perawat diharapkan mendapatkan tambahan pengetahuan dan lebih termotivasi meningkatkan peran serta perawat dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya mendeteksi tumbuh kembang secara dini untuk meningkatkan pelayanan perawatan dan perkembangan profesi keperawatan. Ketiga bagi Institusi Rumah Sakit Baptis Kediri diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk meningkatkan pelayanan klinik tumbuh kembang bayi sehingga pelayanan terhadap tumbuh kembang bayi dapat lebih dioptimalkan di Rumah Sakit Baptis Kediri. Keempat bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneruskan penelitian ini dengan judul mempelajari apakah dukungan keluarga mempengaruhi tingkat keterampilan ibu tentang stimulasi tumbuh kembang bayi di Poli Anak Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Baptis Kediri.

 

Gambaran Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi Usia 0-12 Bulan

 

Robin Dompas

Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Manado

 

ABSTRAK

Latar Belakang : Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi cara perlindunngan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh murah dibandingkan mengobati seseorang apabila jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Tujuan : bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian imunisasi  Dasar pada bayi usia 0-12 bulan di Puskesmas Teling Atas.

Metode : Penilitian  ini bersifat  deskriptif  dengan pendekatan retrospektif . Populasi adalah seluruh bayi yang melakukan imunisasi Pada bayi Usia 0-12 bulan pada bulan Januari sampai Desember 2010 = 639 bayi, Januari sampai Desember 2011 = 605 bayi dan Januari sampai Desember 2012 = 542 bayi. Pelaksanaan penilitian pada bulan Mei 2013 di Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado.  Instrumen yang digunakan adalah Cheklist, data diperoleh dari data  sekunder.

Hasil penelitian : Pada  tahun 2010 dari 639 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 370 bayi sedangkan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 269 bayi. Pada tahun 2011 dari 605 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 275 bayi, dan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 330 bayi. Dan pada tahun 2012 dari 542 bayi  yang mendapat imunisasi lengkap 302 bayi, dan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 240 bayi.

Kesimpulan : Belum semua bayi usia 0 – 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

 

Kata Kunci : imunisasi, bayi

 

 

LATAR BELAKANG

Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan yang saat ini terjadi di Indonesia.  Angka kematian bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak suatu Negara. (1)

Kematian bayi  adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia satu tahun.survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI ) menyatakan bahwa Indonesia angka kematian bayi (AKB) 2007 adalah 34 % per 1.000 kelahiran hidup. Menurut laporan yang di sampaikan organisasi medis kemanusiaan  dunia, Medicins Sans Frontieres (MSF) atau dokter lintas batas yang menyebutkan bahwa Indonesia termasuk 1 dari 6 negara  yang teridentifikasi memiliki jumlah tertinggi anak – anak yang tidak terjangkau imunisasi. Menurut MSF, sebanyak 70% dari anak –anak yang tidak terjangkau program imunisasi rutin terbesar di kongo, India, Negiria, Ethiopia, Indonesia dan Pekistan.(2) Program pengembangan imunisasi sudah berjalan sejak tahun 1974 untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi cara perlindunngan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh murah dibandingkan mengobati seseorang apabila jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Data terakhir WHO, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa tiap tahun akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi misalnya:  batuk rejan 294.000 (20%), tetanus 198.000 (14%), campak 540.000 (38%), di Indonesia sendiri UNICEF mencatat sekitar 30.000 – 40.000 anak di Indonesia setiap tahun meninggal karena serangan campak. (3)

Imunisasi berarti mengebalkan, memberi  kekebalan  pasif (diberi antibodi)  yang sudah jadi seperti Hepatitis B imunoglobin pada bayi yang lahir dari ibu dengan Hepatitis B. Sedangkan vaksinasi berasal dari kata “ vaccine ” yaitu zat yang dapat merangsang timbulnya kekebalan aktif seperti BCG, Polio, DPT, Hepatitis B dan lain-lain (Sunarti.2012). Imunisasi dasar adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi sesorang. Dengan pengertian lain, imunisasi merupakan cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu Antigen. Sehingga, ia apabila terpapar pada Antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit.

Menurut Rizema, P. (2012 ) ada 3 manfaat imunisasi bagi anak, keluarga dan negara  adalah sebagai berikut : 1) Manfaat untuk anak adalah untuk mencegah penderitaan yang di sebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian.; 2) Manfaat untuk keluarga adalah untuk menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan apabila anak sakit. Mendorong keluarga kecil apabila  orang tua yakin menyalani masa kanak-kanak dengan aman.; 3) Manfaat untuk negara adalah untuk mamperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara dan memperbaiki citra bangsa Indonesia diantara segenap bangsa di dunia. (4, 5)

Data dari Direktorat Surveilans Epidemiologi, Imunisasi, dan Kesehatan Matra, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Indonesia, pada tanggal 27 mei 2011 menunjukkan angka cakupan imunisasi di tahun 2010 adalah campak 89,5%, DTP-3 90,4%, polio-4 87,4%, dan hepatitis B-3 mencapai 91%. Dari data yang ada, terlihat angka cakupan imunisasi dasar di Indonesia sudah cukup tinggi, namun pada beberapa daerah masih ditemukan angka cakupan di bawah standar nasional. (6) Menurut data dari Profil Dinkes Manado, 2012 menunjukkan Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi BCG (1 kali), DPT (3 kali), polio (4 kali), hepatitis B (4 kali) dan campak (1 kali). Dari data Sulut tahun 2012 jumlah sasaran bayi sebesar 7840 dan yang mendapat imunisasi lengkap mencapai sebesar 7670 bayi (97,8%) sedangkan yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebesar 170 bayi (2 %) .

Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Teling Atas ,melalui  Profil puskesmas Teling Atas 2012)Tahun 2010 jumlah bayi 639, yang mendapatkan imunisasi lengkap 370 (57.9% ), sedangkan yang tidak mendapat imunisasi lengkap berjumlah 269 (42.09% ). Tahun 2011 jumlah bayi 605, yang mendapatkan imunisasi lengkap 275 (45.54 %), sedangkan yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap berjumlah  330 (54.54 % ) . pada tahun 2012 jumlah bayi 542 yang mendapatkan imunisasi lengkap 302 (55.71%), sedangkan yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap 240 (44.28 %).  penilitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian imunisasi  Dasar pada bayi usia 0-12 bulan di Puskesmas Teling Atas.

 

METODE

Penilitian  ini bersifat  deskriptif  dengan pendekatan retrospektif . Populasi dalam penilitian ini adalah seluruh bayi yang melakukan imunisasi Pada bayi Usia 0-12 bulan pada bulan Januari sampai Desember 2010 = 639 bayi, Januari sampai Desember 2011 = 605 bayi dan Januari sampai Desember 2012 = 542 bayi. Pelaksanaan penilitian pada bulan Mei 2013 di Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado.  Instrumen yang digunakan adalah Cheklist, Pengumpulan data dalam penilitian ini adalah data  sekunder dari buku Register imunisasi Profil puskesmas Teling Atas Manado.

 

HASIL 

N

o.

Jenis Imunisasi Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012
Jumlah bayi Capaian Jumlah bayi Capaian Jumlah bayi Capaian
Jlh % Jlh % Jlh %
1 HB 0 639 384 60 605 409 67 542 321 59,2
2 BCG 639 604 95 605 559 92 542 516 95,2
3 DPT/HB1 639 636 100 605 537 89 542 528 97,6
4 DPT/HB2 639 639 100 605 535 88,2 542 523 96,5
5 DPT/HB3 639 639 100 605 532 87 542 514 94,8
6 POLIO 1 639 629 98 605 565 93,3 542 515 95
7 POLIO 2 639 639 100 605 532 87 542 529 97,6
8 POLIO 3 639 539 84 605 562 92,8 542 522 96,3
9 POLIO 4 639 639 100 605 525 86 542 514 94,8
10 CAMPAK 639 602 94 605 542 89,5 542 503 92,8

 

Tabel 1 menunjukkan pada tahun 2010  Di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas bayi yang sudah mencapai target Puskesmas yaitu pada imunisasi DPT/HB1,DPT/HB2,DPT/HB3, dan Polio4. Pada  tahun 2011 yang sudah mendekati target yaitu imunisasi Polio1,Polio3, DPT/HB3, dan BCG. Pada  tahun 2012 yang sudah mendekati target yaitu imunisasi Polio2, DPT/HB1, DPT/HB2, dan polio3.

 

Tabel 2. Distribusi Pemberian Imunisasi Dasar  lengkap dan tidak lengkap Tahun 2010-2012

 

No. Tahun Pemberitahuan Imunisasi Dasar Jumlah Pemberian Jumlah
1 2010 Lengkap 370 (57.9%) 639
Tidak Lengkap 269 (42.1%)  
2 2011 Lengkap 275 (45.4%) 605
Tidak Lengkap 330 (54.5%)  
3 2012 Lengkap 302 (55.7%) 542
Tidak Lengkap 240 (44.3%)  

 

dalam penilitian ini adalah data  sekunder dari buku Register imunisasi Profil puskesmas Teling Atas Manado. Dari tabel diatas tahun 2010, jumlah bayi yang mendapat  imunisasi lengkap sebanyak  370 bayi (57,9%), Pada tahun 2011,jumlah bayi yang mendapat imunisasi lengkap sebanyak 275 bayi (45,5), Dan pada tahun 2012, jumlah bayi yang  mendapat imunisasi lengkap sebanyak 302 bayi (55,7).

 

PEMBAHASAN

Pada tahun 2010 Di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas bayi yang mendapat imunisasi HB0 sebanyak 384 bayi (60%) dan yang tidak mendapat HB0 sebanyak 255 bayi (40%), bayi yang mendapat imunisasi BCG sebanyak 604 bayi (95%)  yang tidak mendapat imunisasi BCG sebanyak 35 bayi (5%), bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB1 sebanyak  636 bayi (99,5%), dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB1 sebanyak 3 bayi (0,5%)  , bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB2 sebanyak 639 bayi (100%), Bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 639 bayi (100%), bayi yang mendapat imunisasi polio1 sebanyak 629 bayi (98%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio1 sebanyak 10 bayi (2%),. Bayi yang mendapat imunisasi polio2 sebanyak 639 bayi (100%), Bayi yang mendapat imunisasi polio3 sebanyak 539 bayi (84%),,dan yang tidak mendapat imunisasi polio3 sebanyak 100 bayi (16%),. Bayi yang mendapat imunisasi polio4 sebanyak 639 (100%),. Bayi yang mendapat imunisasi Campak sebanyak 602 bayi (94%),,yang tidak mendapat imunisasi campak sebanyak 37 bayi (6%),.  Pada  tahun 2011 Di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas bayi yang mendapat imunisasi HB0 sebanyak 409 bayi (67%),  dan yang tidak mendapat HB0 sebanyak 196 bayi (33%), bayi yang mendapat imunisasi BCG sebanyak 559 bayi (92%),  yang tidak mendapat imunisasi BCG sebanyak 46 bayi(8%), bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB1 sebanyak  537 bayi (89%),  dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB1 sebanyak 68 bayi (11%),,bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB2 sebanyak 535 bayi (88%),,dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB2 sebanyak 70 bayi (12%), Bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 532 bayi (87%), dan yang tidak mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 73 bayi (13%), Bayi  yang mendapat imunisasi polio1 sebanyak 565 bayi (93,3%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio1 sebanyak 40 bayi (6,7%), Bayi yang mendapat imunisasi polio2 sebanyak 532 bayi (87%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio2 sebanyak 73 bayi (13%), Bayi yang mendapat imunisasi polio3 sebanyak 562 bayi (92,8%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio3 sebanyak 43 bayi (7,2%), Bayi yang mendapat imunisasi polio4 sebanyak 525 bayi (86%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio4 sebanyak 80 bayi (14%), Bayi yang mendapat imunisasi Campak sebanyak 542 bayi (89,5%), yang tidak mendapat imunisasi campak sebanyak 63 bayi (10,5%).

Pada tahun 2012 Di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas bayi yang mendapat imunisasi HB0 sebanyak 321 bayi (59,2%), dan yang tidak mendapat HB0 sebanyak 221 bayi (40,8%),, bayi yang mendapat imunisasi BCG sebanyak 516 bayi (95,2%), yang tidak mendapat imunisasi BCG sebanyak 26 bayi (4,8%),, bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB1 sebanyak 528 bayi (97,6%), dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB1 sebanyak 14 bayi (2,4%), bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB2 sebanyak 523 bayi (96,5%), dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB2 sebanyak 19 bayi (3,5%),. Bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 514 bayi (94,8%), dan yang tidak mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 28 bayi (5,2%), bayi yang mendapat imunisasi polio1 sebanyak 515 bayi (95%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio1 sebanyak 27 bayi (5%), Bayi yang mendapat imunisasi polio2 sebanyak 529 bayi (97,6%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio2 sebanyak 13 bayi (2,4%). Bayi yang mendapat imunisasi polio3 sebanyak 522 bayi (96,3%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio3 sebanyak 20  bayi (3,7%). Bayi yang mendapat imunisasi polio4 sebanyak 514 bayi (94,8%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio4 sebanyak 28 bayi (5,2%). Bayi yang mendapat imunisasi Campak sebanyak 503 bayi (92,8%),yang tidak mendapat imunisasi campak sebanyak 39 bayi (7,2%). Dari hasil penelitian data yang di peroleh dari puskesmas Teling Atas tahun 2010, jumlah bayi yang mendapat  imunisasi lengkap sebanyak  370 bayi (57,9%), dan bayi yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap sebanyak 269 bayi (42,1%). Bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkap disebabkan kerena kurangnya pemahaman dari orang tua dan juga masih banyak orang tuan yang percaya terhadap mitosmitos sehingga takut untuk membawa bayi untuk memberikan imunisasi. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa terdapat huungan yang signifikan antar pengetahuan ibu (7) dengan pemberian imunisasi Pada tahun 2011,jumlah bayi yang mendapat imunisasi lengkap sebanyak 275 bayi  (45,5%), dan bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebanyak 330 bayi (54,5%). Dan Bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkap disebabkan kerena kurangnya pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dan juga masih banyak orang tuan yang percaya terhadap mitosmitos sehingga takut untuk membawa bayi untuk memberikan imunisasi. Pada  tahun 2012, jumlah bayi yang  mendapat imunisasi lengkap sebanyak 302 bayi (55,7%), dan  bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebanyak 240 bayi (44,3%).   Dan yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dan juga masih banyak orang tuan yang percaya terhadap mitosmitos yang sudah menjadi sehingga takut untuk membawa bayi untuk memberikan imunisasi. Masih     kurang cakupan imunisiasi sesuai dengan penelitian (8, 9) sebelumnya selain pengetahuan

 

KESIMPULAN

  1. Pada tahun 2010 dari 639 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 370 bayi sedangkan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 269 bayi.
  2. Pada tahun 2011 dari 605 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 275 bayi, dan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 330 bayi. Dan

Pada tahun 2012 dari 542 bayi  yang mendapat imunisasi lengkap 302 bayi, dan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 240 bayi

 

SARAN

  1. Penelitian ini dapat di jadikan acuan untuk penelitian selanjutnya, meneliti variable-variabel lain yang berpengaruh pada pemberian imunisasi dasar pada bayi.
  2. Petugas kesehatan (juru imunisasi dan bidan) dapat meningkatkan kegiatan penyuluhan/pendidikan kesehatan tentang imunisasi dasar pada saat kegiatan posyandu serta mengaktifkan kunjungan rumah untuk sweeping imunisasi bayi.
  3. Bagi ibu yang anaknya belum diimunisasi agar segera membawa bayinya untuk di imunisasi di posyandu atau ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Buku KIA harap dibaca karena banyak informasi tentang tumbuh kembang bayi dan informasi tentang imunisasi dasar.

 

 

 

 

 

Gambaran Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi Usia 0-12 Bulan

 

Robin Dompas

Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Manado

 

ABSTRAK

Latar Belakang : Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi cara perlindunngan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh murah dibandingkan mengobati seseorang apabila jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Tujuan : bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian imunisasi  Dasar pada bayi usia 0-12 bulan di Puskesmas Teling Atas.

Metode : Penilitian  ini bersifat  deskriptif  dengan pendekatan retrospektif . Populasi adalah seluruh bayi yang melakukan imunisasi Pada bayi Usia 0-12 bulan pada bulan Januari sampai Desember 2010 = 639 bayi, Januari sampai Desember 2011 = 605 bayi dan Januari sampai Desember 2012 = 542 bayi. Pelaksanaan penilitian pada bulan Mei 2013 di Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado.  Instrumen yang digunakan adalah Cheklist, data diperoleh dari data  sekunder.

Hasil penelitian : Pada  tahun 2010 dari 639 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 370 bayi sedangkan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 269 bayi. Pada tahun 2011 dari 605 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 275 bayi, dan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 330 bayi. Dan pada tahun 2012 dari 542 bayi  yang mendapat imunisasi lengkap 302 bayi, dan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 240 bayi.

Kesimpulan : Belum semua bayi usia 0 – 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

 

Kata Kunci : imunisasi, bayi

 

 

LATAR BELAKANG

Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan yang saat ini terjadi di Indonesia.  Angka kematian bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak suatu Negara. (1)

Kematian bayi  adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia satu tahun.survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI ) menyatakan bahwa Indonesia angka kematian bayi (AKB) 2007 adalah 34 % per 1.000 kelahiran hidup. Menurut laporan yang di sampaikan organisasi medis kemanusiaan  dunia, Medicins Sans Frontieres (MSF) atau dokter lintas batas yang menyebutkan bahwa Indonesia termasuk 1 dari 6 negara  yang teridentifikasi memiliki jumlah tertinggi anak – anak yang tidak terjangkau imunisasi. Menurut MSF, sebanyak 70% dari anak –anak yang tidak terjangkau program imunisasi rutin terbesar di kongo, India, Negiria, Ethiopia, Indonesia dan Pekistan.(2) Program pengembangan imunisasi sudah berjalan sejak tahun 1974 untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi cara perlindunngan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh murah dibandingkan mengobati seseorang apabila jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Data terakhir WHO, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa tiap tahun akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi misalnya:  batuk rejan 294.000 (20%), tetanus 198.000 (14%), campak 540.000 (38%), di Indonesia sendiri UNICEF mencatat sekitar 30.000 – 40.000 anak di Indonesia setiap tahun meninggal karena serangan campak. (3)

Imunisasi berarti mengebalkan, memberi  kekebalan  pasif (diberi antibodi)  yang sudah jadi seperti Hepatitis B imunoglobin pada bayi yang lahir dari ibu dengan Hepatitis B. Sedangkan vaksinasi berasal dari kata “ vaccine ” yaitu zat yang dapat merangsang timbulnya kekebalan aktif seperti BCG, Polio, DPT, Hepatitis B dan lain-lain (Sunarti.2012). Imunisasi dasar adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi sesorang. Dengan pengertian lain, imunisasi merupakan cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu Antigen. Sehingga, ia apabila terpapar pada Antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit.

Menurut Rizema, P. (2012 ) ada 3 manfaat imunisasi bagi anak, keluarga dan negara  adalah sebagai berikut : 1) Manfaat untuk anak adalah untuk mencegah penderitaan yang di sebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian.; 2) Manfaat untuk keluarga adalah untuk menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan apabila anak sakit. Mendorong keluarga kecil apabila  orang tua yakin menyalani masa kanak-kanak dengan aman.; 3) Manfaat untuk negara adalah untuk mamperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara dan memperbaiki citra bangsa Indonesia diantara segenap bangsa di dunia. (4, 5).

Data dari Direktorat Surveilans Epidemiologi, Imunisasi, dan Kesehatan Matra, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Indonesia, pada tanggal 27 mei 2011 menunjukkan angka cakupan imunisasi di tahun 2010 adalah campak 89,5%, DTP-3 90,4%, polio-4 87,4%, dan hepatitis B-3 mencapai 91%. Dari data yang ada, terlihat angka cakupan imunisasi dasar di Indonesia sudah cukup tinggi, namun pada beberapa daerah masih ditemukan angka cakupan di bawah standar nasional. (6) Menurut data dari Profil Dinkes Manado, 2012 menunjukkan Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi BCG (1 kali), DPT (3 kali), polio (4 kali), hepatitis B (4 kali) dan campak (1 kali). Dari data Sulut tahun 2012 jumlah sasaran bayi sebesar 7840 dan yang mendapat imunisasi lengkap mencapai sebesar 7670 bayi (97,8%) sedangkan yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebesar 170 bayi (2 %) .

Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Teling Atas ,melalui  Profil puskesmas Teling Atas 2012)Tahun 2010 jumlah bayi 639, yang mendapatkan imunisasi lengkap 370 (57.9% ), sedangkan yang tidak mendapat imunisasi lengkap berjumlah 269 (42.09% ). Tahun 2011 jumlah bayi 605, yang mendapatkan imunisasi lengkap 275 (45.54 %), sedangkan yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap berjumlah  330 (54.54 % ) . pada tahun 2012 jumlah bayi 542 yang mendapatkan imunisasi lengkap 302 (55.71%), sedangkan yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap 240 (44.28 %).  penilitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian imunisasi  Dasar pada bayi usia 0-12 bulan di Puskesmas Teling Atas.

 

METODE

Penilitian  ini bersifat  deskriptif  dengan pendekatan retrospektif . Populasi dalam penilitian ini adalah seluruh bayi yang melakukan imunisasi Pada bayi Usia 0-12 bulan pada bulan Januari sampai Desember 2010 = 639 bayi, Januari sampai Desember 2011 = 605 bayi dan Januari sampai Desember 2012 = 542 bayi. Pelaksanaan penilitian pada bulan Mei 2013 di Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado.  Instrumen yang digunakan adalah Cheklist, Pengumpulan data dalam penilitian ini adalah data sekunder dari buku Register imunisasi Profil puskesmas Teling Atas Manado.

 

HASIL 

N

o.

Jenis Imunisasi Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012
Jumlah bayi Capaian Jumlah bayi Capaian Jumlah bayi Capaian
Jlh % Jlh % Jlh %
1 HB 0 639 384 60 605 409 67 542 321 59,2
2 BCG 639 604 95 605 559 92 542 516 95,2
3 DPT/HB1 639 636 100 605 537 89 542 528 97,6
4 DPT/HB2 639 639 100 605 535 88,2 542 523 96,5
5 DPT/HB3 639 639 100 605 532 87 542 514 94,8
6 POLIO 1 639 629 98 605 565 93,3 542 515 95
7 POLIO 2 639 639 100 605 532 87 542 529 97,6
8 POLIO 3 639 539 84 605 562 92,8 542 522 96,3
9 POLIO 4 639 639 100 605 525 86 542 514 94,8
10 CAMPAK 639 602 94 605 542 89,5 542 503 92,8

 

Tabel 1 menunjukkan pada tahun 2010  Di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas bayi yang sudah mencapai target Puskesmas yaitu pada imunisasi DPT/HB1,DPT/HB2,DPT/HB3, dan Polio4. Pada  tahun 2011 yang sudah mendekati target yaitu imunisasi Polio1,Polio3, DPT/HB3, dan BCG. Pada  tahun 2012 yang sudah mendekati target yaitu imunisasi Polio2, DPT/HB1, DPT/HB2, dan polio3.

 

Tabel 2. Distribusi Pemberian Imunisasi Dasar  lengkap dan tidak lengkap Tahun 2010-2012

 

No. Tahun Pemberitahuan Imunisasi Dasar Jumlah Pemberian Jumlah
1 2010 Lengkap 370 (57.9%) 639
Tidak Lengkap 269 (42.1%)  
2 2011 Lengkap 275 (45.4%) 605
Tidak Lengkap 330 (54.5%)  
3 2012 Lengkap 302 (55.7%) 542
Tidak Lengkap 240 (44.3%)  

 

dalam penilitian ini adalah data  sekunder dari buku Register imunisasi Profil puskesmas Teling Atas Manado. Dari tabel diatas tahun 2010, jumlah bayi yang mendapat  imunisasi lengkap sebanyak  370 bayi (57,9%), Pada tahun 2011,jumlah bayi yang mendapat imunisasi lengkap sebanyak 275 bayi (45,5), Dan pada tahun 2012, jumlah bayi yang  mendapat imunisasi lengkap sebanyak 302 bayi (55,7).

 

PEMBAHASAN

Pada tahun 2010 Di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas bayi yang mendapat imunisasi HB0 sebanyak 384 bayi (60%) dan yang tidak mendapat HB0 sebanyak 255 bayi (40%), bayi yang mendapat imunisasi BCG sebanyak 604 bayi (95%)  yang tidak mendapat imunisasi BCG sebanyak 35 bayi (5%), bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB1 sebanyak  636 bayi (99,5%), dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB1 sebanyak 3 bayi (0,5%)  , bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB2 sebanyak 639 bayi (100%), Bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 639 bayi (100%), bayi yang mendapat imunisasi polio1 sebanyak 629 bayi (98%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio1 sebanyak 10 bayi (2%),. Bayi yang mendapat imunisasi polio2 sebanyak 639 bayi (100%), Bayi yang mendapat imunisasi polio3 sebanyak 539 bayi (84%),,dan yang tidak mendapat imunisasi polio3 sebanyak 100 bayi (16%),. Bayi yang mendapat imunisasi polio4 sebanyak 639 (100%),. Bayi yang mendapat imunisasi Campak sebanyak 602 bayi (94%),,yang tidak mendapat imunisasi campak sebanyak 37 bayi (6%),.  Pada  tahun 2011 Di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas bayi yang mendapat imunisasi HB0 sebanyak 409 bayi (67%),  dan yang tidak mendapat HB0 sebanyak 196 bayi (33%), bayi yang mendapat imunisasi BCG sebanyak 559 bayi (92%),  yang tidak mendapat imunisasi BCG sebanyak 46 bayi(8%), bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB1 sebanyak  537 bayi (89%),  dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB1 sebanyak 68 bayi (11%),,bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB2 sebanyak 535 bayi (88%),,dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB2 sebanyak 70 bayi (12%), Bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 532 bayi (87%), dan yang tidak mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 73 bayi (13%), Bayi  yang mendapat imunisasi polio1 sebanyak 565 bayi (93,3%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio1 sebanyak 40 bayi (6,7%), Bayi yang mendapat imunisasi polio2 sebanyak 532 bayi (87%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio2 sebanyak 73 bayi (13%), Bayi yang mendapat imunisasi polio3 sebanyak 562 bayi (92,8%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio3 sebanyak 43 bayi (7,2%), Bayi yang mendapat imunisasi polio4 sebanyak 525 bayi (86%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio4 sebanyak 80 bayi (14%), Bayi yang mendapat imunisasi Campak sebanyak 542 bayi (89,5%), yang tidak mendapat imunisasi campak sebanyak 63 bayi (10,5%).

Pada tahun 2012 Di Wilayah Kerja Puskesmas Teling Atas bayi yang mendapat imunisasi HB0 sebanyak 321 bayi (59,2%), dan yang tidak mendapat HB0 sebanyak 221 bayi (40,8%),, bayi yang mendapat imunisasi BCG sebanyak 516 bayi (95,2%), yang tidak mendapat imunisasi BCG sebanyak 26 bayi (4,8%),, bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB1 sebanyak 528 bayi (97,6%), dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB1 sebanyak 14 bayi (2,4%), bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB2 sebanyak 523 bayi (96,5%), dan yang tidak mendapat imunisasi  DPT/HB2 sebanyak 19 bayi (3,5%),. Bayi yang mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 514 bayi (94,8%), dan yang tidak mendapat imunisasi DPT/HB3 sebanyak 28 bayi (5,2%), bayi yang mendapat imunisasi polio1 sebanyak 515 bayi (95%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio1 sebanyak 27 bayi (5%). Bayi yang mendapat imunisasi polio2 sebanyak 529 bayi (97,6%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio2 sebanyak 13 bayi (2,4%). Bayi yang mendapat imunisasi polio3 sebanyak 522 bayi (96,3%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio3 sebanyak 20  bayi (3,7%). Bayi yang mendapat imunisasi polio4 sebanyak 514 bayi (94,8%), dan yang tidak mendapat imunisasi polio4 sebanyak 28 bayi (5,2%). Bayi yang mendapat imunisasi Campak sebanyak 503 bayi (92,8%),yang tidak mendapat imunisasi campak sebanyak 39 bayi (7,2%).

Dari hasil penelitian data yang di peroleh dari puskesmas Teling Atas tahun 2010, jumlah bayi yang mendapat  imunisasi lengkap sebanyak  370 bayi (57,9%), dan bayi yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap sebanyak 269 bayi (42,1%). Bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkap disebabkan kerena kurangnya pemahaman dari orang tua dan juga masih banyak orang tuan yang percaya terhadap mitosmitos sehingga takut untuk membawa bayi untuk memberikan imunisasi. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa terdapat huungan yang signifikan antar pengetahuan ibu (7) dengan pemberian imunisasi.

Pada tahun 2011,jumlah bayi yang mendapat imunisasi lengkap sebanyak 275 bayi (45,5%), dan bayi             yang    tidak mendapat imunisasi lengkap sebanyak 330 bayi (54,5%). Dan Bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkap disebabkan kerena kurangnya pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dan juga masih banyak orang tuan yang percaya terhadap mitosmitos sehingga takut untuk membawa bayi untuk memberikan imunisasi. Pada  tahun 2012, jumlah bayi yang  mendapat imunisasi lengkap sebanyak 302 bayi (55,7%), dan  bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebanyak 240 bayi (44,3%).   Dan     yang    tidak mendapat imunisasi lengkap disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dan juga masih banyak orang tuan yang percaya terhadap mitosmitos yang sudah menjadi sehingga takut untuk membawa bayi untuk memberikan imunisasi. Masih kurang cakupan imunisiasi yang sesuai penelitian  (8, 9) sebelumnya selain pengetahuan juga

 

KESIMPULAN

  1. Pada tahun 2010 dari 639 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 370 bayi sedangkan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 269 bayi.
  2. Pada tahun 2011 dari 605 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 275 bayi, dan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 330 bayi. Dan
  3. Pada tahun 2012 dari 542 bayi yang mendapat imunisasi lengkap 302 bayi, dan yang tidak mendapat imunisasi lengkap 240 bayi

 

SARAN

  1. Penelitian ini dapat di jadikan acuan untuk penelitian selanjutnya, meneliti variable-variabel lain yang berpengaruh pada pemberian imunisasi dasar pada bayi.
  2. Petugas kesehatan (juru imunisasi dan bidan) dapat meningkatkan kegiatan penyuluhan/pendidikan kesehatan tentang imunisasi dasar pada saat kegiatan posyandu serta mengaktifkan kunjungan rumah untuk sweeping imunisasi bayi.
  3. Bagi ibu yang anaknya belum diimunisasi agar segera membawa bayinya untuk di imunisasi di posyandu atau ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Buku KIA harap dibaca karena banyak informasi tentang tumbuh kembang bayi dan informasi tentang imunisasi dasar.

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang terjadi sejak konsepsi dan terus berlangsung sampai dewasa. Dalam proses mencapai dewasa inilah, anak harus melalui tahap tumbuh kembang. Tercapainya tumbuh kembang optimal tergantung pada potensi biologis. Pengetahuan mengenai dasar-dasar tumbuh kembang anak sangat penting dan harus dikuasi oleh semua tenaga medis. Bila dasar ilmu ini kuat, kita akan sangat mudah mengetahui adanya penyimpangan dan segera dapat menindak lanjuti.

 

4.2 Saran

  1. Tumbuh kembang harus menjadi perhatian bagi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat khususnya supaya anak Indonesia dapat mencapai kesehatan yang optimal.

Diharapkan kepada orang tua dan keluarga agar memberi makanan seimbang kepada bayi dan balita untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi yang menyebabkan terhambatnya pertumbua

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dr. Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1 Buku 1. Jakarta: Salemba Medika.

Kyle, Terri. 2015. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 2 Vol. 1. Jakarta: EGC.

Ranuh, Gde dan Soetjiningsih. 2014. Tumbuh Kembang Anak Edisi 2. Jakarta. EGC.

Wong, Donna L, dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6. Jakarta: EGC.