MOLA HIDATIDOSA

Klarifikasi

Ada bentuk kegagalan kehamilan lain, yaitu vili korialis yang seluruhnya atau sebagian berkembang tidak wajar berbentuk gelembung-gelembung seperti anggur. Kelainan ini disebut mola hidatidosa. 15-20% penderita Mola Hidatidosa dapat berubah menjdai ganas yang di kenal sebagai tumor trofoblas gestasional. Jadi, yang di maksud dengan penyakit tumor trofoblas gestasional adalah mola hidatidosa yang jinak dan tumor trofoblas gestasional yang ganas.

Klarifikasi

  1. Mola hidatidosa komplet

Mola Hidatidosa Komplet (MHK) merupakan kehamilan abnormal tanpa embiro yang seluruh vili korealisnya mengalami degenerasi hidropik yang menyerupai anggur atau mola hidatidosa adalah suatu kondisi tidak normal dari plasenta akibat kesalahan pertemuan ovum dan sperma sewaktu fertilisasi (Sarwono Prawirohardjo, 2003). Yang kemudian ditandai dengan :

  1. Degenrasi vistik dari vili, disertai pembengkakan hidropik
  2. Avaskularitas, atau tidak adanya pembuluh darah janin.
  3. Proliferasi jaringan trofoblastik.

Hasil konsepsi pada kehamilan mola tidak berkembang menjadi embrio setelah pembuahan. tetapi terjadi villi koriales disertai dengan degenerasi hidropik. Rahim menjadi lunak dan berkembang lebih cepat dari usia kehamilan yang normal, tidak dijumpai adanya janin, dan rongga rahim hanya terisi oleh jaringan seperti buah anggur. Kehamilan mola hidatidosa disebut juga dengan kehamilan anggur.

  1. Mola hidatidosa parsial

Seperti pada MHK, tetapi disni masih ditemukan embrio yang biasanya mati pada masa dini. Regenerasi hidropik dari vili bersifat setempat dan yang mengalami hiperplasia hanya sinsitio trofoblas. Gambaran yang khas adalah crikling atau scalloping dari vili dan stroma trophoblastic inclusions. Pada MHP, embrio biasanya mati sebelum trimester pertama. Walaupun pernah dilaporkan adanya MHP dengan bayi aterm.

 

Etiologi

Sampai sekarang belum diketahui etiologi dari penyakit ini. Yang baru diketahui adalah faktor risiko, seperti ini:

  1. Umur – mola hidatidosa lebih banyak ditemukan pada wanita hamil berumur dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun.
  2. Etnik – lebih banyak ditemukan pada mongoloid dari pada kaukasus.
  3. Genetik – wanita dengan balanced translocation mempunyai resiko lebih tinggi
  4. Gizi – mola hidatidosa banyak ditemukan pada mereka yang kekurangan protein.

Gambaran Klinik

dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:

  1. Keluhan utama amenor dan perdarahan per vaginam
  2. Perubahan yang menyertai:
    1. Keluhan utama
    2. Perubahan yang menyetai
    3. Adanya penyulit :
  • Uterus lebih besar dari tuanya kehamilan.
  • Kadar hCG yang jauh lebih tinggi Dari kehamilan biasa. Pada kehamilan biasa, kadar hCG darah paling tinggi 100.000 IU/L, sedangkan pada mola hidatidosa biosa mencapai 5.000.000 IU/L.
  • Adanya kista nutein, baik unilateral maupun bilateral.

 

 

 

 

 

 

  1. Adanya penyulit
  2. Preeklansi
  3. Tirotoksikosis
  4. Imboliparu (jarang)

 

Disamping hal-hal yang tersebut mola hidatidosa menunjukan gambaran kelinik, seperti kehamilan lain, misalnya mual, muntah, dan makan kurang. MHK mempunyai penyulit yang lebih besar  dibandingkan MHP.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PATOFISOLOGI

Faktor ovum

 

Mengalami keterlambatan

dalam pengeluaran

 

 

Kematian ovum

di dalam tubuh

 

 

Mengalami degenerasi

 

 

Jangot-jangot korion yang

tumbuh berganda dan

mengandung cairan

 

Kista-kista kecil

 seperti anggur

 

Mola hidatidosa

                                                                 

Tindakan invasif

 

 

Kuretase                                                         jaringan                    kurang informasi

                                                                                Ulkus                                     tentang prosedur

 

 

 

Perdarahan                                         bakteri mudah masuk      kurang pengetahuan

 

 

 

Hipovolemak                                      Risiko jaringan ulkus      

 

 

 

 

 

 

Menstimulasi reseptor nyeri

 

 

 

Diagnosis

Kehamilan mola hidatidosa dapat diperkirakan bila ditemukan hal-hal tersebut dibawah ini:

  1. Amenor
  2. Perdarahan per vaginam
  3. Uterus lebih besar dari tuanya kehamilan
  4. Tidak ditemukan tanda pasti kehamilan
  5. Kadar β-hCG yang tinggi

Penentuan diagnostik dilakukan dengan USG, yaitu ditemukan gambaran vesikular (gambaran badai salju).

Pada saat diagnosa mola hidatidosa ditegakkan,  pengosongan uterus harus dilakukan. Risiko- risiko yang akan di hadapi bila uterus tidak di kosongkan adalah :

  1. Perdarahan
  2. Invasi trofoblas dan perforasi myometrium.
  3. Penyebaran sel-sel yang mungkin bersifat ganas

Risiko selama evakuasi adalah :

  1. Perdarahan
  2. Perforasi karena alat
  3. Penyabaran sel-sel yang mungkin bersifat ganas

Metode pengosongan uterus secara aktif seperti histerektomi, histeroromi dan penggunaan oksitoksik berkaitan dengan peningkatan kebutuhan kemoterapi dalam menghadapi berbagai derajat keganasan sebesar 3 kali lipat. Meskipun demikian, metode-metode ini perlu segera di lakukan demi keselamatan pasien.

Rencana tatalaksana selanjutanya adalah :

  1. Setelah keguguran, uterus harus di kosongkan dengan alat penghisap.
  2. Jika keguguran tidak terjadi, maka tindakkan mengosongkan uterus harus di lakukan dengan alat penghisap. Tindakkan ini cukup sederhana bila di lakukan pada usia kehamilan ≤ 14 minggu. Juka perdarahan menjadi hemat, oksitosin harus diberikan. Tindakan histerektomi atau histerotomi sudah jarang di lakukan.
  3. Jika ukuran uterus sudah besar sehingga dokter kebidanan ragu untuk melakukan kuretase hisap, induksi abortus harus di lakukan dengan menggunakan prostaglandin dan ditambah dengan oksitosin bila diperlukan. Selanjutnya, mungkin diperlukan tindakan pengosongan uterus dengan cara bedah.
  4. Pada wanita yang usianya lebih tua dan sudah tidak mengharapkan anak, histerktomi mungkin dapat dilakukan, terutama pada keadaan dengan penyebaran sel-sel trofoblas yang dapat dicegah hamper seluruhnya dengan cara menjepit pembuluh-pembuluh darah uterus.

 

Terapi

Karena mola hidatidosa  merupakan suatu kehamilan patologi dan tidak jarang disertai penyulit yang membahayakan jiwa, pada perinsipnya harus segera dikeluarkan. Terapi mola hidatidosa terdiri dari tiga tahap, yaitu:

  1. Perbaikan keadaan umum

Adalah transfuse darah untuk mengatasi sock hipovelemik atau anemi, pengobatan terhadap penyulit, seperti preeklamsi berat atau tirotoksikosis. Setelah penderita setabil, baru dilakukan evakuasi.

  1. Evakuasi

Pada umumnya evakuasi jaringan mola dilakukan dengan kuret vakum, kemudian sisanya dibersihkan dengan kuret tajam. Tindkan kuret hanya dilakukan satu kali. Kuret ulangan hanya dilakukan bila ada indikasi.

Pada kasus mola hidatidosa yang belum keluar gelembungnya, hanrus dipasang dulu laminarisa stift (12 jam sebelum kuret) sedangkan pada kasus yang sudah keluar gelembungnya, dapat segera dikuret setelah keadaan umumnya di stabilkan. Bila perlu dapat diberi narkosis neurolitk.

  1. Tindakan profikalsis

Adalah untuk mencegah terjadinya keganasan paska mola pada mereka yang mempunyai faktor risiko, seperti umur diatas 30 tahun atau gambaran PA yang mencurigakan.

Ada 2 cara yaitu:

  1. Histerektomi dengan jaringan mola in toto, atau beberapa hari pasca kuret tindakan ini dilakukan pada wanita dengan umur diatas 35 tahun serta anak cukup.
  2. Sitostatika profilaksis.

Diberikan kepada mereka yang menolak histerektomi atau wanita muda dengan PA yang mencurigakan.

Caranya:

  • Methotrexate 2 mg/hari atau
  • Actinomycin D 1 flc/hari, 5 hari berturut-turut

 

Tindak lanjut

Tujuannya untuk mendeteksi secara dini adanya perubahan kearah keganasan. Dilakukan selama satu tahun dengan jadwal sebagai berikut:

  1. Tiga bulan pertama : tiap 2 minggu
  2. Tiga bulan kedua : tiap 1 bulan
  3. Enam bulan terakhir : tiap 2 bulan