MAKALAH

MATERNITAS

“KEKERASAN TERHADAP WANITA PADA MASA REPRODUKSI”

Disusun oleh :

LUTVIYAH

2017720145

 

 

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2019

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah maternitas yang berjudul “ Kekerasan Terhadap Wanita pada Masa Reproduksi” dengan tepat waktu tanpa halangan apapun. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas maternitas dan perbaikan nilai.

Saya menyadari sepenuhnya akan kemampuan yang masih terbatas, sehingga banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, masukan, kritik, serta saran yang sifatnya membangun, saya nantikan untuk kesempurnaan makalah ini. Dan dengan ini saya berharap makalah ini dapat memberikan dampak baik bagi saya maupun pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………. ii

BAB I       DATA POKOK BAHASAN………………………………………………. 1

1.1 Issue…………………………………………………………………………….. 1

1.2 Dampak………………………………………………………………………… 1

1.3 Peranan Perawat…………………………………………………………….. 2

1.4 Tujuan………………………………………………………………………….. 2

BAB II    KONSEP DASAR……………………………………………………………… 3

2.1 Kekerasan dalam Rumah Tangga…………………………………….. 3

2.2 Faktor yang Berperan pada Tindak Penganiayaan & ……………

dan Pemukulan ………………………………………………………………. 3

2.3 Karakteristik Korban dan Pelaku Penganiayaan………………… 5

2.4 Siklus Kekerasan dalam Rumah Tangga…………………………… 5

2.5 Kekerasan Selama Kehamilan…………………………………………. 6

BAB III  ASUHAN KEPERAWATAN……………………………………………… 8

3.1 Asuhan Keperawatan Secara Teori…………………………………… 8

BAB IV   PENUTUP………………………………………………………………………. 10

4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………. 10

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

BAB I

DATA POKO BAHASAN

 

  • Issue

Perhatikan statistik dibawah ini:

  1. Diperkirakan bahwa 1 wanita dipukuli setiap 18 detik. Laporan penyerangan terhadap wanita telah meningkat mendekati lebih dari dari 50% dalam 20 tahun terakhir.
  2. Diperkirakan sebanyak 25 juta istri dianiaya oleh suami mereka setiap tahunnya.
  3. Sepanjang hidupnya, sekitar sepertiga wanita akan mengalami kekerasan seksual. Separuh dari mereka, penganiayaan seksual terjadi sebelum mereka berusia 18 tahun.

Kebanyakan kekerasan ini terjadi di dalam rumah; wanita paling cenderung menjadi korban, dan para pelakunya sering kali bukan seorang yang tidak mereka kenal, tetapi pria yang mereka kenal dengan baik.Kehamilan dapat meningkatkan risiko penganiayaan dalam rumah tangga, yang menyebabkan masalah ini sangat penting bagi para perawat maternitas. Episode pemukulan meningkat selama masa kehamilan, dengan insiden yang dilaporkan sebanyak 40% sampai 70% (Helton et al., 1987; Parker et al., 1991; Torres, 1991).

2.1 Dampak

 

  • Gangguan fisik
  • Penyalahgunaan obat-obat terlarang
  • Merasa takut
  • Tidak mampu berfikir jernih
  • Merasa tidak berdaya
  • Mengalami stress pasca trauma
  • Mengalami depresi
  • Rendahnya kepercaya diri dan harga diri

 

  • Percobaan bunuh diri.

 

 

 

 

1.3 Peranan Perawat

Secara umum,peran perawat dalam KDRT diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesi (anjurkan segera melakukan pemeriksaan visum).
  2. Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi korban.
  3. Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan dari kepolisian dan penetapa pemerintahan dari perlindungan dari pengadilan.
  4. Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif (ruang pelayanan khusus).
  5. Lakukan kerjasama yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban dengan pihak kepolisian, dinas social, serta Lembaga social yang dibutuhkan korban.
  6. Memberikan penkes/sosialisasi undang-undang KDRT kepada keluarga dan masyarakat.
    • Tujuan

Untuk mengetahui dan memahami pokok bahasan kekerasan terhadap wanita pada masa reproduksi secara konsep atau asuhan keperawatan.

 

 

BAB II

KONSEP DASAR

 

2.1 Kekerasan dalam Rumah Tangga

Kekerasan dalam rumah tangga, penganiayaan pasangan dan pemukulan merupakan masalah sosial yang ditemukan di semua budaya danlapisan masyarakat. Pemukulan merupakan penyebab cidera terbanyak pada wanita. Pengaruh serius yang segera dapat dilihat akibat pemukulan meliputi cidera berat atau kematian.. Insiden penganiayaan istri sering kali melibatkan penganiayaan anak, pengaruh jangka panjangnya meliputi pengabaian atau penganiayaan anak terus-menerus, keberlanjutan pola kekerasan dalam keluarga, masalah psikopatologisyang serius, dan ganguan dalam keluarga.

Wanita yang menjadi korban penganiayaan sering kali menjadi subjek kekerasan fisik secara berulang, terancam bahaya, atau mengalami perubahan psikologis. Kekerasan fisik yang umumnya terjadi adalah: pemukulan, peninjuan, atau penodongan. Penganiayaan nonfisik dapat meliputi : serangan dan pelecehan verbal,  ganguan emosional, isolasi sosial, ganguan ekonomi, mengejek intelektual, dan memenjarakan di rumah.

 

2.2 Faktor yang Berperan pada Tindak Penganiayaan dan Pemukulan

Faktor diri, budaya, sosial, dan politik turut berperan pada pola prilaku abusif. Beberapa pola tersebut adalah sebagai berikut :

  • Pola keluarga abusif
  • Penciptaan stereotipe peran seks
  • Ketidak seimbangan kekuatan atau status dalam keluarga
  • Agresi yang diakui secara budaya
  • Devaluasi sosial pada wanita
  • Psikopatologi

Anak yang menyaksikan atau mengalami pemukulan lebih cenderung terlibat dalam hubungan yang bersifat abusif. Siklus kekerasan dalam hubungan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mereka belajar bahwa kekerasan normal terjadi dalam keluarga dan bahwa mencintai dan menyakiti adalah hal yang sama. Pelaku penganiayaan pada umunya memiliki harga diri yang rendah, orang yang posesif, dan memiliki perasaan cemburu yang kuat(Chez, 1994).

Sistem keluarga yang disfungsional turut berperan dalam penganiayaan melalui metode tersebut anak belajar untuk menambah kekuasaan, kedekataan, dan kesetiaan.

Teori feminis memandang penganiayaan wanita sebagai bentuk ekspresi dominasi kaum pria yang dimanifestasikan dalam keluarga yang diperkuat oleh lembaga sosial, struktur ekonomi, dan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin.

Akar penyebab dari kekerasan fisik adalah kebutuhan para pelaku pemukulan untuk mendominasi dan mengontrol, yang penting pada penindasan wanita. Anggapan rendah terhadap wanita masih merupakan faktor penyebab terjadinya kekerasan.

Anggapan rendah terhadap wanita masih merupakan faktor penyebab terjadinya kekerasan. Suatu pandangan budaya terhadap wanita sebagai barang atau hak milik dari pria.

Faktor lainnya yang berperan pada kekerasan dalam rumah tangga meliputi toleransi budaya berdasarkan pada kepercayaan terhadap privasi dalam keluarga, pengabaian lembaga dengan tindakan hukum yang kurang memadai terhadap para pelaku pemukulan, tidak terjaminnya ekonomi wanita berhubungan dengan Pendidikan yang lebih rendah dan kesempatan kerja yang lebih sedikit, dan tradisi keagamaan yang mendukung status kerendahan wanita dan menegakan hak-hak pria untuk menerapkan kontrol dalam keluarga.

 

Tipe kekerasan yang berbeda terhadap wanita adalah sebagai berikut :

  • Pemukulan
  • Penganiayaan
  • Penyerangan
  • Penyerangan seksual
  • Perkosaan
  • Inses

2.3 Karakteristik Korban dan Pelaku Penganiayaan

Wanita yang dipukuli (korban) sering kali menghubungkan penganiayaan mereka dengan kekurangan pribadi yang ada pada dirinya yang merupakan tanggung jawab mereka, contoh :apabilamereka tidak bisa menjalankan perannya dan merasa telah gagal sebagai seorang wanita dan mereka pantas mendapatkan hukuman. Setelah bertahun-tahun mendapatkan pesan ini, mereka menginternalisasinya kedalam harga diri mereka yang rendah dan perasaan yang tidak berguna. Dengan percaya bahwa mereka pantas dipukuli, mereka jadi putus asa dan depresi. Pola penganiyaan terjadi berulang, dengan kekerasan hebat yang disengaja yang dapat menyebabkan cedera. Tidak sedikit wanita yang dipukuli akan tetap bertahan dalam hubungan yang abusif, karena mereka merasa  tidak memiliki pilihan lain, bergantung secara ekonomi, memiliki hubungan bersifat traumatik dengan pria (dengan unsur kesetiaan, pantas untuk dipukuli), atau memiliki harapan bahwa pelaku akan berubah.

Pria pelaku pemukulan berasal dari semua kelompok ras, etnik, agama, sosial ekonomi, dan mewakili semua pekerjaan atau profesi. Banyak pria merasa tidak pantas bagi istri merekatetapi mereka menyalahkan dan menghukum istri mereka dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

2.4 Siklus Kekerasan dalam Rumah Tangga

Secara umum KDRT mengikuti suatu siklus, yang terjadi selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

 

Fase I

munculnya ketegangan, konflik, pertentangan, pertengkaran verbal.

  • Wanita mengeluh, pasif atau menarik diri untuk mengelak dari kemarahan pria.
  • Pria melihanya sebagai suatu kelemahan, marah dengan sikap wanita yang mengacuhkan dirinya , dan menyebabkan kemarahan yang memuncak.

Fase II

insiden  pemukulan akut terjadi dengan tindak kekerasan verbal,fisik, dan seksual: berlangsung  dalam beberapa jam 24 jam atau lebih.

  • Wanita sering sekali menunda untuk segera mencari pertolongan, meminimalkan cedera yang terjadi, dalam keadaan syok atau tidak percaya.

Fase III

keduanya merasa lega, pria sering kali mengungkapkan rasa cinta, penyesalan yang mendalam, berprilaku baik, meminta maaf, mengucapkan janji tidak akan mengulangi perbuatan  kasarnya lagi.

 

2.5 Kekerasan Selama Kehamilan

Kehamilan menyebabkan peningkatan episode kekerasan. Banyak wanita pertama kali dipukuli saat suami mereka mengetahui tentang kehamilan tersebut (walker, 1984). Antara 40% – 60% wanita telah mengalami pemukulan selama hamil (parker et al., 1991). Pria pelaku pemukulan seringkali cemburu terhadap janin, memiliki rasa takut bahwa dirinya tidak akan diperhatikan lagi, dan memunculkan sikap marah  kedalam hubunganya dengan wanita. Dengan perkembangan kepribadiannya yang belum matang dan tidak adekuatnya koping yang dimiliki oleh laki-laki tersebut, dirinya menjadi marah dan frustasi, kondisi ini memicu kekerasan kadang kala disertai  dengan tindakan untuk mengakhiri kehamilan baik secara sadar  atau dibawah sadar (Hillard, 1986).

Kekerasan fisik ditunjukan langsung pada perut, payudara dan genitalnya, pemukulan pada wajah dan kepala juga sering dilakukan. Pemukulan selama masa kehamilan menyebabkan tingginya angka persalinan preterm, cedera pada janin, kematian janin, dan bayi baru lahir  dengan berat bayi rendah. Wanita hamil yang dipukuli dianggap berisiko tinggi dan ia mungkin memiliki angka keluhan fisik dan psikologis yang lebih tinggi selama masa prenatal.

Pada masa pascapartum, wanita yang dipukuli dapat mengalami kelelahan secara fisik maupun psikologis. Kebingunganya, ketakutannya, dan keterlibatan dirinya dapat meningkatan risikonya mengalami depresi pascapartum dan mengalami kesulitan untuk membina hubungan kedekatan dengan bayinya.

 

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

 

 

Pengkajian

Kemungkinan Diagnosis Keperawatan  

Intervensi/ Rasional

 

Evaluasi

Cedera fisik(luka memar, luka teriris, bekas cakaran, patah tulang) Risiko cedera Atasi cedera untuk mencegah komplikasi dan membantu pemulihan Cedera pulih tanpa komplikasi
    Berikan tindakan kenyamanan untuk mengurangi nyeri Klien merasa nyaman
Response emosional(takut, tidakberdaya, mengalami depresi) Ketakutan, ansietas, keputusasaan, ketidakberdayaan Bina rasa percaya, tunjukan penerimaan dan penghargaan yang positif untuk membangun hubungan saling percaya Hubungan saling percaya terbina
    Bantu memahami keputusan/pilihan untuk memberdayakan Klien memahami pilihannya.
Bingung, tidak dapat

memtuskan sesuatu

 

Konflik keputusan Bantu untuk mengklarifikasi nilai-nilai yang dimiliki dan kepercayaan terhadap diri sendiri untuk mencapai keputusan terbaik. Klien mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri
Risiko berlanjutanya pemukulan Risiko cedera Bantu klien untuk menentukan seberapa besarrisiko mengalami kekerasan yang lebih hebat (diri sendiri dan anak-anak) untuk mencegah cedera lebih lanjut.

 

Klien dengan jelas menguraikan seberapa besar risiko yang berlanjut

 

    Motivasi klien untuk mencari layanan tempat perlindungan untuk diri dan anak-anak jika risikonya sangat besar Klien mencari tempat perlindungan. Cedera lebih lanjut dapat dicegah.
Pola koping keluarga Ketidakefektifan koping individu Bantu klien mengkaji pola koping keluarga, identifikasi cara yang mungkin dilakukan untuk mengubah pola koping tersebut, rujuk ke konseling keluarga untuk membangun koping yang lebih efektif. Keluarga menggunakan metode koping yang menghindari kekerasan
Tingkat harga diri Gangguan harga diri Bagun harga diri dengan sikap menerima, dukungan, kekuatan, memberdayakan dengan informasi untuk mengubah Klien mengekspresikan penghargaan diri yang lebih positif dan percaya dengan kemampuan yang dimiliki

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

Tindakan kekerasan terhadap wanita merupakan suatu masalah, kebanyakan kasus kekerasan ini terjadi di dalam rumah. Pemukulan dan penganiayaan merupakan pengalaman yang lebih sering terjadi diantara para wanita, banyak peristiwa yang tidak dilaporkan oleh para korban berhubungan dengan keterbatasan mobilisasi dan rasa takut akan dampak dan penolakan.

Pada hubungan yang melibatkan pemukulan, insiden peristiwa tindak kekerasan selama kehamilan meningkat karena peningkatan stress psikologis dalam situasi koping yang mengalami ketegangan. Pola penganiyaan pada masa kanak-kanak sering ditemukan pada pria yang melakukan pemukalan dan penyerangan seksual .

Siklus kekerasan dalam rumah tangga memiliki kecinderungan untuk berulang setelah beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian menjadi semakin sering dan semakin keras.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Koniak-Griffin, Reeder Martin.2011. Vol 2 Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi & Keluarga Edisi 18.Jakarta:Buku Kedoktera