MAKALAH KEPERAWATAN HIV-AIDS

(ANATOMI FISIOLOGI IMUN)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh Kelompok IV:

 

  1. Dewi Purwanti 8. Putri Ailani Fadhila
  2. Diana Rahmawati 9. Sahda Nur Erlinda P
  3. Elsa Annisa Azahro 10. Salsabila Zahra
  4. Hilda Natasa 11. SeptiVani
  5. Indah Pratiwi 12. Shifa Denisa Piarani
  6. Lutviyah 13. Yunovi Purwitasari
  7. Oktaviani Mega

 

Kelas : IV C

 

 

 

 

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2018/2019

 

KATA PENGANTAR

 

Puji serta syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkah, rahmat Nya, dan karunia Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul Anatomi Fisiologi Imun dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini penulis membahas mengenai berbagai Anatomi Fisiologi Imun yang ada dilingkungan sekitar kita untuk proses interaksi. Makalah ini dibuat dengan berbagai sumber dan beberapa bantuan dari pihak lain untuk membantu menyelesaikan makalah. Selama mengerjakan makalah ini, penulis mendapatkan hambatan yang bisa di selesaikan dengan berdiskusi dan membaca dari sumber yang tersedia di perpustakan. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Penulis menerima saran serta kritik yang dapat memperbaiki makalah ini dan menyempurnakan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………………..

  • Latar belakang …………………………………………………..………..
  • Rumusan masalah ………………………………………………..……….
  • Tujuan ………………………………………………..…………………..

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………………………..

  • Pengertian ……………………………………….……………………………..
  • Organ yang terlibat dalam sistem kekebalan tubuh……………………………
  • Mekanisme pertahanan tubuh non-spesifik……………………………………
  • Imunitas……………………………………………………………………….

BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………………..

  • Kesimpulan ………………………………………………………………….
  • Saran …………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

 

  • Latar Belakang

 

Sistem kekebalan tubuh sangat mendasar peranannya bagi kesehatan, tentunya harus disertai dengan pola makan sehat, cukup berolahraga, dan terhindar dari masuknya senyawa beracun ke dalam tubuh.

Pola hidup modern menuntut segala sesuatu dilakukan secara cepat dan instan. Hal ini berdampak juga pada pola makan misalnya sarapan didalam kendaraan, makan siang serba tergesah-gesah, dan malam karena kelelahan jadi tidak ada nafsu makan. Belum lagi kualitas makanan yang dikonsumsi, polusi udara, kurang berolahraga dan stres. Apabila terus berlanjut maka daya tahan tubuh akan terus menurun, lesu, cepat lelah dan mudah terserang penyakit. Sehingga saat ini banyak orang yang masih muda banyak yang mengidap penyakit degeneratif. Kondisi stres dan pola hidup modern serta polusi, diet tidak seimbang dan kelelahan menurunkan daya tahan tubuh sehingga menurunkan kecukupan antibodi. Gejala menurunnya daya tahan tubuh seringkali terabaikan sehingga timbul berbagai penyakit infeksi, penuaan dini pada usia dini.

 

  • Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian sistem imun?
  2. Organ apa saja yang terlibat dalam sistem kekebalan tubuh?
  3. Bagaimana mekanisme pertahanan sistem imun?

 

  • Tujuan

Untuk mempelajari dan mengetahui sistem imun dimulai dari pengertian, organ-organ yang terlibat dan mekanisme pertahanan sistem imun.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

  • Pengertian

 

Sistem imun (bahasa Inggris: Immune System) adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau seragan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan juga berperan  dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada automunitas, dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor.

Sistem kekebalan atau sistem imun atau sistem adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.

 

  • Organ yang terlibat dalam sistem kekebalan tubuh.

Sistem imunitas manusia berhubungan erat dengan sistem limfatik, karena itu organ-organ yang berperan disini adalah organ-organ sistem limfatik. Dengan menjadi dua, yaitu:

  1. Organ limfatik primer
  2. Timus

Suatu jaringan limfatik yang terletak disepanjang trakea di rongga dada bagian atas. Fungsinya memproses limfosit muda menjadi T limfosit.

  1. Sumsum Tulang

Jaringan lunak yang ditemukan pada rongga interior tulang yang merupakan tempat produksi sebagian besar sel darah baru. Sumsum tulang meru[akan jaringan limfatik karena memproduksi kimfosit muda yang akan diproses pada timus atau tempat-tempat lainnya untuk menjadi limfosit T atau limfosit B.

  1. Organ limfatik sekunder

Tonsil adalah jaringan lymphatic yang terdiri dari kumpulan-kumpulan llimposit.

Fungsi : Memproduksi lymphatic dan antibodi yang kemudian akan masuk kedalam cairan lymph.

Tonsil terletak pada dinding dalam nosopharynx (tonsila pharingea) fosa tonsilaris disamping belakang lidah (tonsil palatina) dibawah lidah (tonsila liqualis).

  1. Nodus Limfa adalah titik disepanjang pembuluh limfa yang memiliki ruang (sinus) yang mengandung limfosit dan makrofag.

Nodus limfe berfungsi sebagai :

Penyaring mikroorganisme dalam limfe ketika cairan tersebut melewati nodus. Bila jaringan terinfeksi ringan, infeksi tersebut akan diatasi oleh sel-sel nodus sehingga nyeri sert bengkak mereda. Apabila infeksinya berat, organisme penyebab infeksi akan menyebabkan peradagan akut dan destruksi sehingga terbentuklah abses didalam nodus tersebut. Apabila bakteri tidak berhasil dirusak oleh nodus, bakteria tersebut dapat masuk ke dalam aliran limfe dan menginfeksi sirkulasi sistemik dan menimbulkan septikemia.

  1. Memproduksi limfosit baru untuk aliran darah. Sel-sel di dalam nodus bermultiplikasi secara kinstan dan sel-sel yang baru terbentuk akan dibwa oleh cairan limfe.
  2. Nodus dapt memproduksi beberapa antibodi dan antitoksin untuk mencegah infeksi.

Limpa ialah sebuah kelenjar berwarna ungu tua yang terletak disebelah kiri abdomen didaerah hipogastrium kiri dibawag iga kesembilan, sepuluh, dan sebelas. Limpa berdekatan pada fundus dan permukaan luarnya menyentuh diafragma. Limpa menyentuh ginjal kiri, kelokan kolon dikiri atas, dan ekor pankreas.

Limpa terdiri atas struktur jaringan ikat. Diantara jalinan-jalinan itu terbentuk isi limpa atau pulpa yang terdiri atas jaringan limfe dan sejumlah besar sel darah. Limpa dibungkus oleh kapsul yang terdiri atas jaringan kolagen dan elastis yang terdiri dan beberapa serabut otot halus. Serabut otot halus ini berperan seandainya ada sangat kecil bagi lipa manusia. Dari kapsul itu keluar tajuk-tajuk trabekulae yang masuk ke dalam jaringan limpa dan membaginya ke dalam beberapa bagian.

Pembuluh darah limpa masuk dan keluar melalui hilum yang berada di permukaan dalam. Pembuluh-pembuluh darah itu menuangkan isinya langsung ke dalam pulpa, sehingga darahnya dapat bercampur dengan unsur-unsur limpa dan tidak seperti pada organ-organ yang lain dipisahkan oleh pembuluh darah. Disini tidak terdapat sistem kapiler biasa. Tetapi langsung berhubungan dengan sel-sel limpa. Darah yang mengalir dalam limpa dikumpulkan lagi oleh sistem sinus yang bekerja seperti vena dan yang mengantarkannya ke dalam cabang-cabang vena. Cabang-cabang ini bersatu dan membentuk vena limpa (vena lenalis). Vena ini membawa darahnya masuk ke peredaran gerbang (peredaran portal) dan diantarkan ke hati.

Fungsi limpa :

Sewaktu masa janin limpa membentuk sel darah merah dan mungkin pada orang dewasa juga masih mengerjakannya bila sumsum tulang rusak. Sel darah merah yang sudah rusak dipisahkan dari sirkulasi.

Limpa juga menghasilkan limfosit. Diperkirakan juga limpa bertugas menghancurkan sel darah putih dan trombosit. Sebagai bagian dari sistema retikula endoteleal, limpa juga terlibat dalam perlindungan terhadap penyakit dan menghasilkan zat-zat antibodi.

  • Mekanisme pertahanan tubuh non-spesifik

Mekanisme ini merupakan pertama pertahanan umum; mekanisme ini mencegah masuknya dan meminimalisasi jalan masuk mikroba dan materi asing yang lebih lanjut kedalam tubuh. Terdapat 5 mekanisme pertahanan tubuh non-spesifik yang utama:

  1. Pertahanan pada permukaan tubuh
  2. Fagositosis
  3. Zat anti mikroba alami
  4. Respons inflamasi
  5. Surveilans imunologis.

 

  • Pertahanan pada permukaan tubuh

Saat kulit dan membran mukosa utuh dan sehat, kulit dan memberan mukosa dapat memberikan barier fisik yang efisien untuk menyerang mikroba. Lapisan luar dari kulit dapat ditembus oleh hanya sedikit bakteri. Selain itu, mukus yang disekresi oleh membran mukosa akan menangkap mikroba dan materi asing lainnya yang terdapat pada permukaannya yang lengket. Sebum dan keringat yang disekresi pada permukaan kulit mengan dung zat antibakteri dan anti jamur.

Rambut didalam hidung bekerja sebagai filter kasar dan bekerja sebagai silia disaluran napas yang mengeluarkan mukus dan materi asing yang terhirup masuk menuju tenggorokan. Kemudian, dibatukkan atau ditelan.

Aliran urine satu arah dari kandung kemih meminimalkan resiko mikroba turun melalui uretra ke kandung kemih.

 

  • Fagositosis

Sel pertahanan fagositik, seperti makrofag dan neutrofil, bergerak kesisi inflamasi dan infeksi (kemotaksis) karena neutrofil sendiri dan mikroba yang menyerang melepaskan zat kimia yang menariknya (kemoatraktans). Fagosit menangkap partikel  dengan menelannya melalui masa tubuh mereka atau mengekstensikan pseudopodia yang panjang ke partikel tersebut, menangkap dan membelit tubuh partikel tersebut. Sel ini bersifat non selektif terhadap sel targetnya; sel ini akan meningkat, menelan dan mencerna sel atau partikel asing.

Makrofag memiliki peran yang penting sebagai penghubung antara mekanisme pertahanan spesifik dan non-spesifik. Setelah menelan dan mencerna antigen, makrofag bekerja sebagai sel penampil antigen (antigen-presenting cell), menunjukkan antigennya pada permukaan selnya untuk menstimulasi limfosit T dan mengaktifkan respon imun.

 

 

  • Zat Antimikroba Alami

Asam hidroksida (HCL). Zat ini berada dalam konsentrasi tinggi di dalam getah lambung, dan membunuh sebagian besar mikroba yang ditelan.

Lisozim, adalah protein berukuran kecil yang mengandung antibakteri dan berada di granulosid, air mata, dan sekresi tubuh lainnya, kecuali keringat, urin, atau cairan serebrospinal.

Antibodi, berada dalam sekresi nasal dan salifa, serta merupakan mikroba yang tidak aktif.

Saliva, saliva atau air ludah disekresi di dalam mulut dan membersihkan sisa makanan yang jika tidak dibersihkan dapat mendorong pertumbuhan bakteri. Saliva bersifat sedikit asam dan mengandung sedikit antibakteri.

Interferon, zat ini diproduksi oleh limfosit T dan oleh sel yang telah diserang oleh virus. Zat ini mencegah replikasi virus di dalam sel yang terinfeksi virus ke sel yang sehat.

Komplemen, adalah suatu sistem yang terdiri atas sekitar 20 protein yang ditemukan di dalam darah dan jaringan. Komplemen diaktifkan oleh keberadaan kompleks imun (suatu antigen dan antibodi yang berikatan bersama) dan oleh gula asing pada dinding sel bakteri. Komplemen :

1) mengikat dan merusak dinding sel bakteri, dan dengan demikian menghancurkan mikroba

2) mengikat dinding sel bakteri, menstimulasi fagositosis melalui sel neutrofil dan makrofag

3) menarik sel fagosit, seperti neutrofil, ke area infeksi, yakni menstimulasi kemotaksis.

 

  • Respons Inflamasi

Respons ini adalah respons fisiologis terhadap kerusakan jaringan dan disertai oleh serangkaian karakteristik perubahan lokal. Respons ini biasanya berlangsung saat mikroba telah mengatasi mekanisme pertahanan non spesifik lainnya. Tujuan respons ini adalah untuk melindungi, mengisolasi, menon-aktifkan, serta menyingkirkan agen penyebab dan jaringan yang rusak sehingga berlangsung proses penyembuhan.

Konsisi inflamasi dalam bahasa latin dikenal dengan penambahan akhiran ‘itis’ misal apendisitis (peradangan apendiks) dan laringitis (peradangan laring). Penyebab inflamasi adalah mikroba (misal virus, bakteri, protozoa, jamur), agen fisik (organik misal toksin mikroba dan racun organik, seperti pembasmi hama dan non organik misal ; asam, basa).

Inflamasi akut. Episode inflamasi biasanya berlangsung singkat, missal beberapa hari sampai beberapa minggu, dan dapat berkisar dari ringan sampai berat. Tanda utama inflamasi adalah kemerahan, panas, nyeri, bengkak, dan gangguan fungsi.

Sebagian besar renpons inflamasi sangat bermanfaat dalam meningkatkan pengeluaran agen yang berbahaya dan mempercepat penyembuhan. Respons Inflamasi akut adalah sebagai berikut :

  1. Peningkatan aliran darah

Setelah cedera, arteriol yang memperdarahi area yang rusak dan kapiler sekitarnya akan berdilatasi dengan tujuan meningkatkan aliran darah ke area cedera. Hal ini disebabkan terutama oleh pelepasan local sejumlah perantara kimia dari sel yang rusak, misal histamin dan serotonin. Peningkatan aliran darah ke area jaringan yang rusak memberikan lebih banyak oksigen dan nutrient bagi aktivitas selular yang meningkat yang menyertai inflamasi. Peningkatan aliran darah menyebabkan peningkatan suhu tubuh dan edema akibat inflamasi.

  1. Peningkatan pembentukan cairan jaringan

Salah satu tanda utama inflamasi adalah bengkak (edema) jaringan yang terkena. Hal ini disebabkan oleh cairan yang meninggalkan pembuluh darah sekitar cedera dan masuk ke ruang intertisial. Hal ini sebagian disebabkan peningkatan permeabilitas kapiler akibat zat perantara inflamasi, seperti histamine, serotonin, prostaglandin, dan sebagian lagi disebabkan peningkatan tekanan di dalam pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan aliran. Sebagian besar cairan jaringan yang berlebihan ini mengalir ke pembuluh limfatik, membawa jaringan yang rusak, sel yang mati dan rusak, serta toksin di dalamnya.

Protein plasma yang normalnya tetap di dalam aliran darah, juga menerobos ke jaringan melalui dinding kapiler yang bocor. Hal ini meningkatkan tekanan osmotic cairan jaringan dan menarik lebih banyak cairan keluar dari darah. Protein ini meliputi antibodi, yang melawan infeksi, dan fibrinogen yaitu suatu protein koagulasi. Di dalam jaringan, fibrinogen diubah oleh tromboplastin, membentuksuatu jaringan non-permeabel di dalam ruang intertisial, yang membatasi area yang terinflamasi dan membantu membatasi penyebaran infeksi. Sebagian pathogen, misal streptococcus pyogenes, yang menyebabkan infeksi kulit dan tenggorok, melepaskan toksin yang menghancurkan jaringan fibrin dan meningkatkan penyebaran infeksi ke jaringan yang sehat dan berdekatan.

 

  1. Perpindahan leukosit

Pada tahap akut, leukosit yang sangat berperan penting adalah neutrofil, yang melekat pada pembuluh darah, sel sendotelial dan masuk ke jaringan, dimana sel ini berfungsi dalam fagositosis jaringan. Aktivitas fagosit ditingkatkan dengan meningkatkan suhu tubuh (local dan sistemik) akibat inflamasi. Setelah sekitar 24 jam, makrofag menjadi jenis sel yang dominan di area yang terinflamasi, dan makrofag menetap di jaringan jika situasi tidak pulih. Keadaan inilah yang menyebabkan inflamasi kronik. Makrofag memfagosit jaringan yang rusak atau mati, bakteri, dan materi antigen lain, serta neutrofil yang mati/rusak. Sebagian mikroba tetap hidupdi pencernaan dan dapat menjadi sumber yang berpotensi menyebabkan infeksi mendatang, misal Mycobacterium tuberculosis.

Leukosit (neutrofil dan makrofag) ditarik oleh zat kimia ke area inflamasi (peristiwa ini disebut kemotaksis). Kemoatraktans bekerja dengan menahan leukosit yang berada di area yang terinflamasi, bukan secara aktif menarik leukosit dari area tubuh yang jauh. Kemoatraktans meliputi toksim mikroba, zat kimia yang dilepaskan dari leukosit, prostaglandin dari sel yang rusak, dan protein komplemen.

 

 

 

  1. Peningkatan suhu inti

Respons inflamasi dapat disertai peningkatan suhu tubuh (pireksia), khusunya jika terdapat infeksi yang signifikan. Suhu tubuh meningkat saat pirogen endogen (interleukin 1) dilepaskan dari makrofag dan granulosit dalam berespons terhadap toksin mikroba atau kompleks imun. Interleukin 1 adalah perantara kimia yang mengatur (menyetel) thermostat suhu tubuh di hipotalamus pada derajat yang tinggi dan  menyebabkan pireksia serta gejala lain yang dapat menyertai inflamasi, misal keletihan dan penurunan selera makan. Pireksia meningkatkan laju metabolisme sel di area yang terinflamasi dan akibatnya terjadi peningkatan kebutuhan oksigen dan nutrien. Peningkatan suhu jaringan yang terinflamasi berguna untuk menghambat pertumbuhan dan pembelahan mikroba, serta meningkatan aktivitas fagosit.

 

Subtansi Dibuat oleh Pemicu Kerja utama subtansi
Histamin Sel mast (disebagian besar jaringan), basofil (darah); disimpan digranul sitoplasma Antibodi berikatan dengan sel mast dan basofil Vasodilatasi, gatal, meningkatnya permeabilitas vaskular, degranulasi, kontraksi otot polos (misal bronkokonstriksi).
Serotonin (5-HT) Trombosit sel mast dan basofil (disimpan digranu), dan juga di SSP (bekerja sebagai neurotransmiter) Saat trombosit di aktivasi dan saat sel mast/basofil mengalami degranulasi Vasokontriksi, meningkatnya permeabilitas vaskular.
Prostaglandin Hampir semua sel; tidak disimpan, tetapi dibuat oleh membran sel jika perlu Banyak stimuli yang berbeda, misal obat, toksin, perantara (mediator) inflamasi lain, hormon, trauma. Beragam, kadang berlawanan, misal demam, nyeri vasodilatasi, atau vasokonstriksi, meningkatnya permeabilitas vaskular.
Heparin Hati, sel mast, basofil (disimpan digranul sitoplasma). Dilepaskan saat degranulasi sel. Antikoagulan darah, yang memelihara suplai darah ke jaringan cedera dan membersihkan mikroba dan produksi sisa.
Bradikinin Jaringan dan darah Saat pembekuan darah, ketika trauma, dan inflamasi. Nyeri vasodilatasi

 

Nyeri terjadi saat pembengkakkan area sekitar cedera karena menekan ujungsaraf sensori. Nyeri diperburuk dengan perantara kimia proses inflamasi, misal bradikinin, prostaglandin, yang meningkatkan sensitivitas ujung saraf sensori terhadap stimulus yang menyakitkan. Walaupun nyeri merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan, tetapi nyeri dapat secara tidak langsung mempercepat kesembuhan karena mendorong perlingungan terhadap sisi rusak.

 

  1. Supurasu (pembentukan pus).

Pus terdiri atas fagosit yang mati, sel mati, sisa selm fibrin, eksudat inflmasi, serta mikroba yang hidup dan yang mati. Pus mengandung membrane kapiler darah yang baru, fagosit, dan fibroblast. Penyebab mikroba piogenik yang umum adalah staphylococcus aureus dan streptococcus pyognes, sejumlah kecil pus membentuk bisul dan pus yang banyak membuat abses.S, Aureus memproduksi enzim koagulase yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin, melokalisasi pus. S, Pyognes memproduksi toksin yang menghancurkan jaringan dan menyebabkan penyebaran infeksi.

 

Hasil akhir dari inflamasi akut dapat berupa :

  • Penyembuhan (resolusi);

Resolusi terjadi saat penyebab telah berhasil diatasi. Sel yang rusak dan fibrin sisa disingkirkan, diganti dengan jaringan yang baru dan sehar, serta perbaikan sempurna, dengan atau tanpa pembentukan parut.

  • Perkembangan inflamasi kronik;

Inflamasi akut dapat menjadi kronik jika penyembuhan (resolusi) tidak sempurna, missal jika mikroba hidup tetap di sisi cedera, seperti pada abses, infeksi, luka, dan infeksi tulang.

Inflamasi kronik, proses ini sangat mirip dengan inflamasi akut, tetapi karena proses berlangsung lebih lama, lebih banyak jaringan yang mungkin rusak. Sel yang terlibat dalam inflamasi, terutama linfosit bukan neutrophil dan fibroblast juga diaktivasi membersihkan infeksi, maka tebentuk granuloma yang mengandung kumpulan sel pertahanan tubuh. Inflamasi kronik dapat disebabkan komplikasi inflamasi akut atau paparan kronik terhadap suatu iritan.

Jaringan fibrosa terbentuk saat terdapat jaringan yang hilang atau sel yang rusak tidak dapat bergenerasi, misal setelah inflamasi kronik, iskemia persisten, supurasi, trauma luas, kemudian seiring waktu, kapiler yang baru dan materi inflamasi disingkirkan, dan hanya menyisahkan serat kolagen yang disekresi oleh fibroblas. Jaringan fibrosa dapat menimbulkan efek merusak yang berlangsung seumur hidup, seperti efek berikut ini.

 

Proses ini terdiri atas pembentukan jaringan fibrosa dan dapat membatasi pergerakan, missal antara lapisan pleura, mencegah inflasi paru; antara lengkung usus, menggangu peristalsis.

 

  1. Fibrosa infark

Penyumbatan pembuluh darah oleh trobus atau embolus menyebabkan infark. Fibrosis atau infark yang besar atau banyak infark kecil dapat menyebabkan berbagai disfungsi organ, missal di jantung, otak, ginjal, dan hati.

  1. penyusutan jaringan

Hal ini terjadi saat jaringan fibrosa menua. Efeknya bergantungan pada sisi dan sejauh mana fibrosa terjadi, missal saluran kecil, seperti pembuluh darah, ureter, dan uretra dapat menjadi sempit atau terobstruksi lalu kehilangan elatisitasnya (kontraktur). Kontraktur dapat membatasi sandi yang cedera.

 

  • Surveilans imunologis

Suatu populasi lomfosit, yang disebut sel pembunuh alami (natural killer, NK), secara konstan mengawasi tubuh mencari sel yang abnormal. Sel yang terinfeksi virus atau sel yang bermutasi dapat menjadi ganas (malignan), serta sering menunjukkan penanda yang tidak umum pada membran sel mereka, yang dikenal dengan sel pembunuh alami. Setelah sel abnormal terdeteksi, sel NK dengan segera membunuh sel abnormal tersebut. Walaupun sel NK merupakan salah satu jenis limfosit, sel ini jauh kurang selektif terhadap sel targetnya dibandingkan sel T dan sel B.

 

 

Imunitas

Jenis sel yang terlibat dalam imunitas adalah limfosit. Sel darah putih ini dibuat di dalam sumsum tulang, dan memiliki satu inti sel yang besar. Setelah dilepaskan ke aliran darah dari sumsum tulang, limfosit lebih lanjut diproses untuk membuat dua jenis sel yang scara fungsional berbeda.

  1. Limfoit T.

Limfosit T diaktifkan oleh kelenjar timus yang berbeda di antara jantung dan sternum. Hormon timosin, dihasilkan oleh timus, bertanggung jawab untuk meningkatkan proses, yang menyebabkan pembentukan limfosit T yang benar-benar terdifensiensi, matur, dan fungsional. Penting untuk dipahami bahwa limfosit T telah deprogram hanya untuk menggali satu jenis antigen, jadi saat terpapar oleh antigen selanjutnya, tubuh tidak akan bereaksi dengan antigen lain, betapapun bahayanya antigen tersebut. Dengan demikian, limfosit T yang dibuat, misalnya untuk mengalami virus cacar air tidak akan bereaksi terhadap virus campak, sel kanker, atau bakteri tuberculosis. Limfosit T memberikan imunitas diperantarai sel.

  1. Linfosit B.

Limfosit B diproduksi dan diproses di dalam sumsum tulang. Perannya dalam produksi antibody (immunoglobulin) adalah protein yang dirancang untuk berikatan dengan antigen dan menghancurkanya. Seperti limfosit T, tiap limfosit B juga deprogram hanya satu antigen khusus; antibody yang dilepaskan bereaksi terhadap satu jenis antigen saja.

 

Imunitas Diperantarai Sel

Limfosit T yang telah di aktifkan di dalam kelenjar timus dilepaskan ke sirkulasi. Saat limfosit T terpapar antigennya untuk pertama kali, limfosit T menjdi tersensitisasi. Jika antigen berasal dari luar tubuh, antigen perlu di tampilkan pada permukaan sel penampil antigen. Sel penampil antigen, yaitu magrofag, merupakan bagian pertahanan non-spesifik karena magrofag menelan dan mencerna antigen tanpa membeda-bedakan, namun juga berpartisipasi dalam respon imun. Setelah magrofag mencerna antigen , lalu membawa sebagian besar sisa antigen di membrane selnya dan menampilkannya pada permukaannya. Dalam perjalanan sekitar tubuh, magrofag tetap menampilkan sisa antigen, magrofah akhirnya terpapar dengan limfosit T yang bekerja spesifik pada antigen tertentu.

Jika antigen merupakan sel tubuh yang abnormal, seperti sel kanker, sel ini juga akan tampil sebagai materi asing pada membran sel nya yang akan menstimulasi pembelahan dan proliferasi limfosit T (ekspansi klonal) empat jenis limfosit T sebagai berikut :

  1. Sel T memori

Sel yang hidup lama ini bertahan hidup setelah ancaman dinetralkan dan memberikan imunitas diperantarai sel dengan berespon secara cepat terhadap paparan antigen yang sama lainnya.

  1. Sel T sitotoksik

Sel ini secara langsung menon-aktifkan sel yang membawa antigen. Sel ini melekatkan diri pada sel target dan melepaskan toksin yang sanagt kuat dan efektif karena sel kedua ini sangat berdekatan. Peran utama limfosit T sitotoksik adalah menghancurkan sel tubuh yang abnormal, missal sel yang terinfeksi dan sel kanker.

  1. Sel T helper

Sel ini penting untuk memperbaiki fungsi bukan hanya imunitas diperantarai sel (cell-mediated immunity). Tetapi juga imunitas yang di perantarai antibodi (antibody-mediated immunity) peran utama ini dalam imunitas ditekankan pada situasi ketika sel ini dihancurkan, seperti pada penyakit AIDS oleh HIV. Saat jumlah limfosit turun drastis, maka seluruh system imun terganggu. T helper merupakan limfosit T yang umum, fungsi utamanya : produksi zat kimia khusus yang disebut sitokin (misal interleukin dan interveron yang menunjang serta meningkatkan limfosit T sitotoksik juga magrofag) dan bekerja sama dengan limfosit B menghasilkan antibodi : walaupun limfosit B bertanggung jawab sebagai penghasil antibodi, juga harus di stimulus oleh limfosit T helper terlebih dahulu.

  1. Sel T supresor

Sel ini bekerja sebagai “rem”, menghentikan limfosit T dan  limfosit B yang aktif. Selain ini membatasi efek yang kuat yang berpotensi membahayakan respon imun.

 

Imunitas Diperantarai Antibodi (Humoral)

Limfosit B, tidak seperti limfosit T, yang bebas beredar ditubuh, terbatas berada di jaringan limfoid (misal: limpa dan nodus limfe). Limposit B, tidak seperti limfosit T, mengenal dan berkaitan dengan antigen tanpa harus diperkenalkan oleh sel penampil antigen. Setelah antigen dideteksi dan berkaitan dengan limfosit B, dengan bantuan limfosit T helper, limfosit B membesar dan mulai membelah. Limfosit B memproduksi dua jenis sel fungsional yang berbeda, yaitu sel plasma dan sel memori B.

  1. Sel Plasma.

Sel ini menyekresikan antibodi ke darah. Antibodi dibawa oleh jaringan, sementara limfosit B sendiri tetap berada di dalam jaringan limfoid. Hidup sel plasma tidak lebih lama dari 1 hari dan menghasilkan hanya satu jenis antiboodi yang bekerja untuk antigen tertentu saja yang awalnya berkaitan dengan limfosit B. Antibodi bekerja dan berkaitan dengan antigen, menamakan antigen tersebut sebagai target untuk sel pertahanan (seperti limfosit T sitotoksik dan makrofag), berkaitan dengan toksin bakteri, menetralkannya, dan mengaktifkan komplemen. Terdapat lima jenis antibodi, yang diringkas pada tabel.

 

Lima jenis antibodi.

 

Jenis Antibodi Fungsi
IgA Ditemukan pada sekret tubuh seperti ASI dan saliva, serta mencegah antigen menmbus membran epitelium serta menyerang jaringan yang lebih dalam.
IgD Dibuat oleh sel B dan ditampilkan pada permukaannya. Antigen terikat disini untuk mengaktifkan sel B.
IgE Ditemukan pada membran sel (misal: basofil dan sel mast), dan jika berikatan dengan antigen akan mengaktifkan respons imun. Antibodi ini sering ditemukan saat pergi.
IgG Merupakanjenis antibodi yang paling banyak dan paling besar. Antibodi ini menyerang banyak patogen dan menembus plasenta untuk melindungi janin.
IgM Dihasilkan dalam jumlah besar saat respons primer dan merupakan aktivator komplemen yang kuat.
   

 

  1. Sel B memori

Sel T memori, sel ini tetap berada dalam tubuh untuk waktu yang lama setelah episode awal saat pertama kali terpapar antigen, dan dengan cepat berespons terhadap pemaparan antigen yang sama berikutnya dengan menstimulasi produksi sel plasma penyekresi antibodi.

 

Imunitas Didapat

 

Saat antigen, misal makroba, terpapar untuk pertama kali, terjadi respons primer, yakni saat kadar antibodi yang kecil dapat terdeteksi daalam darah selama 2 minggu. Walaupun responsnya cukup untuk mengatasi antigen, kadar antibodi kemudian turun kecuali terpapar antigen yang sama dalam waktu singkat (2-4 minggu). Pemaparan dengan antigen berikutnya menghasilkan respons sekunder yang ditandai dengan respons cepat sel B memori yang menyebabkan peningkatan produksi antibodi. Peningkatan produksi antibodi lebih lanjut dapat dicapai saat pemaparan berikutnya hingga akhirnya kadar yang maksimum dapat tercapai. Prinsip ini digunakan dalam imunisasi aktif terhadap penyakit infeksi.

Imunitas bisa didapat secara alami atau buatan, kedua bentuk ini dapat aktif atau pasif. Imunitas aktif berarti bahwa individu telah berespons terhadap antigen dan menghasilkan antibodinya sendiri, limfosit diaktivasi, dan sel memori yang dibentuk memberikan resistansi dalam jangka panjang. Pada imunitas pasif, individu dibrikan antibodi yang dihasilkan oleh orang lain. Antibodi akhirnya hancur sehingga imunitas pasif biasanya berlangsung relatif singkat.

 

Imunitas aktif didapat secara alami.

Tubuh dapat distimulasi untuk mengahsilkan antibodiny sendiri dengan cara sebagai berikut

  1. Mengalami penyakit.

Selama perjalanan penyakit, limfosit B berkembang menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi dalam jumlah yang cukup untuk mengatasi infeksi. Setelah pulih, sel B memori tetap mampu menghasilkan lebih banyak sel plasma yang menghasilkan antibodi spesifik, memberikan imunitas untuk infeksi yang akan datang oleh mikroba yang sama.

  1. Mengalami infeksi subklinis.

Kadang infeksi mikroba tidak cukup berat untuk menunjukan gejala klinis penyakit, tetapi menstimulasi sel B memori yang cukup untuk menciptakan imunitas. Pada kasus lain, infeksi subklinis dapat sangat ringan untuk menstimulasi respon yang adekuat agar imunitas terjadi.

 

Imunitas aktif didapat secara buatan.

Jenis imunitas ini terjadi dalam berespon terhadap pemberian mikroba yang mati atau hidup yang secara buatan (artifisial), dilemahkan (vaksin), atau toksin yang dinonaktifkan (toksoid). Vaksin dan toksoid tetap memiliki sifat antigen yang menstimulasi pembentukan imun, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Banyak penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi buatan.

 

Imunitas aktif didapat secara alami

Jenis imunitas ini diperoleh sebelum lahir melalui antibodi yang menembus plasenta ke ajnin dan pada bayi melalui ASI. Berbagai antibodi diberikan, bergantung pada imunitas aktif ibu. Limfosit bayi tidak distimulasi dan imunitas berumur pendek.

 

Imunitas pasif didapat secara buatan.

Pada jenis imunitas ini, antibodi siap saji, didalam serum manusia atau hewan, diinjeksikan ke resipien. Sumber antibodi ini dapat berasal dari seorang individu yang telah sembuh dari infeksi atau hewan (biasanya kuda) yang telah di imunisasi aktif secara buatan. Imunoglobulin spesifik dapat diberikan secara profilaksis untuk mencegah perkembangan penyakit pada orang yang telah terpapar infeksi atau secara terapeutik setelah penyakit terjadi

BAB III

 

PENUTUP

 

 

3.1 Kesimpulan

 

Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Jika sistem ini terlalu aktif akan terjadi autoimunitas seperti alergi atau hipersensitivitas.

3.2 Saran

setelah mengetahui teori dasar tentang imunologi, kita diharapkan mampu meningkatkan atau mempertahankan kekebalan tubuh kita dengan menjalankan gaya hidup yang sehat agar terhindar dari berbagai macam infeks

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Waugh Anne, Allison Grant. 2011. Dasar-dasar anatomi dan fisiologi. Jakarta; Salemba Medika

Watson, Roger. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat edisi 10. Jakarta: EGC