ASUHAN KEPERAWATAN

GANGGUAN PERDARAHAN PADA AWAL KEHAMILAN

Disusun oleh :

KELOMPOK 1

4 C

 

  1. DEWI ARYANI
  2. DESTI CITRA
  3. CHAIRUNNISA
  4. A
  5. LUTVIYAH

 

 

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2019

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah maternitas yang berjudul “Asuhan Keperawatan Gangguan Perdarahan pada Awal Kehamilan” dengan tepat waktu tanpa halangan apapun. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas maternitas.

Kami menyadari sepenuhnya akan kemampuan yang masih terbatas, sehingga banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, masukan, kritik, serta saran yang sifatnya membangun, kami nantikan untuk kesempurnaan makalah ini. Dan dengan ini kami berharap makalah ini dapat memberikan dampak baik bagi kami maupun pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………. ii

BAB I       DATA POKOK BAHASAN………………………………………………. 1

1.1 Issue…………………………………………………………………………….. 1

1.2 Dampak………………………………………………………………………… 1

1.3 Peranan Perawat…………………………………………………………….. 2

1.4 Tujuan………………………………………………………………………….. 2

BAB II    KONSEP DASAR……………………………………………………………… 3

2.1 Kekerasan dalam Rumah Tangga…………………………………….. 3

2.2 Faktor yang Berperan pada Tindak Penganiayaan & ……………

dan Pemukulan ………………………………………………………………. 3

2.3 Karakteristik Korban dan Pelaku Penganiayaan………………… 5

2.4 Siklus Kekerasan dalam Rumah Tangga…………………………… 5

2.5 Kekerasan Selama Kehamilan…………………………………………. 6

BAB III  ASUHAN KEPERAWATAN……………………………………………… 8

3.1 Asuhan Keperawatan Secara Teori…………………………………… 8

BAB IV   PENUTUP………………………………………………………………………. 10

4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………. 10

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • LATAR BELAKANG

Di dunia  terjadi 208 juta kehamilan dengan 41 juta mengarah ke aborsi dan 11 juta mengarah ke abortus spontan. Di negara berkembang, 90% abortus terjadi secara tidak aman, sehingga berkontribusi 11%-13% terhadap kematian meternal ( kemenkes RI, 2005).  Menurut WHO, diperkirakan 42 juta abortus dilakukan setiap tahun di ASEAN dengan perincian 1,3 juta dilakukan di Vietnam dan Singapura, 750 ribu – 1,5 juta dilakukan di Indinesia, 155 ribu – 750 ribu dilakukan di Fliphina dan 300 ribu-900 ribu dilakukan di Thailand. Laporan dari Australian Consortium For Indonesian Studies, bahwa hasil penelitian yang dilakukan di 10 kota besar dan 6 kabubaten di Indonesia menunjukkan terjadi 43 kasus aborsi per 100 kelahiran hidup

Riskesdas tahun 2010 menunjukkan presentase keguguran di Indonesia sebesar 4% pada kelompok perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun. Presentase kejadian abortus spontan di Iindonesia berdasarkan kelompok umur yaitu 3,8% pada kelompok umur 15-19 tahun, 5,8% pada kelompok umur 20-24 tahun, 5,8% pada kelompok umur 25-29 tahun dan 5,7% pada kelompok umur 30-34 tahun (Kemenkes RI,2015). Besarnya kemungkinan keguguran yang terjadi pada wanita suai subur adalah 10%-25%. Program pemerintah Kebijakan Departemen Kesehatan dalam Upaya Mempercepat Penurunan Angka Kematian lbu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis Empat Pilar Save Motherhood “yaitu meliput: Keluarga Berencana, ANC, Persalinan Bersih dan Aman dan Pelayanan Obstetri Esenssial.

Pendekatan pelayanan obsterik dan neonatal kepada etiap ibu hamil ini sesuai dengan pendekatan Making Pregenacy Safer  (MPS),  yang memiliki 3 (tiga) pesan kunci yaitu: (1) Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, (2) Setiap kompikasi obstetrik dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat, dan (3) Setiap perempuan dalam usia subur mempuanyai akses pencegahan dan penatalaksanaan kehamilan yang tidak dinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Dalam pemeriksaan antenatal selain kuantitas (jumlah kunjungan) perlu diperhatikan pula kualitas pemeriksaannya.

Kebijakan program Pelayanan antenatal menetapkan frekuensi kunjungan antenatal sebaiknya minimal 4 (empat) kali selama kehamilan, dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Minimal satu kali pada trimester pertama (K1), (2) Minimal satu kali pada trimester kedua (K2), (3) Minimal dua kali pada trimester ketiga (K3 dan K4).

Apabila terdapat kelainan atau penyulit kehamilan seperti mual, muntah, keracunan,  kehamilan, perdarahan, kelainan letak, dan lain-lain maka frekuensi pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan.

Dalam pelaksanaan operasionalnya, dikenal Standar Pelayanan antenatal “7T” yang terdiri atas: 1) Timbang Berat Badan, 2) Ukur Tekanan Darah, 3) Ukur Tinggi fundus uteri, 4) Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toksoid) lengkap, 5) Pemberian Tablet zat besi minimal 90 hari selama kehamilan, 6) Tes terhadap Penyakit Menular Seksual, HIV/AIDS dan malaria, dan 7) Temu wicara konseling dalam rangka persiapan rujukan. Pelayanan antenatal ini sebaiknya diberikan oleh tenaga kesehatan profesional.

Upaya-upaya yang dilakukan kementrian kesehatan yaitu : Pertama, kerjasama dengan sektor terkait dan pemerintah daerah. Kedua, pemberian Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Ketiaga, menetapkan indeks pembangunan kesehatan masyarakata (IPKM). Keempat. Penempatan tenaga strategis  (dokter dan bidan) dan penyediaan fasilitas kesehatan. Kelima. dua peraturan menteri kesehatan dengan standar pelayanan KB berkualitas. Peran perawat dalam bidang Maternitas :

  1. Pemberian asuhan keperawatan dengan memperhatikan kebutuhan dasar manusia, denganpengkajian, menentukan diagnosa, membantu penerapan sesuai kebutuhan ibu danmelibatkan keluarga.
  2. Memberikan pendidikan dalam keperawatan memberikan informasi dan pengetahuantentang pemenuhan kebutuhan kesehatan ibu dan anak melalui promosi kesehatan,pemantauan selama kehamilan dan persalinan.
  3. Perawat sebagai pembela yaitu perawat membantu klien dalam pengambilan pesetujuanatas tindakan keperawatan yang diberikan kepala pasien.
  4. Perawat sebagai edukator yaitu perawat meningkatkan pengetahuan kesehatan dankemampuan klien mengatasi kesehatan.
  5. Perawat sebagai edukator yaitu perawat mengatakan dan merencanakan pelayanankesehatan dan tim agar pelayanan yang dibentuk dapat dapat teratasi dan sesuai dengankebutuhan klien.
  6. Perawat sebagai konsultan yaitu perawat sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atautindakan keperwatan yang tepat diberikan.
  7. Perawat sebagai pembaharu yaitu perawat melakukan perencanaan, kerjasama danmeningkatkan tindakan pelayanan kesehatan.

Fungsi perawat dalam bidang Maternitas :

  1. Independet : perawat melakukan tugasnya secara mendiri dalam memenuhi kebutuhan pasien.
  2. Dependen : perawat melakukan tugas berdasarkan tugas yang diberikan dari perawat spesialis kepada perawat pelaksana.
  3. Independen : perawat melakukan tindakan dengan cara berkelompok atau

tim, yang bersifat saling ketergantungan antara tim satu dengan yang lainnya.

 

  • TUJUAN
  1. Untuk mempelajari dan mengetahui asuahan keperawatan gangguan-gangguan perdarahan pada awal kehamilan yang dimulai dari konsep dasar asuhan kepererawatan dari definisi, etiologi, gambaran klinis, patofisologi (bagan), penatalaksanaan dan komplikasi.
  2. Untuk mengetahui dan mempelajari asuhan keperawatan pada pasien abortus, mola hidatidosa dan kehamilan etopik terganggu, mulai dari pengkajian,intervensi dan diagnosa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1  ABORTUS

  1. DEFINISI

Abortus atau miscarriage adalah pengeluaran produk konsepsi yang sudah mati sebelum usia kehamilan 24 mgg. Berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa mempersoalkan  penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila berat badannya telah mencapai >500gr atau umur kehamilan  >20 mgg. Pendarahan terjadi di desidua basalis, menimbulkan nekrosis dan inflamasi lokal. Ovum yang terlepas sebagian atau seluruhnya, dianggap sebagai suatu benda asing dan menyebabkan uterus berkontraksi. Serviks mulai melebar. Pengeluaran terjadi dengan lengkap. Desidua dilepaskan dalam lokia yang mengalir dalam jangka waktu beberapa hari kemudian. Sampai kehamilan usia 12 mgg, sebelum plasenta terbentuk, dapat terjadi abortus komplit. Tetapi setelah usia kehmilan 12-24 mgg, kamtong gestasi akan pecah dan menyebabkan pengeluaran janin, sedangkan plasenta tetap bertahan.

Abortus tidak dapat dihindari lagi karena banyaknya perdarahan yang terjadi atau karena dilatasi serviks. Kemudian, hal-hal berikut ini dapat terjadi:

  1. Abortus Komplit

Kontraksi uterus teraba, serviks berdilatasi dan perdarahan terus terjadi. Janin dan plasenta dikeluarkan dengan lengkap, uterus berkontraksi dan perdarahan terhenti. Tidak diperlukan penatalaksanaan lebih lanjut.

  1. Abortus Inkomplit

Meskipun uterus benkontraksi dan serviks berdilatasi, hanya janin dan selaput janin yang dikeluarkan. Plasenta tertahan sebagian dan perdarahan terus terjadi. Abortus diakhiri dengan kuretase.

 

  1. ETIOLOGI

Penyebab abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor. Umumnya abortus didahului oleh kematian janin.

Faktor-faktor yang dapt menyebabkan terjadinya abortus, yaitu :

  1. Faktor Janin

Kelainan yang paling sering dijumpai pada abortrus adalah gangguan pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yakni :

  1. Kelainan telur, telur kosong (blighted ovum), kerusakan embrio, atau kelainan kromosom (monosomi, trisomi, atau poliploidi)
  2. Embrio dengan kelainan lokal
  3. Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplasi trofoblas)
  4. Faktor Maternal
  5. Infeksi maternal dapat membawa risiko bagi janin yang sedang berkembang, terutama pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Tidak diketahui penyebab kematian janin secara pasti, apakah janin yang menjadi terinfeksi ataukah toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme penyebabnya.

Penyakit-penyakit yag dapat menyebabkan obortus :

  • Virus : Misalnya rubella, sitomegalovirus, virus herpes simpleks, varicella zoster, vaccinia, campak, hepatitis, polio, dan ensefalomielitis.
  • Bakter : Misalnya Salmonella Typhi
  • Parasit : Misalnya Toxoplasma gondii, Plasmodium.
  1. Penyakit vaskuler : Misalnya hipertensi vaskuler
  2. Kelaainan endokin : Abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak mengcukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid; defisiensi insulin.
  3. Faktor imunologi : Ketidakcocokan (inkompatibitas) sistem HLA (Human Leukocyte Antigen).
  4. Trauma : Kasusnya jarang terjadi, umumnya abortus terjadi segera setelah trauma tersebut, misalnya trauma akibat pembedahan :
  • Pengangkatan ovarium yang mengandung korpus luteum graviditatum sebelum minggu ke-8
  • Pembedahan intraabdominal dan operasi pada uterus pada saat hamil
  1. Kelainan uterus: hipoflasia uterus, mioma ( terutama mioma submucosa, serviks inkompeten atau retroflexion uteri grafidi incarcerate.
  2. faktor psikosomatik: pengaruh dari faktor ini masih di pertanyakan.
  3. faktor eksternal:
  4. radiasi: dosis 1-10 prad bagi janin pada kehamilan 9 minggu pertama dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran.
  5. obat-obatan: antagonis asam kolat, anti koabulan, dan lain-lain.

Sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan sebelum 16 minggu, kecuali telah di buktikan bahwa obat tersebut tidak membahayakan janin, atau unttuk pengobatan penyakit ibu yang parah.

  1. bahan-bahan kimia lainnya, seperti bahan yang mengandung arsen dan benzene.

 

  1. PATOFIOLOGI

Kebanyakn abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian di ikuti dengan perdarahan kedalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada daerah inplantasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan pervaginam. Buah kehamilan terlepas seuruhnya atau sebagian yang di interpretasikan sebagai benda asing dalam rongga rahim.hal ini menyebabkan faktor

Pada banyak kasus, penyebab abortus tidak diketahui, tapi biasanya meliputi:

  1. Abnormalitas perkembangan hasil konsepsi

Kira-kira setengah dari jumlah janin yang dilahirkan karena abortus ternyata memiliki kelainan kromosom atau kelainan structural.

  1. Kondisi ibu

Penyakit yang di sertai dengan demam, infeksi, iso-imunisasi Rhesus yang berat, dan semua penyakit pada ibu ternyata berkaitan dengan peningkatan risiko terhentinya kehamilan.

Hormone progesterone atau HCG yang berkurang telah diduga sebagai factor penyebab dan kedua hormone ini di gunkan sebagai pengbatan yang rasional walaupun belum ada bukti-bukti yang mendukung.

  1. Penyebab dari uterus

Penyebab mekanik jarang di temukan tetapi telah diketahui, yang meliputi:

  1. Inkompetensi serviks

Laserasi atau inkompetensi serviks fungsional menyebabkan uterus tidak dapat menampung kehamilan secara normal. Abortus biasanya terjadi pada trimester kedua.

  1. Mioma uteri

Meskipun sebagian besar wanita dengan mioma uteri tidak mengalami abortus karena gangguann mekanis, uterus yang bentuknya berubah karena mioma mungkin tidak dapat mengakomodasi perkembangan janin.

  1. Abnormalitas kongenital pada uterus

Dapat mengalami perkembangan janin yang sedang tumbuh.

 

  1. D. GAMBARAN KLINIS
  2. Perdarahan biasanya merupakan tanda pertama. Perdarahan mungkin menjadi banyak jika pelepasan plasenta terjadi tidak lengkap
  3. nyeri biasanya hilang timbul, ‘seperti sebuah proses persalinan yang kecil’. Nyeri ini berhenti jika keguguuran sudah lengkap
  • Ancaman keguguran (threatened miscarriage)

Ancamana keguguran adalah perdarah yang terjadi sebelum usia kehamilan 24 mingggu dapan biasanya tidak di sertai rasa nyeri. Hal ini sulit di bedakan dengan pelepasan sesidua sebagian pada saat terlambat haid, yang dapat terjadi sejak awal kehamilan sampai usia kehamilan 12 minggu.

  • Keguguran yang tidak dapat di elakkan (inefitable miscarriage)

Pada keadaan ini, perdarahan yang terjadi masih sedikit, tetapi uterus dapat berkontraksi  untuk memulai membuka serviks. Keadaan ini dapat dideteksi pada pemeriksaan vagina. USG dapat mendiagnosa keadaan ini pada stadium awal dengan memperlihatkan janin yang sudah mati. Penatalksanaan nya adalah dengan mengeluarkan hasil konsepsi dari dalam uterus.

  • Abortus inkomplit

Pasien akan mengalami perdarahan yang banyak dan kontraksi uterus yang terasa sakit. Jaringan dan gumpalan darah mungkin di temukan di vagina. Perdarahan dapat di kendalikan dengan injeksi ergometrin 0,5mg intramuscular. Kadang-kadang ergometrin di kombinasikan dengan analgetik seperti petidin atau morfin.

 

  1. PENATALAKSANAAN

Tatalaksana bedah untuk abortus inkomplit

  • Harus di lakukan di ruang operasi dengan pasien dalam keadaan terbius.
  • Pasien mungkin berdarah:
  1. Sebelum masuk ke rumah sakit
  2. Selama di rumah sakit
  3. Selama pembedahan
  • Operator harus mengingat setiap saat bahwa uterus pada saat hamil sangat mudah mengalami perforasi oleh instrument logam.

‘Kpppuretase digital’ atau kuretase dengan menggunakan jari perlu di coba terlebih dahulu

Ahli bedah menekan fundus uterus dengan tangan yang terletak di luar dan membersihkan rongga uterus semaksimal mungkin dengan jari-jari tangan yang terdapat di dalam uterus.

Jaringan palsenta dikeluarkan dengan mmenggunakan forsep ovum.

Kedua bilah forsep yang terbuka diputar untuk menggengam jaringan dan kemudian forsep ditarik perlahan-lahan. Sebelum menggunakan alat apapun didalam uterus, pasien perlu diberikan oksitosin. Syntocinon (oksitoin) 10 unit atau ergometrin 0,25mg, diberikan melalui intravena supaya terjadi kontraksi dan pengerasan dinding uterus.

Evakuasi diakhiri dengan eksplorasi rongga uterus secara seksama menggunakan sebuah kuret tajam.

  1. KOMPLIKASI
  2. Perdarahan (hemorrage)

Perdarahan dapat di atasi dengan pengosongan uterus dari sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak di berikan pada waktunya.

  1. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi pada uterus dalam posisi Retroleksi. Terjadi retakan pada rahim, misalnya abortus provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi. Laparatomi harus segera di lakukan untuk menentukan luasnya perlukan pada uterus atau organ reproduksi lainnya.

  1. Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat.

  1. Infeksi

Sebenarnya pada genetalia eksterna dan vagina di huni oleh bakteri yang merupakan Lora normal. Khususnya pada genetalia eksterna yaitu staphylococcus, streptococcus, gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma, treponema (selain T. Paliidum), letospira, jamur, trichomonas caginalis, sedangkan pada vagina ada lactobacili, streptococcus, staphylococcus, gram negatif enteric bacil, clastridium sp, bakteriodes sp, listeria dan jamur.

Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium dan peritonium. Org anime q organisme yang paling sering bertanggung jawabterhadap infeksi pasca abortus adalah E. Coli streptococcus non hemolitikus, streptococianaerob, staphlococcus aureus, streptococcus hemolitikus dan clolstridium perfringers.

Bakteri lain yang kadang di jumpai adalah Neisseria Gonorrhoeae, Pneumococcus dan Clastridium Tetani. Streptococcus Pyogenes potensial berbahaya karna dapat membentuk gas.

 

 

2.2 MOLA HIDATIDOSA

  1. DEFINISI

Ada bentuk kegagalan kehamilan lain, yaitu vili korialis yang seluruhnya atau sebagian berkembang tidak wajar berbentuk gelembung-gelembung seperti anggur. Kelainan ini disebut mola hidatidosa. 15-20% penderita Mola Hidatidosa dapat berubah menjdai ganas yang di kenal sebagai tumor trofoblas gestasional. Jadi, yang di maksud dengan penyakit tumor trofoblas gestasional adalah mola hidatidosa yang jinak dan tumor trofoblas gestasional yang ganas

  1. Mola hidatidosa komplet

Mola Hidatidosa Komplet (MHK) merupakan kehamilan abnormal tanpa embiro yang seluruh vili korealisnya mengalami degenerasi hidropik yang menyerupai anggur atau mola hidatidosa adalah suatu kondisi tidak normal dari plasenta akibat kesalahan pertemuan ovum dan sperma sewaktu fertilisasi (Sarwono Prawirohardjo, 2003). Yang kemudian ditandai dengan :

  1. Degenrasi vistik dari vili, disertai pembengkakan hidropik
  2. Avaskularitas, atau tidak adanya pembuluh darah janin.
  3. Proliferasi jaringan trofoblastik.

Rahim menjadi lunak dan berkembang lebih cepat dari usia kehamilan yang normal, tidak dijumpai adanya janin, dan rongga rahim hanya terisi oleh jaringan seperti buah anggur. Kehamilan mola hidatidosa disebut juga dengan kehamilan anggur.

  1. Mola hidatidosa parsial

Seperti pada MHK, tetapi disni masih ditemukan embrio yang biasanya mati pada masa dini. Regenerasi hidropik dari vili bersifat setempat dan yang mengalami hiperplasia hanya sinsitio trofoblas. Gambaran yang khas adalah crikling atau scalloping dari vili dan stroma trophoblastic inclusions. Pada MHP, embrio biasanya mati sebelum trimester pertama. Walaupun pernah dilaporkan adanya MHP dengan bayi aterm.

 

  1. ETIOLOGI

Sampai sekarang belum diketahui etiologi dari penyakit ini. Yang baru diketahui adalah faktor risiko, seperti ini:

  1. Umur – mola hidatidosa lebih banyak ditemukan pada wanita hamil berumur dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun.
  2. Etnik – lebih banyak ditemukan pada mongoloid dari pada kaukasus.
  3. Genetik – wanita dengan balanced translocation mempunyai resiko lebih tinggi
  4. Gizi – mola hidatidosa banyak ditemukan pada mereka yang kekurangan protein.

 

 

  1. GAMBARAN KLINIK

dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:

  1. Keluhan utama amenor dan perdarahan per vaginam
  2. Perubahan yang menyertai:
    1. Keluhan utama
    2. Perubahan yang menyetai
    3. Adanya penyulit :
  • Uterus lebih besar dari tuanya kehamilan.
  • Kadar hCG yang jauh lebih tinggi Dari kehamilan biasa. Pada kehamilan biasa, kadar hCG darah paling tinggi 100.000 IU/L, sedangkan pada mola hidatidosa biosa mencapai 5.000.000 IU/L.
  • Adanya kista nutein, baik unilateral maupun bilateral.

 

  1. Adanya penyulit
  2. Preeklansi
  3. Tirotoksikosis
  4. Imboliparu (jarang)

 

Disamping hal-hal yang tersebut mola hidatidosa menunjukan gambaran kelinik, seperti kehamilan lain, misalnya mual, muntah, dan makan kurang. MHK mempunyai penyulit yang lebih besar  dibandingkan MHP.

 

 

  1. PATOFISOLOGI

Faktor ovum

 

Mengalami keterlambatan

dalam pengeluaran

 

Kematian ovum

di dalam tubuh

 

Mengalami degenerasi

 

 

Jangot-jangot korion yang

tumbuh berganda dan

mengandung cairan

 

Kista-kista kecil

 seperti anggur

 

Mola hidatidosa

                                                 

Tindakan invasif

 

 

Kuretase                                                         jaringan         kurang informasi

 

                                                            Ulkus                          tentang prosedur

 

 

 

Perdarahan                            bakteri mudah masuk          kurang pengetahuan

 

 

 

Hipovolemak                          Risiko jaringan ulkus          

 

 

 

 

 

 

Menstimulasi reseptor nyeri

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. PENATALAKSANAAN

Karena mola hidatidosa  merupakan suatu kehamilan patologi dan tidak jarang disertai penyulit yang membahayakan jiwa, pada perinsipnya harus segera dikeluarkan. Terapi mola hidatidosa terdiri dari tiga tahap, yaitu:

  1. Perbaikan keadaan umum

Adalah transfusi darah untuk mengatasi sock hipovelemik atau anemi, pengobatan terhadap penyulit, seperti preeklamsi berat atau tirotoksikosis. Setelah penderita setabil, baru dilakukan evakuasi.

  1. Evakuasi

Pada umumnya evakuasi jaringan mola dilakukan dengan kuret vakum, kemudian sisanya dibersihkan dengan kuret tajam. Tindkan kuret hanya dilakukan satu kali. Kuret ulangan hanya dilakukan bila ada indikasi.

Pada kasus mola hidatidosa yang belum keluar gelembungnya, harus dipasang dulu laminarisa stift (12 jam sebelum kuret) sedangkan pada kasus yang sudah keluar gelembungnya, dapat segera dikuret setelah keadaan umumnya di stabilkan. Bila perlu dapat diberi narkosis neurolitk.

  1. Tindakan profikalsis

Adalah untuk mencegah terjadinya keganasan paska mola pada mereka yang mempunyai faktor risiko, seperti umur diatas 30 tahun atau gambaran PA yang mencurigakan.

Ada 2 cara yaitu:

  1. Histerektomi dengan jaringan mola in toto, atau beberapa hari pasca kuret tindakan ini dilakukan pada wanita dengan umur diatas 35 tahun serta anak cukup.
  2. Sitostatika profilaksis.

Diberikan kepada mereka yang menolak histerektomi atau wanita muda dengan PA yang mencurigakan.

Caranya:

  • Methotrexate 2 mg/hari atau
  • Actinomycin D 1 flc/hari, 5 hari berturut-turut

Tindak lanjut

Tujuannya untuk mendeteksi secara dini adanya perubahan kearah keganasan. Dilakukan selama satu tahun dengan jadwal sebagai berikut:

  1. Tiga bulan pertama : tiap 2 minggu
  2. Tiga bulan kedua : tiap 1 bulan
  3. Enam bulan terakhir : tiap 2 bulan

 

  1. KOMPLIKASI

Komplikasi Mola Hidatidosa, yaitu:

  1. Syok hipovolemik akibat perdarahan hebat dapat terjadi jika tidak segera ditangani, bahkan dapat berakibat fatal bagi sang ibu.
  2. Anemia karena terjadinya perdarahan yang berulang.Infeksi sekunder.
  3. Perforasi akibat terjadi keganasan dan tindakan.
  4. Pada 18 sampai 20% kasus dapat menyebabkan keganasan seperti mola destruens atau koriokarsinoma.

 

 

2.3 KEHAMILAN EKTPIK TERGANGGU

DEFNISI

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus, tuba fallopi merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik, sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba, jarang terjadi implantasi pada ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus yang rudimenter dan divertikel pada uterus. (Sarwono Prawiroharjho, 2005)

 

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/nidasi/melekatnya buah kehamilan di luar tempat yang nomal, yakni diluar rongga rahim. Sedangkan yang disebut sebagai kehamilan ektopik erganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus rupture pada dinding tuba.

Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertubuhan hasil konsepsi diluar endometrium kavum uteri. (Mansjoer Arif, 2001)

 

ETIOLOGI

Berbagai macam factor berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik. Semua factor yang menghambat migrasi embrio ke kavum uteri menyebabkan seorang ibu semakin rentan untuk menderita kehamilan ektopik. Beberapa factor yang dihubungkan dengan kehamilan ektopik diantaranya:

  1. Faktor dalam lumen tuba:
  • Endosalpingitis, menyebabkan terjadinya penyempitan lumen tuba.
  • Hypoplasia uteri, dengan lumen tuba menyempit dan berkelok-kelok.
  • Operasi plastic tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna dan menyebabkan lumen tuba menyempit.
  1. Faktor pada dinding tuba:
  • Endometriosis, sehingga memudshksn terjadinya implantasi di tuba.
  • Divertikel tuba kongenital, menyebabkan retensi telur di tempat tersebut.
  1. Faktor di luar dinding tuba:
  • Pelekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba, mengakibatkan terjadinya hambatan perjalanan telur.
  • Tumor yang menekan dinding tuba, menyebabkan penyempitan lumen tuba.
  • Pelvic Inflammatory Disease (PID).
  1. Faktor lain:
  • Hamil saat berusia lebih dari 35 tahun.
  • Migrasi luar ovum, sehingga memperpanjang waktu telur yang dibuahi sampai ke uterus.
  • Fertilisasi in vitro
  • Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
  • Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
  • Merokok
  • Penggunaan diestilbestol (DES)
  • Uterus berbentuk huruf T
  • Riwayat operasi abdomen.
  • Kegagalan penggunaan kontrasepsi yang mengandung progestin saja.
  • Ruptur appendix
  • Mioma uteri
  • Hidrosalping

Etiologic kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui, menurut Triatmojo Rachimhadhi dalam bukunya menjelaskan beberapa faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu.

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinik kehamilan ektopik sangat bervariasi tergantung dari ada tidaknya rupture. Trias klasik dari kehamilan ektopik adalah nyeri, amenorrhea, dan perdarahan pervaginam. Pada setiap pasien wanita dalam usia reproduktif, yang datang dengan keluhan amenorrhea dan nyeri abdomen bagian bawah, harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik.

Selain gejala-gejala tersebut, pasien juga dapat mengalami gangguan vasomotor berupa vertigo atau sinkop, nausea, payudara terasa penuh, fatigue, nyeri abdomen bagian bawah, dn dspareuni. Dapat juga ditemukan tanda iritasi diafragma bila perdarahan intraperitoneal cukup banyak, berupa kram yang berat dan nyeri pada bahu atau leher, terutama saat inspirasi.

Pada pemeriksan fisik dapat ditemukan nyeri tekan pelvis, pembesaran uterus, atau massa pada adnexa. Namun tanda dan gejala dari kehamilan ektopik harus dibedakan dengan appendicitis, salpingitis, ruptur kista corpus luteum atau folikel ovarium.

Pada pemeriksaan vaginal, timbul nyeri jika serviks digerakkan, cavum Douglas menonkol dan nyeri pada perabaan.

Pada umumnya pasien menunjukan gejala kehamilan muda, seperti nyeri di perut bagian bawah, vagina uterus membesar dan lembek, yang mungkin tidak sesuai dengan usia kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi menjadi sukar diraba karena lembek.

Nyeri merupakan keluhan utama. Pada ruptur, nyeri terjadi secara tiba-tiba dengan intensitas tinggi disertai perdarahan, sehingga pasien data jatuh dalam keadaan syok. Perdarahan pervaginam menunjukan terjadi kematian janin. Amenorrhea juga merupakan tanda penting dari kehamilan ektopik. Namun sebagian pasien tidak mengalami amenorrhea karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya.

PATOFISIOLOGI

Pada kehamilan normal, proses pembuahan trjadi pada tuba, kemudia sel telur yang telah dibuahi digerakan dan berimplantasi pada endometrium rongga rahim. Kehamilan ektopik yang dapat disebabkan antara lain factor di dalam tuba dan luar tuba, sehingga hasil pembuahan terhambat/tidak bias masuk ke rongga Rahim, sehingga sel telur yang telah dibuahi tumbuh dan berimplantasi (menempel) di beberapa tempat pada organ reproduksi wanita selain rongga rahim, antara lain di tuba fallopi (saluran telur), canalis servikalis (leher rahim), ovarium (indung telur), dan rongga perut. Yang banyak terjadi di tuba fallopi (90%).

 

fallopi (90%).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENATALAKSANAAN

Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah Laporotomi. Pada laporotomi perdarahan sesegera mungkin dihntikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang menjadi sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dalam rongga perut sebanyak mungkin dikeuarkan. Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu: Kondisi penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik. Hasil ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan bagian tuba yang terganggu) pada kehamilan tuba.

Pemantauan terhadap kadar HCG (kuantitatif), peningkatan kadar HCG yang berlangsung terus menandakan masih adanya jaringan ektopik yang belum terangkat. Penanganan pada kehamilan ektopik dapat pula dengan transfusi, infus, oksigen. Pemberian antibiotika dan anti inflamasi bila dicurigai ada infeksi. Sisa-sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat dan harus dirawat inap di rumah sakit.

Pada kehamilan ektopik teganggu, walaupun tidak selalu ada bahaya terhadap jiwa penderita, dapat dilakukan terpi konservatif, tetapi sebaiknya tetap dilakukan tindakan operasi. Kekurangan dari terapi konservatif (non-operatif) yaitu walaupun darah berkumpul di rongga abdomen dapat diabsorbsi sebagian atau dikeluarkan dengan kolpotomi (pengeluaran melalui vagina dari darah di kavum Douglas), sisa darah dapat menyebabkan perlekatan-perlekatan dengan bahaya ileus.

Tindakan operasi terdiri dari salpingektomi ataupun salpingo-ooforektomi. Jika penderita sudah memiliki anak cukup dan terdapat kelainan pada tuba tersebut dapat dipertimbangkan untuk mengangkat tuba. Namun jika penderita belum mempunyai anak, maka kelainan tuba dapat dipertimbangkan untuk dikoreksi supaya tuba berfungsi.

Tindakan laparotomi  dapat dilakukan pada ruptur tuba, kehamilan dalam divertilikum uterus, kehamilan abdominal dan kehamilan tanduk rudimenter. Perdarahan sedini mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksia yang menjadi sumber perdarahan.

Keadaan umum  penderita terus diperbaiki dan darah dari rongga abdomen sebanyak mungkin dikeluarkan. Serta memberikan transfuse darah. Untuk kehamilan ektopik terganggu dini yang berlkasi di ovarium bila dimungkinkan dirawat, namun apabila tidak menunjukkan perbaikan maka dapat dilakukan tindakan sistektomi ataupun ooforektomi.

Sedangkan kehamilan ektopik terganggu berlokasi di serviks uteri yang sering mengakibatkan perdarahan dapat dilakukan histerektomi, tetapi pada  nullipara yang ingin sekali mempertahankan fertilitasnya diusahakan melakukan terapi konservatif.

 

KOMPLIKASI

Komplikasi kehamilan ektopik dapat terjadi sekunder akibat kesalahan diagnosis, diagnosis terlamba, atau pendekatan tatalaksana. Kegagalan penegakan diagnosis secara cepat dan tepat dapat mengakibatkan terjadinya ruptur tuba atau uterus, tergantung lokasi kehamilan, dan hal ini dapat menyebabkan perdarahan massif, syok. DIC dan kematian.

Komplikasi timbul akibat pembedahan antara lain adalah perdarahan, infeksi, kerusakan organ sekitar (usus, kandung kemih, ureter dan pembuluh darah besar). Selain itu juga komplikasi terkait tindakan anestesi.

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

 

3.1 Asuhan Keperawatan Abortus

  1. PENGKAJIAN
  2. Identitas
  3. Mengkaji identitas klien yang meliputi : Nama, umur, agama, suku bangsa, Identitas Klien

pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, lamanya perkawinan, dan alamat.

  1. Identitas penanggung jawab

Mengkaji identitas penaggung jawab meliputi : Nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, lamanya perkawinan, dan alamat.

  1. Keluhan utama

Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginan berulang.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Riwayat penyakit sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi kerumah sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginan diluar siklus haid, pembesaran lebih besar dari usia kehamilan.

  1. Riwayat penyakit dahulu
  2. Riwayat pembedahan

Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan dimana tindakan tersebut berlangsung.

  1. Riwayat penyakit yang pernah dialami

Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya : DM, Jantung, Hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin dan penyakit-penyakit lainnya.

  1. Riwayat penyakit keluarga

Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat di identitifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.

  1. Riwayat obstetri

Yang perlu dikaji adalah :

  1. Keadaan haid

Yang pelu diketahui pada keadaan haid adalah tentang Menarche, siklus haid, hari pertama haid terakhir, jumlah dan warna darah keluar, lamanya haid, nyeri atau tidak, bau.

  1. Perkawinan

Yang perlu ditanyakan berapa kali kawin dan sudah berapa lama.

  1. Riwayat kehamilan

Riwayat kehamilan yang perku diketahui adalh berapa kali melakukan ANC (Ante Natal Care), selama kehamilan periksa dimana, perlu diukur berat badan dan tinggi badan.

 

  1. Pola kebiasaan sehari-hari menurut Virginia Henderson
  2. Respirasi

Pernafasan mungkkin kurang dari 14 x/menit, krakels mungkin ada.

  1. Nutrisi

Biasanya klien mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi seperti mual/muntah, masukan protein kalori kurang.

  1. Eliminasi

Biasanya klien mengalami gangguan BAK (oliguria). Fungsi ginjal mungkin menurun (krang dari 400 ml/24 jam) atau tidak ada.

  1. Gerak dan keseimbangan tubuh

Pada klien dengan pre-eklamsi berat gerak/aktivitasnya tergangggu karena kebiasaan sehari-hari tidak dapat dilakukan/tidak terpenuhi dengan baik.

  1. Istirahat/tidur

Klien biasnya mengalami kesulitan dalam istirahat dan tidurnya karena nyeri epigasrium, nyeri kepala yang dirasakan.

  1. Kebutuhan personal hygiene

Kebersihan diri merupakan pemeliharaan kesehatan untuk diri sendiri dan dilakukan 2x sehari. Biasanya kebutuhan personal hygiene tidak ada gangguan.

  1. Aktivitas

Pada klien Abortus biasanya aktivitasnya terganggu karena kebiasaan sehari-hari tidak dapat dilakukan/tidak dapat terpenuhi cdengan baik.

  1. Kebutuhan berpakaian

Klien dengan Abortus tidak mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan berpakaian tersebut.

  1. Mempertahankan temperatur tubuh dan sirkulasi

Klien dengan Abortus biasanya mengalami gangguan dalam hal temperatur tubuh berupa peningkatan suhu tubuh dan sirkulasi berupa penurunan tekanan darah.

  1. Kebutuhan keamanan

Kebutuhan keamanan ini perlu dipertanyakan apakah klien tetap merasa aman dan terlindungi oleh keluarganya. Klien mampu menghindari bahaya dari lingkungan.

  1. Sosialisasi

Bagaimana klien mampu berkomunikais dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan, kekhawatiran dan opini.

  1. Kebutuhan spiritual

Pada kebutuhan spiritual ini, tanyakan apakah klien tetap menjalankan ajaran agamanya ataukah terhambat karena keadaan yang sedang dialami.

  1. Kebutuhan bermain dan rekreasi

Klien Abortus biasanya tidak dapat memenuhi kebutuhan bermain dan rekreasi karena dalam kondisi yang lemah.

  1. Kebutuhan belajar

Bagaimana klien berusaha belajar, menemukan atau memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah pada perkembangan yang normal, kesehatan dan penggunaan fasilitas kessehatan tersedia.

  1. Pemeriksaan fisik

Dalam melakukan pemeriksaan fisik, metode yang digunakan adalah pemeriksaan Head To Toe. Pemeriksaan fisik secara head to toe pada klien dengan abortus meliputi :

  1. Keadaan umum

Klien dengan abortus biasanya keadaan umunya lemah

  1. Tanda-tanda vital
  • Tekanan darah menurun
  • Nadi : mungkin meningkat (>90 x/menit)
  • Suhu : meningkat/menurun
  • Respirasi : meningkat >20 x/menit
  1. Kepala
  • Inspeksi : bersih atau tidaknya, ada atau tidak ada lesi
  • Palpasi : ada atau tidaknya nyeri tekan, krepitasi, masa
  1. Wajah

Inspeksi, tampak pucat, ada atau tidak oedema

  1. Mata

Inspeksi : konjungtiva tampak pucat (karena adanya perdarahan), sklera ikterus

  1. Hidung

Inspeksi : simetris atau tidak, ada tidaknya polip

  1. Telinga

Inspeksi : ada tidaknya perdangan dan lesi

  1. Mulut

Inspeksi : periksa apakah bibir pucar atau kering, kelengkapan gigi, ada tidaknya karies gigi

  1. Leher
  • Inspeksi ; ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid dan limfe (pemeriksaan dari arah depan klien)
  • Palpasi : ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid dan limfe (pemeriksaan dari arah belakang klien)
  1. Payudara
  • Inspeksi : ukuran payudara, simetrisitas dan penampilan kulit. Inspeksi puting terhadap ukuran, bentuh, ada tidaknya ulkus dan kemerahan
  • Palpasi : palpasi paaydara untuk mengetahui konsistensi dan nhyeri tekan
  1. Thorax
  • Inspeksi : pergerakan dinding dada, frekuensi, irama, kedalaman dan penggunaan otot bantu pernafasan, ada tidaknya retraksi dinding dada
  • Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan dan krepitasi vokal premitus
  • Perkusi : kenormalan organ indera thorax
  • Auskultasi : ada tidaknya suara nafas tambahan
  1. Abdomen
  • Inspeksi : pembesaran perut sesuai usia kehamilan, perdarahan pervaginam, terlihat jaringan perut pada perut, ada tidaknya jaringan hasil konsepsi, tecium bau busuk dari vulva
  • Auskultasi : bising usus normal
  • Palpasi : TFU 2 jari di atas sistesis, terdaoat kontraksi uterus, tonus baik, lembek dan tidak terdapat nyeri tekan
  • Perkusi : suara normal timfani, untuk mengetahui suara normalnya bila masih ada sisa hasil konsepsi yang belum dikeluarkan maka suara akan berubah menjadi lebih pekat
  1. Genetalia

Inspeksi : kebersihan kurang, perdarahan pervaginam, terdapat bekuan darah, serviks tampak mendatar dan dilatasi

  1. Ekstremitas atas
  • Inspeksi : ada tidaknya infus yang terpasang
  • Palpasi : CRT (Capilary Refile Time) memanjang bila terjadi perdarahan
  1. Ekstremitas bawah
  • Inspeksi : ada tidaknya deformitas
  • Palpasi : akral (perdarahan biasanya disertai dengan akral dingin)

 

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  • Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan intra uteri, kontraksi uterus ditantai mengeluh nyeri dan posisi menghindari nyeri
  • Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi ditandai dengan klien mengeluh tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan, periode waktu tidur yang meningkat, tampak berbaring ditempat tidur
  • Kurang volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam
  • Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab ditandai dengan imunitas yang tidak adekuat, suhu tubuh meningkat dan leukositosis
  • Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan klien menyangkal kehilangan, klien mengungkapkan rasa bersalah, klien tampak sedih, adanya perubahan tingkat aktivitas, perubahan kebiasaan makan, pola tidur, klien menangis

 

  1. RENCANA KEPERAWATAN

Rencana Keperawatan Klien dengan Abortus

No. Dx. Kep Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
(1) (2) (3) (4)
1. Nyeri akut berhungan dengan kerusakan jaringan intra ueri, kontraksi uterus ditandai mengeluh nyeri dan posisi menghindari nyeri. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat:

1.      Mengontrol nyeri (Pain Control0, dengan kriteria:

a.       Klien dapat mengetahui penyebab nyeri, onset nyeri.

b.      Klien mampu menggunakan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri, dan tindakan pencegahan nyeri.

c.       Klien mampu mengenal tanda-tanda pencetus nyeri untuk mencari pertolongan.

d.      Klien melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.

2.      Menunjukkan tingkat nyeri (Pain Level)

Dengan kriteria:

a.       Klen melaporkan adanya penurunan nyeri dan pengaruhnya pada tubuh.

b.      Klien mampu mengenal skala, intensitas, frekuensi dan lamanya episode nyeri.

c.       Klien mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

d.      Tanda-tanda vital dalam batas normal.

e.       Ekspresi wajah tenang.

Manajemen Nyeri

(Pain Management):

–        Kaji secara komprehensif tentang nyeri, meliputi: Lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, dan faktor presipitasi.

–        Observasi isyarat-isyarat non verbal dari keridaknyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif.

–        Gunakan komunikasi terapeutik agar klienj dapat mengekspresikan nyeri.

–        Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: Pola tidur, nafsu makan, aktivitas kognisi, mood, relationship, pekerjaan, tanggung jawab peran.

–        Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan tindakan pencegahan.

–        Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan (misalnya: Temperatur ruangan, penynaran dan lain-lain).

–        Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup.

–        Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi (misalnya: Relaksasi, terapi musik, distraksi, massase)

–        Evaluasi keefektifan dan tindakan mengontrol nyeri.

–        Modifikasi tindakan mengontrol nyeri.

–        Hilangkan faktor yang dapat meningkatkan pengalaman nyeri (misalnya: Rasa takut, kelelahan dan kurangnya pengetahuan).

–        Libatkan keluarga untuk mengurangi nyeri.

–        Informasikan kepada tim kesehatam lainnya/anggota keluarga saat tindakan nonfarmakologi dilakukan, untuk pendekan preventif.

Pemberian Analgetik

(Anallgetic Adminnistration:

–        Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan keparahan sebelum pengobatan.

–        Berikan obat dengan prinsip 5 benar.

–        Cek riwayat alergi obat.

–        Libatkan klien dalam pemilihan analgetik yang akan digunakan.

–        Pilih analgetik secara tepat/kombinasi lebih dari satu analgetik jika telah diresepkan.

–        Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik pertama kali.

–        Berikan analgerik yang teapat waktu terutama saat nyeri hebat.

–        Evaluasi efektivitas analgetik, tanda dan gejala (efek samping).

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi ditandai dengan klien mengeluh tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan, periode waktu tidur yang meningkat, tampak berbaring ditempat tidur. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat menunjukkan toleransi terhadap aktivitas (Activity Tolerance) dengan kriteria:

–        Klien dapat menentukan aktivitas yang sesuai dengan peningkatan nadi, tekanan darah dan frekuensi nafas.

–        Klien dapat mengidentifikasi aktivitas atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi aktivitas.

–        Klien dapat mempertahankan warna dan kehangatan kulit dengan aktivitas.

–        Klien melaporkan peningkatan aktivitas harian.

Manajemen Energi

(Energy Management):

–        Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktivitas.

–        Tentukan penyebab kelelahan (misalnya: Karena perawatan, nyeri dan pengobatan).

–        Pantau respon kardiorespirasi terhadap aktivitas (misalnya: takhirdia, dispnea, diaporesis, pucat dan frekuensi nafas).

–        Pantau asupan nutrisi untuk memastikan keadekuatan sumber energi.

–        Pantau pola istirahat klien dan lamanya waktu tidur.

–        Monitor respon emosional, fisik, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas.

–         Gunakan teknik relaksasi selama aktivitas.

–        Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen untuk mencegah kelelahan.

–        Ajarkan klien dan keluarga tentang tekhnik perawatan diri yang meminimalkan konsumsi oksigen.

–        Ajarkan klien dan keluarga tekhnik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang dapat meminimalkan penggunaan oksigen.

–        Instruksikan klien atau keluarga untuk mengenal tanda dan gejala kelelahan yang memerlukan pengurangan aktivitas.

–        Batasi stimulus lingkungan (misalnya: Pencahayaan dan kegaduhan).

–        Dukung untuk melakukan periode istirahat dan aktivitas.

–        Rencanakan periode aktivitas saat klien memiliki banyak tenaga.

–        Hindari aktivitas selama periode istirahat.

–        Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang lebih disukai.

–        Dukung klien untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan daya tahan tubuh.

–        Bantu klien untuk mengungkapkan kebiasaan aktivitas yang paling berarti dan atau aktivitas favorit di waktu luang.

–        Berikan reinforcement positif terhadap partisipasi klien dalam beraktivitas.

–        Berikan obat nyeri sebelum beraktivitas.

–        Kolaborasi tim gizi untuk diit tinggi kalori.

3. Kurang volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan cairan adekuat dan klien (Nutritional status: Food and fluid intake/Status Nutris: Intake makanan dan cairan) dan klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh (Fluid Balace/Cairan seimbang) dengan kriteria:

1.      Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.

2.      Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus berlebihan.

3.      Klien dapat mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB.

Manajement Cairan

(Fluuid Management):

–              Pertahankan intake dan output yang adekuat.

–              Monitor status hidrasi (kelembaban membran, nadi akurat dan tekanan darah).

–              Monitor tanda-tanda vital sesuai kebutuhan.

–              Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian.

–              Motivasi keluarga untuk membantu klien makan.

–              Tawarkan snack (jus buah, buah segar).

–              Kolaborasi dalam pemberian cairan dan makanan.

Monitor Cairan (Fluid Monitoring):

–               Monitor intake dan output.

–               Monitor tekanan darah, denyt nadi, dan status respirasi.

–               Monitor membran mukosa dan turgor kulit.

–               Kelola cairan sesuai kebutuhan.

–               Pertahankan kecepatan pemberian cairan intravena.

4. Risiko infeksi berhubungan dengan perdarahan, kondisi vulva lembab ditandai dengan imunitas yang tidak adekuat, suhu tubuh meningkat dan leukositosis. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat meningkatkan pertahanan tubuh (Immune Status) dengan kritera:

–        Klien terbebas dari tanda dan gejala infeksi.

–        Klien menunjukkan tnda-tanda vital dalam batas normal.

–        Vulva tidak lembab.

–        Klien menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi.

–        Melaporkan tanda atau gejala infeksi sera mengikuti prosedur pernafasan dan pemantauan.

Pengendalian infeksi (Infecrion Control) dan Perlindungan terhadap infeksi (Infection protection):

–        Pantau tanda/gejala infeksi (misalnya: suhu tubuh, denyut jantung, penampilan luka, sekresi, penampilan urine, suhu kulit, keletihan dan malaise).

–        Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi (mislanya: usisa lanjut, status imun menurun dan malnutrisi).

–        Pantau hasil laboratorium (darah lengkap).

–        Pantau hygiene personal untuk perlindungan terhadap infeksi.

–        Monitor nilai absolut White Blood Cell (sel darah putih/leukosit0.

–        Monitor keretanan terhadap infeksi.

–        Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap adanya kemerahan, panas, atau adanya pengeluaran cairan.

–        Jelaskan pada klien/keluarga mengapa sakit dan pengobatan meningkatkan risioko terhadap infeksi.

–        Intruksikan unuk menjaga personal hygiene untuk melindungi tubuh terhadap infeksi.

–        Ajarkan klien tekhnik mencuci tangan yang benar.

–        Ajarkan pada pengunjung untuk mencuci tangan sewaktu masuk dan meninggalkan ruangan klien.

–        Ajarkan klien dan kleuarga tentang tanda-tanda dan gejala dari infeksi.

–        Ajarkan klien dan anggota keluarga bagaimana mencegah infeksi.

–        Ajakrkan klien dan keluarga tanda/gejala infeksi dan kapan harus melaporkan ke petugas kesehatan.

–        Bantu klien/keluarga untuk mengidentifikais faktor dilingkungan mereka, gaya hidup dan praktik kesehatan yang meningkatkan risiko infeksi.

–        Lindungi klien terhadap kontaminasi silang dengan tidak menugaskan perawat yang sama untuk setiap kien infeksi dan memisahkan klien infeksi dalam kamr yang berbeda.

–        Bersihkan lingkungan secara tepat setelah digunakan oleh klien.

–        Ganti peralatan klien setiap selesai tindakan.

–        Batasi jumlah pengunjung.

–        Gunakan sabun untuk cuci tangan.

–        Gunakan sarung tangan steril.

–        Lakukan perawatan vulva dan perineum.

–        Anjurkan klien untuk mengganti pembalut setiap kotor.

–        Anjurkan istirahat.

–        Lakukan teknik perawatan luka yang tepat.

–        Tingkatkan asupan nutrisi dan cairan.

–        Pertahankan teknik aseptik.

–        Pertahankan teknik isolasi sesuai kebutuhan.

5. Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan klien menyangkal kehilangan, klien mengungkapkan rasa bersalah, klien tampak sedih, adanya perubahan tingkat aktivitas, perubahan kebiasaan makan, pola tidur, klien menangis. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien akan memperoleh kepuasan mengatasi berduka ditunjukkan dengan keberhasilan koping, penyelesaian duka cita dan penyesuaian psikososial. Peruabahan kehidupan dengan kriteria:

–        Klien melaporkan keadekuatan asupan makanan dan cairan.

–        Klien melaporkan keadekuatan dukungan sosial.

–        Klien menyatakan duka cita secara verbal.

–        Klien menyatakan arti dari kehilangan secara verbal.

Fasilitas Penyelesaian Duka Cita (Grief Work Facilitation) Dan Fasilitas Penyelesaian Duka Cita (Grief Work Facilitation: Perinatal Death):

–        Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga.

–        Bantu klien untuk mengidentifikasi reaksi awal dan kehilangan.

–        Dukung klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangannya.

–        Kaji dan dokumentasikan keberadaan sumber berduka klien.

–        Berikan informasi pada klien/keluarga tentang rumah sakit dan sumber-sumber di komunitas.

–        Bantu klien untuk mengklarifikasi mis konsepsi.

–        Dengarkan ekspresi berduka klien.

–        Dukung klien untuk mengungkapkan kenangan dari kehilangan sebelumnya dan kehilangan yang sekarang.

–        Buat kalimat empati tentang proses berduka.

–        Bantu klien untuk mengidentifikasi strategi koping individu.

–        Komunikasikan penerimaan dari diskusi tentang kehilangan.

–        Pahami reaksi berduka klien dan keluarga pada saat melanjutkan aktivitas perawatan yang diperlukan.

–        Diskusikan dengan klien/keluarga dampak dari kehilangan pada unit keluarga dan fungsinya.

–        Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga.

–        Bantu klien dalam mengidentifikasi modifikasi gaya hidup yang dibutuhkan.

 

  • Asuhan Keperawatan Mola Hidatidosa

 

  1. PENGKAJIAN
  2. Biodata

Mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi : nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alamat.

  1. Keluhan Utama

Kaji adanya menstruasi tidak lancer dan adanya perdarahan pervaginam berulang.

  1. Riwayat Kesehatan
  2. Riwayat Kesehatan Sekarang

Keluhan sampai saat klien pergi ke rumah sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.

  1. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
  2. Riwayat Pembedahan.

Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan dimana tindakan tersebut berlansung.

  1. Riwayat penyakit yang pernah dialami.

Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Dapat di kaji melalui genogram an dari genogram tersebut dapat di identifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.

  1. Riwayat kesehatan reproduksi
  2. Riwayat Menstruasi

Kaji tentang menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorrhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluhan yang menyertai.

  1. Riwayat Kehamilan, Persalinan Dan Nifas

Kaji bagaimana keaadan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keaadaan kesehatan anak.

  1. Riwayat Seksual

Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluhan yang menyertai.

  1. Riwayat Pemakaian Obat

Kaji riwayat obat-obatan kontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

  1. Pola Kabiasaan Sehari-Hari Menurut Virginia Henderson
  2. Respirasi

Fekuensi pernapasan meningkat.

  1. Nutrisi

Biasanya klien mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi karena mual dan muntah yang berlebihan, tidak ada nafsu makan, masukan protein kalori kurang.

  1. Eliminasi

Biasanya lien tidak mengalami gangguan dalam BAK, kadang pada saat BAK desertai pengeluaran darah atau gelembung mola.

  1. Gerak dan keseimbangan tubuh

Pada klien dengan molahidatidosa gerak/aktivitasnya tergangguan karena kebiasaan sehari-hari tidak dapat dilakukan/tidak terpenuhi dengan baik.

 

  1. Istiraha/tidur

Klien biasanya mengalai kesulitan dalam istirahat dan tidurnya karena nyeri epigasterium yang dirasakan.

  1. Kebutuhan personal hygiene

Kebersihan diri merupakan pemelihaan kesehatan untuk diri sendiri dan dilakukan 2x sehari. Biasanya kebutuhan personal hygiene tidak ada gangguan.

  1. Aktivitas

Pada klien mola hidatidosa biasanya aktivitasnya terganggu karena kebiasaan sehari-hari tidak dapat dilakukan/tidak dapat terpenuhi dengan baik.

  1. Kebutuhan Berpakaian

Klien dengan mola hidatidosa tidak mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan berpakaian tersebut.

  1. Mempertahankan Temperature Tubuh dan Sirkulasi

Klien dengan mola hidatidosa biasanya mengalami gangguan dalam hal temperature tubuh berupa peningkatan suhu tubuh dan sirkulasi berupa peningkatan tekanan darah.

  1. Kebutuhan Keamanan

Kebutuhan keamanan ini perlu dipertanyakanapakah klien tetap merasa aman dan terlindungi oleh keluarganya. Klien mampu menghindari bahaya dari lingkungan.

  1. Sosialisasi

Bagaimana klien berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan, kekhawatiran dan opini.

  1. Kebutuhan Spiritual

Pada kebutuhan spiritual ini, tanyakan apakah klien tetap menjalankan ajaran agamanya ataukah terlambat karena keadaan yang sedang dialaminya.

  1. Kebutuhan Bermain dan Rekreasi

Klien molahidatidosa biasanya tidak dapat memenuhi kebutuhan bermain dan rekreasi karena dalam kondisi yang lemah.

 

  1. Kebutuhan Belajar

Bagaimana klien berusaha belajar, menemukan atau memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah pada perkembangan yang normal, kesehatan dan penggunaan fasilitas kesehatan yang tersedia.

  1. Pemeriksaaan Fisik

Dalam melakukan pemeriksaan fisik, metode yang digunakan adalah oemeriksaan Head To Toe. Pemerikasaan fisik secara head to toe pada kien dengan abortus meliputi:

  1. Keadaan umum

Klien dengan molahidatidosa biasanya keaadaan umum lemah.

  1. Tanda-tanda vital
  • Tekanan darah : meningkat lebih dari 120/70 mmHg
  • Nadi             : mungkin menurun
  • Suhu               : meningkat
  • Respirasi    : meningkat >20x/menit
  1. Kepala :
  • Inspeksi : bersih atau tidaknya, ada atau tidaknya lesi.
  • Palpasi : ada atau tidaknya nyri tekan.
  1. Wajah

Inspeksi : tampak pucat, ada atau tidak oedema.

  1. Mata

Inspeksi : konjungtiva tampak pucat (kareana adanya perdarahan).

  1. Hidung

Inspeksi : simetris atau tidak, ada tidaknya polip.

  1. Telinga

Inspeksi : ada tidaknya peradangan atau lesi.

  1. Mulut

Inspeksi : periksa apakah bibir pucat atau kering, kelengkapan gigi, ada tidaknya karies gigi.

  1. Leher
  • Inspeksi : ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid dan limfe. (pemeriksaan dari arah depan klien)
  • Palpasi : ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid dan limfe. (pemeriksaan dari arah belakang klien)

 

  1. Payudara
  • Inspeksi : ukuran payudara, simetrisitas, dan penampilan kulit, inspeksi putting terhadap ukuran, bentuk, ada tidaknya ulkus kemerahan.
  • Palpasi : palpasi payudara untuk mengetahui konsistensi dan nyeri tekan.
  1. Thorax
  • Inspeksi : pergerakan dinding dada, frekuensi, irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu pernafasan, ada tidaknya retraksi dinding dada.
  • Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan dan krepitasi vocal premitus.
  • Perkusi : kenormalan organ intra thorax.
  • Auskultasi : ada tidaknya suara nafas tambahan.
  1. Abdomen
  • Inspeksi : pembesaran perut sesuai usia kehamilan, perdarhan pervaginam, terlihat jaringan parut pada perut, ada tidaknya jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva.
  • Auskultasi : bising usus normal.
  • Palpasi : pembesaran abdomen lebih besar dari usia kehamilan (TFU tidak sesuai usia kehamilan).
  • Perkusi : suars normal timfani, untuk mengetahui suara normalnya bila masih adanya sisa hasil konsepsi yang belum dikeluarkanmaka suara akan berubah,
  1. Genetalia

Inspeksi : Kebersihan kurang ,perdarahan pervaginam, kondisi vulva lembab.

  1. Ekstremitas Atas
  • Inspeksi : ada tidaknya infus yang terpasang.
  • Palpasi : CRT (Copilary Refile Time) memanjang bila perdarahan.
  1. Ekstremitas Bawah
  • Inspeksi : ada tidaknya deformitas.
  • Palpasi : akral (perdarahan biasanya disertai dengan akral dingin.

 

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  2. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur invasif.
  3. Kurang volume cairan berhubungan dengan mual muntah berlebihan, pengeluaran darah pervaginam diserati dengan gelembung mola.
  4. Intolenlari aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan klien mengeluh tidak mampu melakukan aktivitas yang dilakukan, periode waktu tidur yang meningkat, tampak berbaring ditempat tidur.
  5. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder.
  6. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.

 

  1. INTREVENSI KEPERAWATAN

Rencana Keperawatan Klien Dengan Mola Hidatidosa

No Dx. Kep Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
(1) (2) (3) (4)

 

1. Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran buah kehamilan extrauterin. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat :

1)      Mengontrol nyeri (Pain Control) dengan kriteria :

a.       Klien dapat mengetahui penyebab nyeri, onset nyeri.

b.      Klien mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, dan tindakan pencegahan nyeri.

c.       Klien mampu mengenal tanda-tanda pencetus nyeri untuk mncari pertolongan.

d.      Klien melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.

2)      Menunjukan tingkat nyeri (pain level), dengan kriteria :

a.        Klien melaporkan penurunan nyeri dan pengaruhnya pada tubuh.

b.      Klien mengenal skala, intensitas, frekuensi, dan lamanya episode nyeri.

c.       Klien mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

d.      Tanda-tanda vital dalam batar normal.

e.       Ekspresi wajah tenang.

Manajemen Nyeri (pain manajement) :

–        Kaji secara komprehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, dan factor presipitas.

–        Observasi isarat-isarat non-verbal dari ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidaknyamanan untuk komunikasi secara efektif.

–        Gunakan komunikasi terapeutik agar kelien dapat mengekpresikan nyeri.

–        Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: pola tidur, nafsu makan, aktivitas kognisi, mood, relationship, pekerjaan, tanggung peran.

–        Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan tindakan pencegahan.

–        Control factor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan (misalnya: temperature ruangan, penyinaran dan lain-lain).

–        Anjurkan klien untuk memonitor sendiri nyeri.

–        Tingktkan tidur/istirahat yang cukup.

–        Ajarkan penggunakan teknik non-farmakologi (misalnya: relaksaasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, dan messase).

–        Evaluasi keeftifan dari tindakan mengontrol nyeri.

–        Modifikasi tindakan mengontol nyeri berdasarkan respon klien.

–        Anjurkan klien untuk berdiskusi tentang pengalaman nyeri secara tepat.

–        Monitor kenyaman klien tentang manajemen nyeri.

–        Hilangkan factor yang dapat meningkatkan pengalaman nyeri (misalnya: rasa takut, kelelahan dan kurangnya pengetahuan).

–        Libatkan keluarga untuk mengurangi nyeri.

–        Informasikan kepada tim kesehatan lainnya/anggota saat tindakan non-farmakologi dilakukan, untuk pendekatan preventif.

Pemberian Analgetik (Analgetic Adminnistration) :

–        Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan keparahan sebelum pengobatan.

–        Berikan obat dengan prinsip 5 benar.

–        Cek riwayat alergi obat. Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan keparahan sebelum pengobatan.

–        Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik pertama kali.

–        Berikan analgetik yang tepat waktu terutama saat nyeri hebat.

–        Evaluasi efektivitas analgetik, tandan dan gejala (efek samping).

2. Kurang volume cairan berhubungan dengan mual muntah berlebihan, pengeluaran darah pervaginam diserati dengan gelembung mola.

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan cairan adekuat dan klien (Nutritional Status: Food and luid intake/ status nutrisi: intake makanan dan cairan) dengan kriteria:

1.      Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.

2.      Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas tugor kulit baik, membrane mukosa lembab, tidak ada rasa haus berlebihan.

3.      Klien dapat mempertahankan urin output sesuai dengan usia dan BB.

Manajemen cairan (Fluid management):

–        Pertahankan intake  dari output yang adekuat

–        Monitor status hidrasi (kelembaban membran, nadi akurat dan tekanan darah)

–        Monitor TTV sesuai kebutuhan

–        Monitor masukkan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian.

–        Motivasi keluarga untuk membantu klien makan.

–        Tawarkan snack ( jus buah, buah segar).

–        Kolaborasi dalam pemberian cairan dan makanan.

Monitor Cairan (Fluid Monitoring):

–        Monitor intake dan output

–        Monitor membran mukosa dan tugor kulit.

–        Kelola cairan sesuai kebutuhan.

–        Pertahankan kecepatan pemberian cairan intravena.

3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan, penurunan sirkulasi ditandai dengan klien mengeluh tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan, periode waktu tidur yang meningkat, tampak berabaring ditempat tidur. Setelah dilakukan tindakkan keperawatan diharapkan klien dapat menununjukkan toleransi terhadap aktivitas (Activity Tolerance) dengan kriteria:

–        Klien dapat menentukan aktivitas yang sesuai dengan peningkatan nadi,tekanan darah dan frekuensi napas dalam batas normal.

–        Klien dapat mengidentifikasi aktivitas atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi.

–        Klien dapat mempertahankan warna dan kehangatan kulit dengan aktivitas.

–        Klien melaporkan peningkatan aktivitas harian.

Manejemen energi (energy management)

–        Kaji respon emosi,social dan spiritual terhadap aktivitas.

–        Tentukan penyebab kelelahan

–        Pantau respon oksigen klien.

–        Pantau asupan nutrisi dan pola istirahat.

–        Monitor respon emosional,fisik, social, dan spiritual terhadap aktivitas.

–        Gunakan tehnik relaksasi.

–        Dukung untuk melakukan periode istirahat dengan aktivitas.

–        Rencanakan periode aktivitas saat klien memiliki tenaga.

–        Hindari aktivitas selama periode istirahat.

–        Bantu klien untuk mengidentifakasi aktivitas yang lebih disukai.

–        Berikan pengobatan nyeri sebelum beraktivitas.

–        Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diit tinggi kalori.

4. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat meningkatkan pertahanan tubuh (Immune Status) dengan kriteria:

–        Klien terbebas dari tanda dan gejala infeksi.

–        Klien menunjukkan hygiene pribadai yang adekuat.

–        Klien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.

–        Vulva tidak lembab.

Penegndalian Infeksi (Infection control) dan Pelindungan terhadap infeksi (Infection protection):

–        Pantau tanda/gejala infeksi (misalnya: Suhu tubuh, denyut jantung, penampilan luka, sekresi, penampilan urine, suhu kulit, keletihan dan malaise).

–        Kaji faktor yang meningkatkan seragan infeksi (misalnya: Usia lanjut, status imun menurun dan malnutrisi).

–        Pantau hasil laboratorium (darah lengkap).

–        Pantau hygiene personal untuk perlindungan terhadp infeksi.

–        Jelaskan pada klien/keluarga mengapa sakit dan pengobatan meningkatkan resiko terhadap infeksi.

–        Intruksikan menjaga personal hygiene untuk melindungi tubuh dari infeksi.

–        Ajarkan klien teknik mencuci tangan yang benar.

–        Ajarkan klien dan keluarga tentang tanda-tanda dan gejala dari infeksi.

–        Ajarkan klien dan keluarga bagaimana mencegah infeksi.

–        Ajarkan klien dan keluarga tanda/gejala infeksi dan kapan harus melaporkan ke petugas kesehatan.

–        Bantu klien atau keluarga untuk mengidentifikasi faktor di lingkungan mereka, gaya hidup dan praktik kesehatan yang meningkatkan risiko infeksi.

–        Lindungi klien dari kontaminasi silang dengan tidak menuggaskan perawat yang sama untuk setiap klien infeksi dan memisahkan klien infeksi dalam kamar yang berbeda.

–        Ganti peralatan klien setiap selesai tindakan.

–        Batasi jumlah pengunjung.

–        Gunakan sabun untuk mencuci tangan.

–        Gunakan sarung tangan steril.

–        Lakukan perawatan vulva dan perineum.

5. Cemas berhubungan dengan krisis situasi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan klien mampu mengontrol cemas (Anxiety control) dengan kriteria:

–        Klien dapat memonitori intensitas cemas.

–        Klien dapat menurunkan stimulus lingkungan ketika cemas.

–        Klien menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas.

–        Klien dapat mempertahankan hubungan sosial.

–        Klien dapat mempertahankan konsentrasi.

–        Klien melaporkan tidur adekuat.

–        Ekspresi wajah klien tenang.

Menurunkan cemas (Anxietas Reduction):

–        Bina hubungan saling percaya dengan klien.

–        Kaji tingkat kecemasan klien.

–        Dengarkan klien dengan penuh perhatian.

–        Berusaha memahami keadaan klien.

–        Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat melakukan tindakan.

–        Berikan informasi tentang diaknosa, prognosis dari tindakan.

–        Dampingi klien untuk mengurangi dan meningkatkan kenyamanan.

–        Motivasi klien untuk menyampaikan tentang isi perasaannya.

–        Bantu klien untuk menjelaskan keadaan yang bisa menimbulkan kecemasan.

–        Bantu klien untuk mengungkapkan hal-hal yang membuat cemas.

–        Ajarkan klien untuk relaksasi.

–        Berikan obat-obat yang mengurangi cemas.

 

  • Asuhan Keperawatan Ektopik

 

  1. PENGKAJIAN
  2. Biodata

Mengkaji identitas klien dang penanggung yang meilputi: Nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alamat.

  1. Keluhan utama

Adanya nyeri pada perut kanan atau kiri bawah, nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen.

  1. Riwayat kesehatan
  2. Riwayat kesehatan sekarang

Anamnesis dan gejala klinis, riwayat terlambat haid, gejala dan tanda kehamilan muda, dapat ada atau tidak ada perdarahan per vaginam, ada nyeri perut kanan/kiri bawah. Berat atau ringannya nyeri tergantung pada banyaknya darah yang terkumpul dalam peritoneum.

  1. Riwayat kesehatan masa lalu
  • Riwayat pembedahan

Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan dimana tindakan tersebut berlangsung.

  • Riwayat penyakit yang pernah dialami

Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.

  1. Riwayat kesehatan reproduksi
  2. Riwayat menstruasi

Kaji tentang Menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknhya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluhan yang menyertai.

  1. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas

Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.

  1. Riwayat seksual

Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang pernah digunakan serta keluhan yang menyertainya.

  1. Riwayat pemakaian obat

Kaji riwayat pemakaian obat-obatan kontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

  1. Pola kebiasaan sehari-hari menurut Virginia Henderson
  2. Respirasi

Frekuensi pernafasan meningkat.

  1. Nutris

Biasanya klien mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi karena tidak ada nafsu makan, masukan protein kalori kurang.

  1. Eliminasi

Biasanya klien tidak mengalami gangguan dalam BAK, kadang pada saat BAK disertai pengeluaran darah pervaginam.

  1. Gerak dan keseimbangan tubuh

Pada klien dengan Kehamilan Ektopik Terganggu gerak/aktivitasnya terganggu karena kebiasaan sehari-hari tidak dapat dilakukan/tidak terpenuhi dengan baik.

  1. Istirahat/tidur

Klien biasanya mengalami kesulitan dalam istirahat dan tidurnya karena nyeri pada abdomen kanan atau kiri bawah yang dirasakan.

  1. Kebutuhan personal hygiene

Kebersihan diri merupakan pemeliharaan kesehatan untuk diri sendiri dan dilakukan 2x sehari. Biasanya kebutuhan personal hygiene tidak ada gangguan.

  1. Aktivitas

Pada klien KET biasanya aktivitasnya terganngu karean kebiasaan sehari-hari tidak dapat dilakukan/tidak dapat terpenuhi dengan baik.

  1. Kebutuhan berpakaian

Klien dengan KET tidak mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan berpakaian tersebut.

  1. Mempertahankan temperatur tubuh dan sirkulasi

Klien dengan KET biasanya mengalami gangguan dalam hal temperatur tubuh berupa penurunan suhu tubuh dan sirkulasi berupa penurunan tekanan darah/hipotensi.

  1. Kebutuhan keamanan

Kebutuhan keamanan ini perlu dipertanyakan apakah klien tetap merasa aman dan terlindungi oleh keluarganya. Klien mampu menghindari bahaya dari lingkungan.

 

  1. Sosialisasi

Bagaimana klien mampu berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan, kekhawatiran dan opini.

  1. Kebuthan spritual

Pada kebutuhan spritual ini, tanyakan apakah klien tetap menjalankan ajaran agamanyaataukah terhambat karena keadaan yang sedang dialami.

  1. Kebutuhan bermain dan rekreasi

Klien dengan KET biasanya tidak dapat memenuhi kebutuhan bermain dan rekreasi karena dalam kondisi yang lemah.

  1. Kebutuhan belajar

Bagaimana klien berusaha belajar, menemukan atau memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah pada perkembangan yang normal, kesehatan dan penggunaan fasilitas kesehatan yang tersedia.

  1. Pemeriksaan fisik

Dalam melakukan pemeriksaan fisik, metode yang digunakan adalah pemeriksaan Head To Toe. Pemeriksaan fisik secara head to toe pada klien dengan KET meliputi:

  1. Keadaan umum

Klien dengan KET biasanya keadaan umumnya lemah.

  1. Tanda-tanda vital
  • Tekanan darah: Menurun <100/60 mmHg.
  • Nadi: Meningkat tapi lemah.
  • Suhu: Menurun.
  • Respirasi: Meningkat >20 x/menit.
  1. Kepala
  • Inspeksi: Bersih atau tidaknya, ada atau tidak lesi.
  • Palpasi: Ada atau tidaknya nyeri tekan, krepitasi, masa.
  1. Wajah

Inspeksi: Tampak pucat, ada atau tidak oedema.

  1. Mata

Inspeksi: Konjungtiva tampak pucat (karena adanya perdarahan).

  1. Hidung

Inspeksi: Simetris atau tidak, ada tidaknya polip.

  1. Telinga

Inspeksi: Ada tidaknya peradangan dan lesi.

  1. Mulut

Inspeksi: Periksa apakah bibir pucat atau kering, kelengkapan gigi, ada tidaknya karies gigi.

  1. Leher
  • Inspeksi: Ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid dan limfe.
  • Palpasi: Ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid dan limfe.
  1. Payudara
  • Inspeksi: Ukuran payudara, simetrisitas, dan penampilan kulit. Inspeksi puting terhadap ukuran, bentuk, ada tidaknya ulkus dan kemerahan.
  • Palpasi: Palpasi payudara untuk mengetahui konsistensi dan nyeri tekan.
  1. Thorax
  • Inspeksi: Pergerakan dinding dada, frekuensi, irama, kedalaman dan penggunaan otot bantu pernafasan, ada tidaknya retraksi dinding dada.
  • Palpasi: Ada tidaknya nyeri tekan dan krepitasi vokal premitus.
  • Perkusi: Kenormalan organ intra thorax.
  • Auskultas: Ada tidaknya suara nafas tambahan.
  1. Abdomen
  • Inspeksi: Pembesaran perut disalah satu sisi dimana lokasi KET, perdarahan pervaginam.
  • Auskultasi: Bising usus normal.
  • Palpasi: Pembesaran abdomen ke salah satu sisi dimana lokasi KET.
  • Perkusi: Suara normal timfani, untuk mengetahui suara normalnya bila masih ada sisi hasil konsepsi yang pelum dikeluarkan maka suara akan berubah menjadi lebih pekak.
  1. Genetalia
  • Inspeksi: Perdarahan pervaginam, kondisi vulva lembab.
  • Pemeriksaan dalam: Serviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan kiri.
  1. Ekstremitas atas
  • Inspeksi: Ada tidaknya infus yang terpasang.
  • Palpasi: CRT (Capilary Refile Time) memanjang bila perdarahan.
  1. Ekstremitas bawah
  • Inspeksi: Ada tidaknya deformitas.
  • Palpasi: Akral (perdarahan biasanya disertai dengan akral dingin).
  1. Pemeriksaan penunjang
  • Laboratorium: Hb, Leukosit, urine B-hCG (+)

Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat meningkat.

  • USG
  1. Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri.
  2. Adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri.
  3. Adanya massa komplek di rongga panggul.
  • Kuldosentesis

Suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah.

 

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  2. Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran buah kehamilan extrauterin.
  3. Risiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan intrauteri.
  4. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kesuburan yang mengancam.
  5. Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan klien menyangkal kehilangan, klien mengungkapkan rasa bersalah, klien tampak sedih, adanya perubahan aktivitas, perubahan kebiasaan.

 

  1. RENCANA KEPERAWATAN

Rencana Keperawatan Klien dengan Kehamilan Ektopik Terganggu

No Dx. Kep Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
(1) (2) (3) (4)
1. Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran buah kehamilan extrauterin. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat:

1.      Mengontrol nyeri (Pain contro) dengan kriteria:

a.       Klien dapat mengetahui penyebab nyeri, onset nyeri.

b.      Klien mampu menggukan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri, dan tindakan pencegahan nyeri.

c.       Klien mampu mengenal tanda-tanda pencetus nyeri untuk mencari pertolongan.

d.      Klien melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.

2.      Menunjukan tingkat nyeri (Pain Level) dengan kriteria:

a.       Klien melaporkan penurunan nyeri dan pengaruhnya pada tubuh.

b.      Klien mengenal skala, intensitas, frekuensi dan lamanya episode nyeri.

c.       Klien mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

d.      Tanda-tanda vital dalam batas normal.

e.       Ekspresi wajah tenang.

Manajement nyeri

(Pain management):

–        kaji secara komprehensif tentang nyeri, meliputi: lokais, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, dan faktor presipitasi.

–        Observasi isyarat-isyarat non verbal dan ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif.

–        Gunakan komunikasi terapeutik agak klien dapat mengekspresikan nyeri.

–        Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup. Pola tidur, nafsu makan, aktivitas kognisi, mood, relationship, pekerjaan, tanggung jawab peran.

–        Berikan informasi tentang nyeri, seperti: Penyebab, berapa lama terjadi dan tindakan pencegahan.

–        Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan (misalnya: Temperatur ruangan, penyinaran dan lain-lain).

–        Anjurkan klien untuk memonitor sendiri nyeri.

–        Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup.

–        Ajarkan penggguanaan teknik non farmakologi (misalnya: Relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi dan massase).

–        Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri.

–        Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon klien.

–        Anjurkan klien untuk derdiskusi tentang pengalaman nyeri secara tepat.

–        Monitor kenyamanan klien terhadap manajemen nyeri.

–        Hilangkan faktor yang dapat meningkatkan pengalaman nyeri (misalnya: Rasa takut, kelelahan dan kurangnya pengetahuan).

–        Libatkan keluarga untuk mengurangi nyeri.

–        Informasikan kepada tim kesehatan lainnya/anggota keluarga saat tindakan nonfarmakologi dilakukan, untuk pendekatan preventif.

Pemberaian Analgetik

(Analgetic Adminnistration):

–        Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan keparahan sebelum pengobatan.

–        Berikan obat dengan prinsip 5 benar.

–        Cek riwayat alergi obat.

–        Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dn keparahan sebelum pengobatan.

–        Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemb erian analgetik pertama kali.

–        Berikan analgetik yang tepat waktu terutama saat nyeri hebat.

–        Evaluasi efektivitas analgetik, tanda dan gejala (efek samping).

2. Risiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan intrauteri. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan tidak terjadi syok hipovolemik dengan kriteria:

–        Tanda-tanda vital dalam bats normal.

–        Turgor kulit baik.

–        Tidak ada sianosis.

–        Suhu kulit hangat.

–        Tidak ada diaporesis.

–        Mambran mukosa kemerahan.

Manajemen syok hipovolemik (Hypovolemia Management):

–        Kaji adanya perdarahan intrauterin.

–        Kaji warna kulit, suhu, adanya sianosis, nadi perifer dan diaporesis secara teratur.

–        Pantau frekuensi dan irama jantung.

–        Pantau status cairan, termasuk intake dan output sesuai kebutuhan.

–        Monitor kadar hemoglobin dan hematokrit.

–        Monitor kehilangan cairan (seperti: Perdarahan, muntah, diare, penguapan dan takipneu).

–        Monitor tanda-tanda vital sesuai kebutuhan.

–        Monitor respon klien terhadap perubahan cairan.

–        Kelola pemberian caiaran hipotonik seperti (Dekstrose 5%) untuk rehidrasi sesuai kebutuhan.

–        Kelola pemberian cairan isotonik seperti: NaCl, Ringer Laktat untuk rehidrasi cairan ekstraselular.

–        Kombinasikan cairan kristaloid (seperti: NaCl dan Ringer Lakta) dan cairan koloid (seperti: Plasma) untuk pengganti volume intravaskuler.

–        Dorong intake cairan per oral.

–        Pertahankan pemberian cairan secara vena.

–        Kelola pemberian transfusi.

–        Monitor reaksi transfusi sesuai kebutuhan.

–        Atur posisi klien trendelenburg jika klien hipotensi sesuai kebutuhan.

–        Monitor tanda dan gejala over hidrasi.

–        Monitor tanda dan gejala gagal ginjal (seperti: Peningkatan BUN, peningkatan kreatinan, penurunan output).

3. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kesuburan yang mengancam. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x24 jam klien mampu mengontrol cemas (Anxiety Control), dengan kriteria:

–        Klien dapat memonitor intensitas cemas.

–        Klien dapat menurunkan stimulus lingkungan ketikaa cemas.

–        Klien mencari informasi yaang menurunkan cemas.

–        Klien menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas.

–        Klien dapat mempertahankan hubungan sosial.

–        Klien dapat mempertahankan konsentrasi.

–        Klien melaporkan tidur adekuat.

–        Ekspresi wajah klien tenang.

Menurunkaan cemas (Anxietas Reduction):

–        Bina hubungan saling percaya dengan klien.

–        Kaji tingkat kecemasan klien.

–        Dengarkan klien dengan penuh perhatian.

–        Berusaha memahami keadaan klien.

–        Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat melakukan tindakan.

–        Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis dan tindakan.

–        Dampingi klien untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kecemasan.

–        Motivasi klien untuk menyampaikan tentang isi perasaannya.

–        Bantu klien menjelaskan keadaan yang bisa menimbulkan kecemasan.

–        Bantu klien untuk mengungkapkan hal-hal yang membuat cemas.

–        Ajarkan klien teknik relaksasi.

–        Berikan obat yang mengurangi cemas.

4. Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan klien menyangkal kehilangan, klien tampak sedih, adanya perubahan aktivitas, perubahan kebiasaan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien akan memperoleh kepuasan mengatasi berduka ditunjukkan dengan keberhasilan koping, penyelesaian duka cita dan penyesuaian psikososial. Perubahan kehidupan dengan kriteria:

–        Klien melaporkan keadekuatan asupan makanan dan cairan.

–        Klien melaporkan keadekuatan dukungan sosial.

–        Klien menyatakan duka cita secara verbal.

–        Klien menyatakan arti dari kehilangan secara verbal.

Fasilitas Penyelesaian Duka Cita (Griel Work Facilitation) dan Fasilitas Penyelesaian Duka Cita: Kematian Perinatal (Grief Work Facilitation: Perinatal Death):

–        Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga.

–        Bantu klien untuk mengidentifikasi reaksi awal dari kehilangan.

–        Dukung klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangannya.

–        Kaji dan dokumentasikan keberadaan sumber berduka klien.

–        Berikan informasi pada klien/keluarga tentang rumah sakit dan sumber-sumber di komunitas.

–        Bantu klien untuk mengklarifikasi mis konsepsi.

–        Dengarkan ekspresi berduka klien.

–        Dukung klien untuk mengungkapkan kenangan dari kehilangan yang sekarang.

–        Buat kalimat empati tentang proses berduka.

–        Bantu klien untuk mengidengtifikasi strategi koping individu.

–        Komunikasikan penerimaan dari diskusi tentang kehilangan.

–        Pahami reaksi berduka klien dan keluarga pada saat melanjutkan aktivitas perawatan yang diperlukan.

–        Diskusikan dengan klien/keluarga dampak dari kehilangan pada unit keluarga dan fungsinya.

–        Cegah konfrontasi dari penolakan, pada saat yang sama, jangan menguatkan penyangkalan.

–        Seimbangkan kesalahpahaman dengan realitas.

–        Dukung kemandirian dalam mmelakukan perawatan diri, membantu klien  ila hanya diperlukan.

–        Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga.

–        Bantu klien/keluarga untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses membuat keputusan.

–        Beri lingkungan yang aman terlindungi dan memiliki privasi untuk memfasilitasi proses berduka klien/keluarga.