MAKALAH

“BAGAIMANA AGAMA MENJAMIN KEBAHAGIAAN“

DISUSUN OLEH: Gue

Jl. Surya Kencana No.1 Pamulang-Tangerang Selatan Telpon :(021) 741256

 

 

 

 

Kata Pengantar

 

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan Inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan penyusunan makalah pendidikan agama islam dengan judul “Bagaimana Agama Menjamin Kebahagiaan” tepat pada waktunya.

Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam merampungkan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.

Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para pembaca untuk mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.

 

 

Tangerang, 30 Maret 2017

 

 

Penyusun

 

 

 

 

Daftar Isi

 

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Menelusuri Konsep dan Karakteristik Agama sebagai Jalan Menuju Tuhan dan Kebahagiaan

2.2 Menanyakan Alasan Mengapa Manusia Harus Beragama dan Bagaimana Agama Dapat Membahagiakan Umat Manusia?

2.3 Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis, dan Pedagogis tentang Pemikiran Agama sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

2.4 Membangun Argumen tentang Tauḫīdullāh sebagai Satu-satunya Model Beragama yang Benar

BAB III

KESIMPULAN

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Kebahagiaan dalam Islam adalah kebahagiaan autentik artinya lahir dan tumbuh dari nilai-nilai  hakiki Islam dan mewujud dalam diri seseorang hamba yang mampu menunjukkan sikap tobat (melakukan introspeksi dan koreksi  diri) untuk selalu berpegang pada nilai-nilai  kebenaran ilahiah, mensyukuri karunia Allah berupa nikmat iman, Islam, dan kehidupan,   serta menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan keadilan dalam menjalani kehidupan pribadi, sosial, dan profesional. Pada sisi lain, kebahagiaan itu menjadi tidak lengkap jika  tidak mewujud dalam kehidupan konkret dengan jalan membahagiakan orang lain.

Tak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sedikit orang yang mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Hidup bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan. Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan tersebut, yaitu bagaimana meraih kebahagiaan hidup. Dan ini menjadi cita-cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah.

Apabila kebahagiaan itu terletak pada harta benda yang bertumpuk-tumpuk, mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Nyatanya, itu tak pernah diraih dan  membuat pengorbanannya sia-sia. Apabila kebahagiaan itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, mereka juga telah siap mengorbankan apa saja demi memperoleh apa yang diinginkannya. Tapi tetap saja kebahagiaan itu tidak pernah didapatkannya. Apabila kebahagiaan itu terletak pada ketenaran nama, mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga dan mereka tidak mendapati apa yang disebut kebahagiaan.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1                  Menelusuri Konsep dan Karakteristik Agama sebagai  Jalan Menuju Tuhan dan Kebahagiaan

Kebahagiaan dalam Islam adalah kebahagiaan autentik artinya lahir dan tumbuh dari nilai-nilai  hakiki Islam dan mewujud dalam diri seseorang hamba yang mampu menunjukkan sikap tobat (melakukan introspeksi dan koreksi  diri) untuk selalu berpegang pada nilai-nilai  kebenaran ilahiah, mensyukuri karunia Allah berupa nikmat iman, Islam, dan kehidupan,   serta menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan keadilan dalam menjalani kehidupan pribadi, sosial, dan profesional. Pada sisi lain, kebahagiaan itu menjadi tidak lengkap jika  tidak mewujud dalam kehidupan konkret dengan jalan membahagiakan orang lain.

 

Berikut pendapat dari beberapa ahli mengenai makna kebahagiaan:

  1. Al-Alusi : bahagia adalah perasaan senang dan gembira karena bisa mencapai keinginan atau cita-cita yang dituju dan diharapkan
  2. Ibnul Qayyim al-Jauziyah : kebahagiaan adalah perasaan senang dan tentram karena hati sehat dan ber!ungsi dengan baik.
  3. Al Ghazali: bahagia terbagi menjadi dua antara lain:
    • Bahagia hakiki adalah kebahagiaan ukhrawi yang dapat diperoleh dengan modal iman, ilmu dan amal.
    • Bahagia majusi adalah kebahagiaan duniawi yang dapat diperoleh baik itu orang yang beriman maupun yang tidak beriman

 

Beberapa karakteristik hati yang sehat diantaranya:

  1. Selalu beriman kepada Allah dan menjadikan Al Qur’an sebagai obat untuk hati.
  2. Selalu berorientasi ke masa depan dan akhirat.
  3. Selalu mendorong pemiliknya untuk kembali kepada Allah.
  4. Selalu mengingat Allah.
  5. Selalu menyadarkan diri apabila melupakan Allah karena urusan dunia.
  6. Selalu mendapatkan ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan ketika menjalankan sholat.
  7. Selalu memperhatikan waktu agar tidak terbuang sia-sia.
  8. Selalu berorientasi kepada kualitas amal selama hidup.

 

 

2.2                   Menanyakan Alasan Mengapa Manusia Harus Beragama dan Bagaimana Agama Dapat Membahagiakan Umat Manusia?

Kunci beragama berada pada fitrah manusia. Fitrah itu sesuatu yang  melekat  dalamdiri  manusia  dan  telah  menjadi  karakter  (tabiat) manusia.Kata “fitrah”secara  kebahasaan  memang  asal  maknanya adalah suci. Yang dimaksud suci adalah suci  dari  dosa  dan suci secara  genetis Meminjam term Prof. Udin  Winataputra,fitrah adalah lahir  dengan membawa iman. Berbeda dengan konsep teologi  Islam, teologi tertentu berpendapat sebaliknya yaitu bahwa  setiap manusia lahir  telah membawa dosa yakni dosa warisan. Didunia, menurut teologi ini,manusia dibebanitugas yaitu harus membebaskan diri dari dosa itu. Adapun dalam teologi Islam, seperti telah dijelaskan,bahwa setiap manusia lahir  dalam kesucian yakni suci dari dosa dan telah beragama yakni agama Islam.Tugas  manusia adalah berupaya agar kesucian dan keimanan terus terjaga dalam hatinya hingga kembali kepada Allah.

 

 

2.3      Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis, dan  Pedagogis tentang Pemikiran Agama sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan.

Secara teologis,beragama itu adalah fitrah. Jika manusia hidup sesuai  dengan  fitrahnya, maka ia akan bahagia. Sebaliknya, jika ia hidup  tidak  sesuai  dengan  fitrahnya, maka ia tidak akan bahagia. Secara historis, pada sepanjang sejarah hidup manusia, beragama itu merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki.  Banyak buku membicarakan atau mengulas kisah manusia mencari Tuhan. Umpamanya buku yang ditulis oleh Ibnu Thufail. Buku ini menguraikan bahwa kebenaran bisa  ditemukan manakala ada keserasian antara akal  manusia dan wahyu. Dengan  akalnya, manusia mencari Tuhan dan bisa sampai kepada Tuhan. Namun, penemuannya itu  perlu konfirmasi dari Tuhan melalui wahyu, agar ia dapat menemukan yang hakiki dan akhirnya ia bisa berterima kasih kepada Tuhan atas segala nikmat  yang  diperolehnya  terutama nikmat bisa  menemukan Tuhan dengan akalnya itu.

 

Secara horizontal, manusia butuh berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungannya  baik flora maupun fauna. Secara vertikal manusia lebih butuh berinteraksi dengan Zat yang menjadi sebab ada dirinya. Manusia dapat wujud/  tercipta bukan oleh dirinya sendiri, namun oleh yang lain. Yang menjadi sebab wujud manusia tentulah harus   Zat Yang Wujud  dengan  sendirinya sehingga  tidak membutuhkan yang lain. Zat yang wujud dengan sendirinya  disebut  wujud  hakiki, sedangkan suatu  perkara  yang wujudnya  tegantung  kepada yang lain sebenarnya tidak ada/ tidak  berwujud.

 

Kalau perkara itu mau disebut ada (berwujud), maka adalah wujud idhāfī. Wujud idhāfī sangat tergantung kepada wujud  hakiki. Itulah  sebabnya, manusia yang sebenarnya adalah wujud idhāfī yang sangat membutuhkan Zat yang berwujud secara hakiki, itulah  Allah. Jadi, manusia sangat membutuhkan Allah. Allahlah yang menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan, mengayakan,memiskinkan, dan Dialah Allah Yang Zahir Yang Batin, dan Yang Berkuasa atas segala sesuatu.

 

 

2.4      Membangun Argumen tentang Tauḫīdullāh sebagai Satu-satunya Model Beragama yang Benar

Sebagaimana  telah diketahui  bahwa  misi  utama  Rasulullah saw., seperti halnya rasul-rasul yang sebelum beliau adalah mengajak manusia kepada Allah. Lāilāha illallāhitulah landasan teologis agama yang  dibawa  oleh  Rasulullah  dan  oleh  semua  para nabi  dan  rasul. Makna kalimat tersebut adalah “Tidak ada Tuhan kecuali Allah;”  “Tidak ada  yang berhak  disembah  kecuali  Allah;” “Tidak  ada  yang  dicintai kecuali Allah;” “Tidak  ada  yang berhak  dimintai tolong/bantuan kecuali Allah;” “Tidak ada yang harus dituju kecuali Allah;” “Tidak ada yang  harus  ditakuti  kecuali  Allah;” “Tidak  ada  yang  harus  diminta ridanya kecuali Allah”. Tauḫīdullāh menempatkan  manusia  pada  tempat yang  bermartabat,  tidak  menghambarkan  diri  kepada  makhluk  yang lebih  rendah  derajatnya daripada manusia.  Manusia  adalah  makhluk yang  paling  mulia dan paling  sempurna  dibanding  dengan  makhluk-makhluk  Allah  yang  lain.  Itulah  sebabnya, Allah memberikan  amanah kepada  manusia.  Manusia   adalah   roh   alam,  Allah menciptakan  alam  karena  Allah  menciptakan  manusia  sempurna (insan kamil).

 

Tauḫīdullāh adalah barometer kebenaran agama-agama sebelum  Islam. Jika  agama samawi yang dibawa oleh nabi-nabi sebelum  Muhammad saw.masih tauḫīdullāh, maka  agama  itu  benar, dan seandainya agama nabi-nabi sebelum Muhammad saw.itu sudah tidak tauḫīdullāh yakni  sudah  ada  syirik,  unsur  menyekutukan  Allah, maka  dengan  terang  benderang  agama itu  telah melenceng, salah, dan sesat-menyesatkan. Agama yang dibawa para nabi pun namanya Islam.

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Tujuan hidup manusia adalah sejahtera di dunia dan bahagia diakhirat.  Dengan  kata lain,dapat  disebutkan  bahagia  di  dunia  dan bahagia  diakhirat.  Kebahagiaan  yang  diimpikan  adalah  kebahagiaan duniawi dan  ukhrawi.  Untuk  menggapai   kebahagiaan   termaksud mustahil  tanpa landasan agama.  Agama  dimaksud  adalah  agama tauḫīdullāh. Kebahagiaan dalam Islam adalah kebahagiaan autentik artinya lahir dan tumbuh dari nilai-nilai  hakiki Islam dan mewujud dalam diri seseorang hamba yang mampu menunjukkan sikap tobat (melakukan introspeksi dan koreksi  diri) untuk selalu berpegang pada nilai-nilai  kebenaran ilahiah, mensyukuri karunia Allah berupa nikmat iman, Islam, dan kehidupan,   serta menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan keadilan dalam menjalani kehidupan pribadi, sosial, dan profesional.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s